Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku

Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku
Episode 120: Kotak Coklat


__ADS_3

Dan saat Luciana hendak menggoda Leonathan. Tiba-tiba saja ada yang datang, dan Luciana tidak jadi menggoda Leonathan, karena kaget dengan teriakan yang datang ke arah meja makan.


"Mama," ucap anak-anak.


"Mami," ujar baby Bing juga langsung ke meja makan.


Sontak Leonathan dan Luciana langsung menatap ke arah anak-anak. "Eh, kalian, apa susunya sudah di habiskan?" tanya Luciana langsung mendekati anak-anak.


"Sudah ma. Ini ma cangkirnya," jawab Aron dan adiknya, sambil meletakkan cangkir di atas wastafel.


"Iya ma. Ini punya Bing juga sudah habis," langsung meletakkannya di wastafel.


"Memang anak yang baik. Kalau begitu, mari kita makan bersama sayang. Karena sarapannya sudah selesai. Yuk anak-anak." Langsung tersenyum, dan merekapun duduk bersama-sama.


Merekapun mulai sarapan bersama, dengan ekspresi bahagia. "Sayang, apa kamu akan bekerja hari ini?" tanya Luciana sambil mengunyah makanannya.


"Iya," jawab Leonathan.


"Anak-anak, kalian baik-baik di sini dulu ya. Soalnya mama mau mengambil pakaian yang ada di rumah mama, dan sekalian mama cari orang yang mau mengurus rumah ini, dan akan kalian anggap sebagai orangtua kalian sendiri sayang. Gapapa kan." Ucap Luciana sambil tersenyum.


"Gapapa ma. Mama kan sibuk juga, dan Aron bisa menjaga adik-adik dengan baik. Karena Aron sudah mengurus mereka cukup lama." Jawab Aron yang sudah terbiasa mandiri.


"Kamu memang pengertian banget sayang. Terima kasih banyak anak-anak." Kembali tersenyum.


Selesai sarapan. Luciana langsung mencuci piring, dengan di bantu anak-anak. Selesai mencuci piring. Sedangkan Leonathan dan baby Bing sudah di luar rumah, untuk menunggu Luciana.


Di dalam rumah, "okey, semuanya sudah selesai. Kalau begitu, mama pergi dulu sayang. Kalian langsung kunci pintunya ya." Ucap Luciana mengeringkan tangannya dengan kain lap, dan keluar dari rumah.

__ADS_1


Arin dan adiknya melambaikan tangannya, "hati-hati ma, dan pa, juga Bing." Ucap mereka bertiga dengan bahagia.


"Langsung tutup pintunya ya anak-anak, dan kalau ada siapa-siapa yang mengetuk pintu jangan di bukakan, karena bisa saja dia orang jahat. Kalian mengerti kan anak-anak." Ujar Luciana peduli.


"Siap ma," langsung hormat kepada Luciana, dan kembali tersenyum.


"Kalau begitu, mama pergi dulu," ikut melambaikan tangannya, dan mereka bertiga langsung masuk ke dalam mobil Leonathan.


Merekapun langsung pergi, dan Aron langsung menutup pintu, sesuai yang dikatakan Luciana.


Di perjalanan, "apa kamu akan terus di rumah itu?" tanya Leonathan sambil menyetir dengan fokus.


"Tidak. Aku akan mencari seorang wanita yang cukup ahli dalam bidang menjaga anak-anak. Dan mana tahu nanti aku ketemu, kan aku bisa menyuruhnya tinggal di rumah itu. Kalau tidak ada juga, ya otomatis aku yang akan tinggal di situ untuk beberapa hari. Karena mereka masih kecil juga. Butuh kasih sayang yang penuh, agar mereka tidak stress, dan merasa kesepian." Jawab Luciana yang benar-benar perhatian.


"Apa mami sudah melupakan Bing. Bing jadi seperti diabaikan sekarang." Ucap baby Bing sambil melipat kedua tangannya, dan memasang ekspresi ngambek.


Luciana pun langsung menatap wajah baby Bing, dan mendekat kepadanya. "Bukan seperti itu sayang. Kamu gak kasihan sama mereka. Dari kecil mereka di tinggal oleh ayah ibu mereka. Kalau kamu merasakan hal seperti itu bagaimana. Pasti kamu akan merasakan apa yang mereka rasakan. Mami sama sekali tidak mengabaikan kamu sayang. Mami hanya memberikan sedikit kasih sayang kepada mereka. Karena mereka tidak pernah tahu, apa itu kasih sayang dari seorang ayah dan ibu." Jawab Luciana dengan jelas, dan membuat baby Bing sadar.


"Iya sayang. Maafkan mami juga, kalau mami mengabaikan kamu sayang. Lain kali mami tidak akan seperti ini." Langsung tersenyum, dan saling berpelukan.


Leonathan hanya bisa tersenyum tipis, karena melihat mereka berdua dari cermin mobil kecil, yang ada di dekat kepalanya.


Sesampainya di rumah. Merekapun langsung turun dari mobil bersamaan. Lalu mereka masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, bibi langsung menghampiri mereka bertiga, dan begitu juga dengan pak Stefan. "Nyonya dan tuan dari mana saja. Bibi kira sedang ada masalah. Makanya tidak pulang. Nyonya dan tuan dari mana?" tanya bibi yang khawatir.


"Kami dari rumah baru untuk anak panti asuhan bi. Kami menginap di sana, untuk menemani anak-anak di sana. Kalau di tinggal, bisa terjadi hal yang tidak diinginkan." Jawab Luciana langsung duduk di sofa, dan Leonathan bersama baby Bing, juga mengikuti Luciana dari belakang.

__ADS_1


"Sayang, kamu siap-siap sana. Kan kamu harus sekolah. Cepat bergegas." Perintah Luciana kepada baby Bing.


"Siap mamiku sayang," menurut dan langsung masuk ke dalam kamarnya, untuk bersiap-siap ke sekolah.


"Nyonya dan tuan mau di buatkan kopi?" tanya bibi kembali.


"Boleh deh bi. Buatkan saya kopi cappucino hangatnya 1." Jawab Luciana sambil tersenyum, dan menyilangkan kakinya.


"Saya juga bi. Samakan saja dengan istri saya," meminta Leonathan juga.


"Baik nyonya dan tuan. Di tunggu sebentar, akan bibi siapkan." Menundukkan kepalanya, dan bergegas ke dapur kembali, untuk membuatkan kopi yang di minta Leonathan dan Luciana.


"Permisi tuan Leonathan, dan nyonya Luciana. Ada yang mau saya sampaikan kepada tuan." Ucap Stefan terlebih dahulu memberikan salam kepada Luciana dan Leonathan.


"Apa itu pak Stefan. Katakan saja," ujar Leonathan langsung melipat kedua tangannya.


"Begini pak. Kemarin, ada seorang wanita yang datang ke perusahaan kita. Dan dia mengirimkan sesuatu kepada tuan. Ini sesuatu dari wanita tersebut." Jawab Stefan langsung memberikan kotak tersebut kepada Leonathan.


"Peganglah terlebih dahulu. Omong-omong, apa ada yang di katakan wanita itu?" tanya Leonathan dengan tegas, sambil mengerutkan keningnya.


"Katanya, dia sangat mencintai anda. Dan kalau gak salah namanya Karina pak, iya Karina." Jawab Stefan langsung mengingatnya.


"Astaga, wanita itu lagi. Dia terus saja menggangguku." Ucap batin Leonathan kembali mengerutkan keningnya, dan memegang keningnya.


"Coba berikan kotak itu pak," meminta Luciana, dan pak Stefan langsung memberikan kotak tersebut kepada Luciana.


Luciana pun mengambil kotak tersebut, dan mulai membuka kotaknya. Saat Luciana membuka kotak tersebut, ternyata isinya adalah sebuah coklat yang berbentuk hati. "Wah, soswet banget ya Karina sayang." Tersenyum Luciana, dan mengambil coklat yang berbentuk hati.

__ADS_1


Leonathan pun mendekat ke Luciana, dan memegang kedua tangan Luciana, lalu meletakkan kotak tersebut. "Sayang, kamu jangan marah ya. Aku sama sekali tidak menyukai ini. Kamu tidak marah kan?" tanya Leonathan jadi cemas dengan yang di katakan Luciana.


"Hm,


__ADS_2