
"Kak, sejak kapan kakak mau bermain hal seperti ini. Aku tidak yakin kakak bisa memasukkannya," meremehkan Luciana secara terang-terangan.
"Kau mencoba meremehkan kakakmu ini, tunggu dan lihatlah caraku bermain," jawab Luciana sambil tersenyum miring dan membeli gelang tersebut.
Luciana langsung bersiap-siap memasukkan gelang tersebut ke sasarannya dan apa yang terjadi, semua gelang yang dimasukkan oleh Luciana tepat sasaran dan tidak ada yang tidak masuk sama sekali, semuanya masuk ke dalam sasaran.
Sontak baby Bing dan Alvino yang melihatnya pun tercengang. Luciana membalikkan badannya dan mengkibaskan rambutnya, "bagaimana, masih mau meremehkan seorang wanita?" tanya Luciana sambil melipat kedua tangannya.
Alvino dan baby Bing menggelengkan kepalanya, lalu mereka berdua bertepuk datang untuk Luciana, "mami benar-benar hebat. Mantap mami," sorak baby Bing, sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Benar itu, kakak benar-benar hebat deh. Kalau begitu, kita dapat hadiah Bing," ikut bahagia Alvino dan hadiah sepeda yang diinginkan baby Bing akhirnya ia dapatkan karena Luciana. Mereka juga mendapatkan hadiah lainnya.
"Sekarang, kita mau coba permainan apa nih?" tanya Luciana sambil memegang boneka beruang yang ia dapatkan dari bermain lempar gelang.
"Bagaimana kalau kita naik kuda-kudaan ma, itu yang berputar kencang itu. Ada yang untuk anak-anak dan dewasa, bagaimana ma, Om," jawab baby Bing sambil menunjuk wahana tersebut.
"Baiklah, siapa takut. Sepertinya itu menyenangkan, benar kan Alvino," ucapnya kepada Alvino.
"Aku tidak mau deh, sepertinya itu sangat berbahaya deh. Bagaimana kalau kita mencoba wahana lainnya kan masih banyak yang seru dan menyenangkan," jawab Alvino yang takut menaiki kuda yang berkecepatan tinggi untuk dewasa.
"Halah, kau ini, sudah besar masa bertingkah seperti itu. Cepat," langsung menarik tangan Alvino dan mereka langsung menuju wahana yang diajak oleh baby Bing.
Sesampainya di wahana tersebut, Luciana langsung membeli tiket tiga orang, satu untuk anak kecil dan dua untuk orang dewasa.
"Aku tidak mau kak, aku takut!" teriak Alvino sambil memeluk tiang yang ada disampingnya.
"Jangan manja deh, banyak orang yang melihatmu tahu. Masa kau tidak malu, yuklah," kembali menarik tangan Alvino dan mereka mulai menaiki wahana kuda-kudaan bagian orang dewasa.
"Kamu hati-hati ya sayang mami. Kalau kamu mau berhenti, bilang saja sama Om wahananya. Kamu paham kan sayang," ucap Luciana yang sudah menaiki kuda-kudaan tersebut.
"Aman mami sayang. Bing kan gak takut, emang kayak Om Alvino tuh penakut. Hahahah," jawab baby Bing sambil tertawa mengejek Alvino.
__ADS_1
"Siapa yang takut. Kalau begitu, cepat nyalakan mesin pemutarnya pak," teriak Alvino kembali dan mesin wahana tersebut mulai dinyalakan.
Kuda tersebut langsung berputar pelan-pelan dan mulai sedikit kencang. Alvino terus memeluk kuda-kudaan tersebut dengan erat, sambil menutup kedua matanya, "argh, ibu!" terus berteriak Alvino.
"Argh, ini menyenangkan. Wohhh," teriak Luciana dengan bahagia dan rambutnya berkibasan dengan kencang.
"Wuhhh, benar-benar menyenangkan. Baru kali ini aku mencoba wahana seasik ini. Lanjut pak!" teriak Luciana juga, sambil tertawa bahagia.
"Hahahah, Om Alvino ketakutan. Hahahah, penakut Om Alvino," ejek baby Bing yang wahananya juga sudah berputar.
"Diamlah, tolong berhenti. Aku ketakutan, berhenti!" terus berteriak Alvino.
"Jangan pak, lanjutkan pak. Wuhhhh," sahut Luciana menikmati wahana tersebut.
1 Jam pun berlalu, di mana mereka bertiga sudah selesai bermain wahana kuda-kudaan tersebut dan Alvino sedang muntah-muntah di semak-semak, "sudah dong Om, dari tadi muntah saja. Hanya wahana begitu saja sudah sampai seperti ini. Lebay Om Alvino ini," ejek baby Bing kembali, sambil tersenyum miring.
"Diamlah kamu anak kecil. Kamu hanya menaiki wahana yang tingkat kecepatannya hanya sedikit, sedangkan Om menaiki wahana yang tingkat kecepatannya begitu tinggi. Jantung Om hampir copot karena menaiki wahana itu," jawab Alvino mengusap bibirnya yang sedikit kotor.
"Mau," serentak Alvino dan baby Bing.
"Kalau begitu, mari kita membeli minuman dulu, baru kita membeli makanan yang bisa mengenyangkan perut. Mari," sorak Luciana dan mereka langsung berdiri di belakang Luciana bersamaan.
Merekapun langsung membeli minuman dingin, karena mereka bertiga sedikit keringatan, setelah menikmati wahana yang begitu menegangkan.
"Ma, minuman mami seperti enak. Apa Bing boleh mencobanya?" tanya baby Bing yang duduk disampingnya dan ingin mencoba minuman yang diminum oleh Luciana.
"Boleh sayang, nih kamu coba minuman mami," langsung memberikannya kepada baby Bing dan Luciana mengambil minuman yang dipegang oleh baby Bing.
"Apa kamu tidak mau mencoba minuman Om. Minuman Om juga enak nih?" menawarkan baby Bing dan menunjukkan minumannya.
"Males sih, enakan juga minuman mamiku. Wle," mengejeknya kembali, dengan mengeluarkan lidahnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan seperti itu. Kalau begitu, kamu makan bakso ini, ini juga enak sayang," mengeluarkan bakso tersebut dari kemasannya.
"Punyaku mana kak?" tanya Alvino sambil menatap wajah Luciana yang sedang menyuapi baby Bing bakso tersebut.
"Punya kamu kan ada dipastik, ambil saja," jawab Luciana sambil memakan bakso tersebut.
Selesai makan bersama dan menikmati minuman yang mereka beli. Mereka bertiga bergegas pulang.
Di perjalanan, "bagaimana dengan hari ini. Apa menyenangkan?" tanya Luciana terus tersenyum kepada baby Bing.
"Seru banget ma. Lain kali ajak papi juga ya ma, biar lebih seru," jawab baby Bing ikut tersenyum dan ia langsung memeluk Luciana dari samping.
Saat di tengah jalan, tiba-tiba saja mobil Alvino mogok dan mobil pun berhenti di tengah jalan, "eh, ada apa Alvino. Kenapa mobilnya berhenti tiba-tiba?" tanya Luciana sambil menaikkan alisnya.
"Gak tahu kak, sepertinya ada yang rusak deh. Sebentar, aku cek keluar dulu," jawab Alvino langsung keluar dari mobil dan mengecek keadaan mobil.
"Ma, kenapa di sini gelap banget. Apa kita berada di tengah jalan?" tanya baby Bing yang sedikit ketakutan dan ia kembali memeluk baby Bing.
"Iya sayang kan ini sudah malam juga, jadi jalannya sepi sayang. Kamu jangan takut kan ada mami di sini sayang. Mami akan melindungi kamu," jawab Luciana mengelus rambut dan punggung baby Bing dengan lembut.
Saat Alvino sedang memperbaiki mesin di mobil. Tiba-tiba saja ada segerombolan preman yang mengendarai motor dan mereka mengelilingi mobil Alvino, sambil mengeraskan suara knalpot tersebut.
"Ma, mereka siapa ma. Kenapa mereka berisik sekali dan wajah mereka menyeramkan ma?" tanya baby Bing kembali ketakutan.
"Kamu jangan takut sayang, ada mami di sini sayang," kembali menenangkan suasana hati baby Bing yang ketakutan.
Di luar mobil, "hei, siapa kalian. Turun kalian semua, turun!" tegas Alvino kepada preman-preman tersebut.
Preman tersebut langsung berhenti dan turun dari motornya masing-masing. Preman tersebut berjumlah 5 orang dan mereka langsung menghampiri Alvino, "serahkan wanita yang bernama Luciana itu. Kami membutuhkannya!" tegas bos preman tersebut, sambil mendorong Alvino.
Disisi lain, di mana Leonathan sudah pulang dari pekerjaannya dan sedang santai di ruang tamu, "kenapa perasaanku gak enak gini ya," ucap Leonathan sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1