
Dan tiba-tiba saja bunyilah bel rumah mereka. Sontak Luciana langsung menatap ke arah pintu. "Itu pasti Leonathan." Langsung menuju pintu, dan langsung membukakan pintu tersebut.
Saat ia buka pintu tersebut, ternyata ia adalah Leonathan, dan seluruh pakaian Leonathan basah kuyup. "Astaga sayang, pakaian kamu basah semua. Cepat masuk." Ujar Luciana jadi khawatir kepada Leonathan, dan mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah.
Dan di dalam rumah, Luciana langsung membuka jas Leonathan. "Kenapa kamu pulang semalam ini sayang. Kamu pasti lelah banget kan." Cemas Luciana, dan mengambil handuk yang ada di kamar mandi.
"Dia begitu khawatir. Aku suka ketika dia khawatir." Ucap Leonathan tersenyum tipis, dan mengeringkan rambutnya dengan tangannya.
Luciana langsung menghampiri Leonathan, dan mengeringkan wajah Leonathan dengan lembut. "Kalau begitu, kamu cepat mandi sana. Jangan sampai kamu demam, dan tas kamu biar aku letakkan di meja nanti. Sana." Ujar Luciana yang begitu perhatian dengan Leonathan.
"Iya istriku," mengecup kening Luciana, dan langsung masuk ke dalam kamar, sesuai perintah Luciana.
Luciana bergegas ke dapur, untuk membuatkan makanan hangat untuk Leonathan. "Aku akan membuatkan bubur kacang hijau untuknya. Semoga dia suka deh." Mulai mengenakan celemeknya, dan memulai membuat bubur hijau tersebut.
Setelah membuat bubur hijau. Luciana langsung meletakannya di mangkuk, dan membawanya ke kamar. Dan saat di dalam kamar, ternyata Leonathan sedang berbaring, sambil bersin berulang kali.
"Eh, kamu kenapa sayang. Kenapa malah berbaring?" tanya Luciana langsung duduk disamping Leonathan, dan meletakkan bubur tersebut di atas meja.
"Kepalaku benar-benar pusing sayang. Sepertinya karena terkena hujan." Jawab Leonathan langsung duduk, dan menatap wajah Luciana.
__ADS_1
"Seharusnya kamu tunggu hujannya reda dulu sayang. Jangan cepat-cepat pulang, kan kamu tahu kalau di luar sedang hujan deras. Nakal deh kalau dibilangin." Ujar Luciana jadi kesal dengan Leonathan.
"Maafkan aku sayang. Aku sangat merindukan kamu. Entah kenapa, kalau gak lihat kamu, rasanya rindu." Jawab Leonathan tersenyum tipis.
"Ih, jangan gombal. Lebih baik kamu makan bubur ini dulu, biar kamu gak demam. Setelah itu, baru minum obat. Sepertinya kamu mau demam deh. Maka sebab itu, kita harus mengatasinya terlebih dahulu, sebelum penyakit itu datang." Langsung mengambil bubur yang ada di atas meja, dan mulai meniupnya.
"Jadi, kamu makan dulu ya sayang. Biar kamu gak sakit. Nih, aku suapin untuk kamu. Buka mulutnya, helikopternya datang." Ujar Luciana menirukan sendok tersebut layaknya helikopter.
Leonathan pun tersenyum tipis, dan langsung melahap bubur yang diberikan oleh Luciana. Leonathan mengunyahnya dengan pelan-pelan, dan terus menatap wajah Luciana.
"Pasti kamu lelah kan karena bekerja seharian penuh. Kalau kamu ada masalah, atau apapun itu. Cerita aja sama aku, barangkali aku bisa cari masukan atau jawaban dari masalah kamu. Jangan pendem sendiri, karena kita ini sudah suami istri. Aku berhak ikut dalam masalah kamu, karena aku ini istri kamu. Kamu paham kan." Ucap Luciana dengan jelas, dan Leonathan terus menatap wajah Luciana, sambil tersenyum tipis.
"Hei, kenapa malah senyum sih. Kamu dengar gak apa yang aku bilang?" tanya Luciana, sambil menaikkan alisnya.
"Aku mencintaimu," jawab Leonathan dengan singkat, padat, dan jelas.
Leonathan langsung melepaskan pelukan tersebut, dan mencium kening Luciana. Sontak pipi Luciana langsung memerah, dan mereka kembali bertatapan bersama. "Aneh, tiba-tiba jadi manja seperti ini. Nih makan." Langsung menyuapi Leonathan kembali, saat Leonathan hendak mencium Luciana.
"Belum saatnya kamu bergairah seperti itu. Kamu masih sakit, jadi gak boleh seperti itu. Makan bubur ini, baru minum obat." Ujar Luciana sambil mengaduk bubur kembali.
__ADS_1
Leonathan hanya bisa pasrah dengan perintah Luciana, dan cepat mengunyah makanan yang ada dimulutnya.
Tiba-tiba saja petir muncul, bersama dengan kilat. Sontak Luciana kaget, dan buburnya langsung jatuh ke bawah lantai.
"Argh," teriak ketakutan Luciana.
Leonathan yang melihat Luciana kaget. Ia pun sedikit kaget juga, dan menatap wajah Luciana yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Leonathan mendekat ke Luciana.
"Takut, takut. Gak, gak." Ucap Luciana gemetaran, dan meringkup ketakutan.
"Luciana, kamu kenapa. Sayang?" tanya Leonathan langsung melepaskan tangan yang menutupi wajah Luciana, dan Leonathan memegang wajah Luciana dengan kedua tangannya.
Luciana dan Leonathan saling bertatapan, dan terlihat badan Luciana yang masih gemetaran. "Kenapa dengan kamu. Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Leonathan kembali, dengan ekspresi cemas kepada Luciana.
"Tadi, tadi ada petir. Aku takut banget sama petir dan kilat. Maaf banget ya sayang, jadinya buburnya jatuh. Aku akan membersihkannya." Jawab Luciana langsung turun dari tempat tidur.
Dan saat ia turun dari tempat tidur. Leonathan langsung menarik tangan Luciana, dan Luciana kembali duduk dihadapannya. Luciana pun kembali menatap wajah Leonathan. "Ada apa?" tanya Luciana sambil menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Ada apa denganmu. Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dariku. Katakan, kenapa kamu begitu takut dengan petir dan kilat?." Tanya Leonathan dengan ekspresi wajah sedikit tidak senang.
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Aku takut kepada kilat dan petir, karena