
"Permintaan macam apa itu. Tidak mungkin aku dan Luciana akan memiliki anak. Aku tidak mencintainya sama sekali." Ucap Leonathan sambil menyilangkan kakinya.
"Maksud tuan apa ya. Kenapa tuan berkata seperti itu. Bukannya tuan dan nyonya sangat serasi dan romantis?." Kebingungan pak Stefan.
"Sebenarnya, aku dan Luciana, hanya nikah kontrak saja. Aku sama sekali tidak mencintainya." Jawab jujur Leonathan.
"Hah, maksud tuan, anda dan nyonya hanya nikah kontrak saja, dan tanpa dasar cinta gitu. Tapi kalau saya lihat tuan. Anda dan nyonya sangat romantis." Ucap pak Stefan yang masih bingung.
"Itu semua hanya akting. Agar orang orang tidak curiga dengan kami, kalau kami hanya sepasang suami istri diatas kertas. Dia bukan tipeku, dan dia hanya aku gunakan saja untuk baby Bing. Aku sama sekali tidak mencintainya." Jawab Leonathan dengan jujur, dan ia tidak tahu, bahwa di luar ruangannya, ada Luciana yang mendengar semuanya.
"Tapi kau ingat Stefan. Jangan mengatakan ini kepada siapapun. Hanya kaulah yang aku beritahu." Perintah Leonathan.
"Baik tuan," menunduk pak Stefan.
Di luar ruangan. Luciana terdiam dan menundukkan kepalanya. Tiba tiba saja air matanya keluar. "Sebegitunya aku dimata kamu Leonathan. Apa aku memang tidak bisa menjadi wanita yang kamu inginkan. Kamu hanya menggunakan aku seperti barang. Baru kali ini aku sangat sakit hati dengan ucapannya." Ucap batin Luciana terus meneteskan air matanya, sambil memegang erat cake ditangannya.
"Melihat kebahagiaanmu adalah bentuk, bahwa aku sangat tulus mencintaimu. Meskipun bukan aku yang ada dihatimu." Ucap batin Luciana kembali, sambil mengusap air matanya.
Luciana pun menghela nafas panjang, dan mengetuk pintu tersebut. "Sayang, apa kamu ada di dalam?." Berpura pura tidak tahu.
"Tuan, itu nyonya Luciana." Ucap pak Stefan kepadanya.
"Tolong kau bukakan, dan setelah itu kau keluar dulu." Jawab Leonathan, dan pak Stefan langsung membukakan pintu tersebut.
"Salam nyonya. Silahkan masuk," mempersilahkan masuk.
Luciana pun masuk ke dalam, dan pak Stefan menunggu di luar, setelah pintu di tutup kembali. "Ada apa?." Tanya Leonathan sambil menatapnya.
"Eh, kenapa dengan matamu. Apa kau habis menangis?." Tanya Leonathan langsung menyadarinya.
"Ini bukan apa apa kok. Hanya kelilipan saja, nanti baik kok." Jawab Luciana masih bisa tersenyum dan berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Tidak mungkin kelilipan hewan sampai seperti itu. Seperti ada yang Luciana sembunyikan." Ucap batin Leonathan.
"Aku mau mengantarkan cake untuk kamu sayang. Aku buatkan khusus untuk kamu, dan tadi sudah aku berikan untuk Bing juga, biar dia cepat sehat. Dimakan ya sayang, dan aku pergi dulu." Ucap Luciana, tidak mau menatap wajah Leonathan.
"Sepertinya dia benar benar punya masalah denganku. Sampai dia terus mengalihkan wajahnya dariku." Ucap batin Leonathan kembali, langsung menghampiri Luciana, dan merangkulnya.
Sontak Luciana kaget, dan langsung menatap wajah Leonathan. "Kau kenapa tidak memalingkan wajah mu terus. Ada apa denganmu?." Tanya Leonathan mendekat.
Luciana pun melepaskan pelukan tersebut, "bukan apa apa. Kalau begitu, aku pergi dulu." Jawab Luciana kembali mengusap air matanya, dan keluar dari ruang kerja Leonathan.
"Sepertinya dugaanku benar. Luciana sedang memiliki masalah. Tapi tidak mau cerita denganku. Aku harus selidiki." Dalam hati Leonathan, sambil duduk kembali, dan mencoba cake buatan Luciana.
Luciana masuk ke dalam kamar Leonathan, untuk mengambil pakaiannya dan barang barang miliknya. Setelah itu, Luciana pun masuk ke dalam kamarnya sendiri, dan berpisah kamar dari Leonathan. Luciana pun mengunci pintunya, dan duduk di dekat jendela.
"Apa selamanya Leonathan tidak akan pernah mencintaiku. Apa kau tidak ada ruang lagi dihatinya." Berkaca kaca matanya, dan langsung mengusapnya, agar tidak jatuh.
Luciana pun mengambil buku diary miliknya, dan mencatat sesuatu tentang kejadian hari ini.
Luciana pun langsung turun ke bawah, dan menuju dapur. Sesampainya, ternyata bibi dapur sudah membuatkan makan malam untuk mereka.
"Bibi sudah buat makan malam?." Tanya Luciana sambil tersenyum.
"Sudah nyonya. Apa nyonya mau makan sekarang?." Jawab bibi, sekaligus bertanya.
"Saya mau ambil bagian saya sama anak saya bi. Saya mau makan sendiri saja di kamar." Jawab Luciana langsung mengambil bagiannya, dan bagian baby Bing.
Setelah itu, Luciana menuju baby Bing, sambil membawa dua piring makan malam. Sesampainya di kamar baby Bing. Luciana pun mengetuk pintunya, dan pintu terbuka, oleh baby Bing.
"Mami, ada apa mi?." Tanya baby Bing langsung, dan Luciana masuk duluan ke dalam.
"Mau menyuapi kamu sayang. Kamu kan belum makan malam. Jadi kamu harus makan dulu, biar kamu sehat sayang." Jawab Luciana meletakkan piringnya, dan memegang piring baby Bing, lalu duduk di atas tempat tidur baby Bing.
__ADS_1
Baby Bing pun ikutan duduk disamping Luciana. "Kalau begitu, suapi mi." Meminta Luciana.
Luciana pun memberikannya minum air putih terlebih dahulu, dan setelah itu, Luciana pun langsung menyuapi baby Bing.
"Kenapa kita tidak makan di meja makan mi?." Tanya baby Bing yang sedikit bingung.
"Mami lagi gak mau berbicara dengan papi kamu. Oh ya sayang, apa mami kelihatannya jelek?." Jawab Luciana sekaligus bertanya.
"Siapa yang bilang mami jelek. Mami sangat cantik. Bahkan bidadari pun kalah dari mami. Mami benar benar indah." Jawab baby Bing sambil memeluk Luciana kembali.
"Terima kasih banyak sayang. Kalau begitu, cepat habiskan makanan ini." Ucap Luciana ikut tersenyum.
Selesai makan. Luciana pun menbersihkan bibir baby Bing yang sedikit kotor, dan baby Bing langsung berbaring, dan Luciana menyelimutinya.
"Tidurlah dengan nyenyak sayang. Ibu mau masuk ke kamar dulu." Mengecup kening baby Bing, dan langsung keluar dari kamar baby Bing, lalu menuju kamarnya sendiri.
Luciana pun mengunci kamarnya, dan duduk di kursi. Luciana langsung menyantap makan malamnya, dan meminum air putih yang ada di kamarnya.
"Benar benar menyebalkan. Sudahlah, tidak perlu diingat, dan lebih baik aku lampiaskan amarahku di buku diary ku saja." Ucap batin Luciana sambil mengunyah makanannya.
Disisi lain. Leonathan pun baru pulang dari perusahaan, dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Salam tuan," sapa semua pelayan yang ada.
Leonathan melihat sekitar, dan sangat sepi. Hanya ada pelayan. "Dimana Luciana bi?." Tanya Leonathan membuka sepatunya.
"Nyonya sudah makan duluan di kamar tuan Bing. Katanya nyonya mau makan sendiri, dan tidak ingin diganggu." Jawab bibi tersebut, sambil tersenyum.
"Ada apa dengannya. Aku harus mengecek kamar baby Bing." Ucap Leonathan menuju kamar baby Bing.
Sesampainya. Leonathan langsung membuka pintu kamar tersebut, dan di dalam sudah ada baby Bing yang tertidur. "Dia sudah tidak ada di sini. Dan Bing sudah tidur. Apa dia ada di kamar, aku harus melihatnya." Ujar Leonathan menutup kembali pintu kamar baby Bing, dan langsung naik ke atas.
__ADS_1