
Disisi lain. Leonathan menutupi wajahnya, dan duduk di atas tempat tidur. "Kenapa aku begitu tidak sabaran kepada Luciana. Dan kenapa aku jadi merasa tidak bahagia, kalau ada yang mengganggu kami." Ucap Leonathan.
Leonathan pun menyusul ke bawah juga, dan melihat Luciana, sedang menggendong baby Bing. "Kalian sudah siap kan. Kalau begitu, mari kita pergi." Ujar Leonathan menggandeng tangan kiri Luciana, dan Luciana pun menatap wajah Leonathan, dengan raut wajah bahagia.
Merekapun langsung masuk ke ke dalam mobil bersama, dan yang mengendarai mobil adalah Leonathan. Leonathan yang ingin mengendarai mobil sendiri, agar suasana lebih manis.
Di perjalanan, "kita mau ke mana dulu ma?" tanya baby Bing, yang duduk disampingnya.
"Kita mau ke perusahaan mami dulu ya sayang. Ada hal yang mau mami urus dulu di perusahaan. Hanya sebentar kok sayang. Kamu mau menunggu kan?" jawab Luciana, sekaligus bertanya.
"Mau banget dong mami. Apa yang gak buat mami," kembali tersenyum.
"Jangan sampai aku kalah dari anakku sendiri. Bisa bisa, Luciana lebih sayang Bing, daripada diriku." Ucap batin Leonathan.
Sesampainya di perusahaan. Luciana langsung turun dari mobil, "apa perlu aku temani?" tanya Leonathan yang ada di dalam mobil.
"Tidak perlu sayang. Kalian tunggulah di sini dulu. Aku hanya sebentar saja kok. Dah." Jawab Luciana, dan langsung melambaikan tangannya, lalu masuk ke dalam perusahaan.
Setelah Luciana masuk ke dalam. Baby Bing, melipat kedua tangannya, dan Leonathan menatap wajah Bing. "Ada apa dengan papi. Apa papi cemburu denganku?" tanya baby Bing, sambil menaikkan alisnya.
"Siapa yang cemburu. Aku hanya tidak suka saja. Kamu masih kecil, jadi jangan coba coba merayu istriku." Jawab Leonathan.
"Kenapa memangnya. Kan mami adalah mamiku. Jadi, terserah Bing mau menggoda mami atau tidak. Makanya pi, jangan sok cool. Hehehehe." Menertawakan Leonathan.
Leonathan menahan amarahnya, dan langsung menghadap ke depan kembali. "Aku tidak akan membiarkan anakku membuat Luciana jatuh cinta. Dan kalau itu terjadi. Bisa bisa anakku yang akan menikah dengan istriku sendiri. Tidak." Ucap batin Leonathan yang sudah membayangkan hal tersebut.
Disisi lain. Di dalam perusahaan, Luciana memanggil Rose ke ruang kerjanya. Dan di dalam ruang kerja.
"Ada hal apa nyonya memanggil saya?" tanya Rose dengan sopan.
"Saya kan sudah memberitahukanmu, soal rencana yang saya buat. Bagaimana dengan perilakunya?" jawab Leonathan sekaligus bertanya.
"Ouh, soal itu. Sikapnya benar benar berubah nyonya. Apa yang nyonya katakan, semua benar. Saya ada rekaman dari kamera mini, yang nyonya minta, untuk menyembunyikannya di beberapa tempat." Jawab Rose, sambil memberikan rekaman tersebut kepada Luciana.
__ADS_1
Luciana pun mengambilnya, dan melihat isi rekaman tersebut. Di dalam rekaman tersebut, menunjukkan bahwa Gita sedang mengambil beberapa harta dari perusahaan.
"Dasar bodoh kau Luciana. Padahal, aku ingin merusak perusahaan mu ini, dan akan membuatmu miskin.Tapi aku malah mengatakan, kalau aku akan membuat perusahaan ini sukses. Dan dengan semudah itu kau percaya denganku. Dasar wanita bodoh." Ucap Gita di dalam rekaman tersebut.
"Ehm, bagus banget memang kata katanya. Kalau begitu, kau awasi lagi dia, dan kirimkan rekaman lainnya kepadaku." Perintah Luciana.
"Baik nyonya," menundukkan kepalanya, dan kembali tegap.
"Kalau begitu, saya mau pergi. Karena saya ada urusan hari ini. Kamu urus semuanya." Ujar Luciana, dan ia langsung keluar dari ruang kerjanya.
Di luar ruangannya. Tiba tiba ada yang memanggilnya, dan ia adalah Kai.
Sontak Luciana berbalik badan, dan langsung menatap wajah Kai.
"Kai. Ada apa memanggilku?" tanya Luciana, sambil menaikkan alisnya.
"Tidak ada. Hanya menyapamu saja. Omong omong, kelihatannya kau begitu terburu buru. Mau ke mana memangnya." Jawab Kai sekaligus bertanya.
"Benar. Dia terus memelukku, sampai aku hampir sesak nafas. Hahahah." Jawab Kai sambil tertawa.
"Namanya juga Alvino. Maafkan sifat adikku itu. Kalau begitu, aku duluan ya Kai. Dah." Melambaikan tangannya, dan langsung keluar dari perusahaan.
Di luar perusahaan. Luciana pun langsung masuk ke dalam mobil. Dan di dalam mobil, Leonathan dan baby Bing sudah menatap wajah Luciana.
"Maafkan mami ya, karena lama. Tadi mami mengobrol dengan om Kai dulu." Jawab Luciana sambil tersenyum.
"Okey deh ma. Kalau begitu, mari kita jalan jalan." Sorak baby Bing dengan bahagia.
Mereka pun langsung berangkat menuju lokasi yang sudah disiapkan oleh Leonathan sebelumnya. "Kita mau ke mana ya?" tanya baby Bing.
"Tentunya ke tempat yang membahagiakan," jawab Leonathan.
Setelah perjalanan cukup lama. Sampailah di sebuah pantai yang begitu indah. Air laut yang masih biru, dan pemandangan yang begitu indah.
__ADS_1
"Wah, pantai. Indah banget," memuji baby Bing, dan melihat dari dalam.
Merekapun langsung turun dari mobil bersama. Dan baby Bing langsung berlari dengan bahagia.
"Sayang, hati hatilah berlari, nanti kamu jatuh." Ucap Luciana, sambil melihat ke atas.
Leonathan pun merangkul pinggang Luciana, dan mereka saling bertatapan. "Terima kasih banyak, karena sudah membawa kami ke tempat indah ini." Berterima kasih Luciana kepada Leonathan.
"Aku yang seharusnya berterima kasih kepada kamu. Karena sudah hadir di hidupku." Ucap Leonathan ikut tersenyum.
"Mami, papi. Kemarilah, mari main istana pasir dengan Bing." Memanggil baby Bing.
"Iya sayang. Mami datang," ucap Luciana ikut berlari menuju baby Bing.
Leonathan melipat kedua tangannya, "apa kami akan terus seperti ini selamanya. Aku berharap, kami akan terus bahagia seperti ini, tanpa masalah apapun." Dalam hati Leonathan, dan menghampiri Luciana bersama baby Bing.
"Wah, mami, airnya begitu dingin mami. Padahal kita sudah mandi. Kenapa kita malah ke pantai. Hahaha, kan jadi basah. Tapi karena pantainya begitu indah. Gapapa deh ma." Ucap baby Bing, sambil bermain air dengan Luciana.
"Hahahah, iya sayang. Omong omong, kenapa di sini tidak ada orang ya. Apa semua orang sedang sibuk." Bertanya tanya Luciana, dan memang tidak ada orang satupun selain mereka, di pantai tersebut.
"Ya iyalah. Aku yang membeli pantai ini, karena ada rahasia di balik pantai ini." Ucap Leonathan.
"Apa kalian ingin melihat hal yang lebih indah?" tanya Leonathan.
"Apa itu?" tanya bersamaan baby Bing dan Luciana.
"Ikutlah. Aku akan menunjukkannya kepada kalian," jawab Leonathan berjalan duluan, dan Luciana bersama baby Bing, ikut di belakang.
Mereka melewati semak besar, dan saat Leonathan membukanya. Muncullah di hadapannya sebuah taman bunga yang begitu indah, beserta taman hiburan.
"Bagaimana, bagus bukan?" tanya Leonathan, sambil melipat kedua tangannya.
Sontak Luciana dan baby Bing
__ADS_1