
Disisi lain. Leonathan pun masih mengerjakan pekerjaan perusahaannya. "Apa sekarang Luciana sudah ke restoran. Kenapa aku jadi ingin pergi ke sana. Sudahlah." Ucap Leonathan.
"Semua sudah selesai. Mending aku pulang sekarang saja. Aku juga sudah lelah." Ujarnya merapikan berkas yang ada di meja, dan langsung keluar dari perusahaan.
Leonathan pun bergegas pulang. Disisi lain, Luciana dan yang lainnya sudah memesan banyak makanan dan minuman tentunya.
"Ouh ya. Apa saat fashion week, semua berjalan dengan baik?" tanya Luciana sambil tersenyum.
"Semua aman terkendali nyonya," jawab Rose ikut tersenyum.
"Ouh ya, ada hal yang mau saya sampaikan kepada kalian. Ini soal jabatan. Saya mengubah beberapa jabatan kalian." Ucap Luciana dengan ekspresi serius.
"Maksudnya bagaimana bu bos. Jabatan siapa yang mau di ubah?" tanya karyawan lainnya.
"Saya mau mengubah, kalau Gita akan menjadi direktur perusahaan kita, dan Rose akan saya kembalikan, menjadi manager saya. Dan itu saja hal yang mau saya sampaikan kepada kalian semua." Jawab Luciana menjelaskannya, dan Gita langsung tersenyum, karena ia dijadikan direktur perusahaan.
Rose dan Luciana saling bertatapan, dan Luciana mengedipkan sebelah matanya. Pertanda sebuah hal yang Luciana rencanakan.
Pesanan merekapun tiba, dan langsung diletakkan di atas meja. Sedangkan disisi lain, Leonathan pun sampai di rumah, dan ia langsung turun dari mobilnya.
Leonathan pun masuk ke dalam, sambil membawa tas kerjanya. Saat di dalam rumah, ia mendengar ada suara televisi menyala. Sontak Leonathan melihat ke samping, dsn ternyata, ada baby Bing yang sedang menonton televisi, sambil mengemil cemilan.
Leonathan pun menghampiri baby Bing, "kenapa belum tidur?" tanya Leonathan, dengan wajah sangar, sambil melipat kedua tangannya.
Sontak baby Bing kaget, dan langsung menatap wajah Leonathan. "Eh, papi. Bing menunggu Pao sebenarnya. Karena ada hal yang mau Bing katakan pada papi." Jawab baby Bing sambil tersenyum, dan mencoba menenangkan Leonathan.
Leonathan pun duduk disampingnya, sambil menyilangkan kakinya. "Hal apa yang mau kamu katakan?" tanya Leonathan, sambil menaikkan alisnya.
"Mami ada mengatakan kepada papi. Kalau mami akan makan malam dengan karyawan perusahaan mami." Ucap baby Bing.
"Benar. Memangnya kenapa dengan mami kamu?" jawab Leonathan kembali bertanya.
__ADS_1
"Kata mami. Di makan malam itu, ada om Kai juga. Dan mereka akan bertemu di sana. Masa papi tidak ada di sana. Papi datang juga dong, biar papi bisa mengawasi mami. Takutnya mami dan om Kai, romantis di sana. Hayo papi." Jawab baby Bing, memiliki pemikiran seperti itu.
"Kamu, masih kecil sudah berpikiran seperti itu. Mending masuk kamar dan cepat tidur. Nanti terlambat bangun besok." Ujar Leonathan.
"Baik papi. Kalau begitu Bing tidur dulu. Selamat malam papi." Langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Selamat malam juga," jawabnya.
"Tapi, benar juga yang dikatakan anakku. Kalau aku tidak ke sana. Bisa bisa Kai akan berduaan dengan Luciana. Aku tidak akan biarkan itu." Ucap batin Leonathan meletakkan tasnya, dan langsung keluar lagi dari rumah, dan menuju restoran tersebut.
Disisi lain. Luciana dan karyawan lainnya, sudah memakan makanan tersebut, sambil minum bir bersama. "Cirs. Untuk merayakan keberhasilan kalian." Ujar Luciana, dan semua langsung bersulang, termasuk Kai dan Gita.
Sudah ada beberapa karyawan yang mabuk, termasuk Gita. "Hahahah, kalian benar benar bodoh. Aku sangat mencintai suamimu itu Luciana bodoh." Ujar Gita yang sudah dalam keadaan mabuk.
"Jangan mengatakan hal seperti itu kepada sahabatku. Atau kau akan tahu akibatnya." Ucap Kai yang sudah mabuk juga.
"Wah, ini cocok aku rekam suara. Aku bisa menjadikan kemabukan Gita ini, sebagai ancaman untuknya." Ucap batin Luciana mengambil ponselnya, dan langsung merekam suara yang dikatakan oleh Gita.
"Diam kamu. Kamu hanya sahabatnya saja. Aku adiknya, dan aku akan mengambil alih perusahaan itu. Aku kan sudah dijadikan direktur. Dengan begitu, aku akan menyingkirkan kalian semua." Jawab Gita senyum senyum sendiri.
"Tahanlah Luciana. Tahan." Ucap Luciana menahan dirinya, agar tidak mabuk.
"Okey semuanya. Kalian jangan mabuk dulu. Kita memang sudah banyak mengobrol, dan sudah menghabiskan banyak makanan. Masa kalian langsung masuk sih." Ucap Luciana sedikit tegas, dan matanya hampir tertidur.
Rose pun ikutan mabuk, karena ia yang paling banyak minum, setelah Luciana dan yang lainnya.
Disisi lain. Leonathan pun sampai di restoran. Ia tahu tempatnya, karena ia menyewa pengawal, untuk mengikuti Luciana.
Leonathan pun langsung turun dari mobilnya, dan masuk ke dalam restoran tersebut. Saat di dalam, Leonathan mencari keberadaan Luciana, dan melihat Luciana yang sudah mabuk, bersama yang lainnya.
Leonathan pun menghampiri Luciana yang kepalanya sudah menyender di atas meja, dan tangannya masih memegang secangkir bir.
__ADS_1
"Astaga, dia terlalu banyak minum. Sampai mabuk begini. Dan yang lainnya juga sudah mabuk. Aku harus memanggil taxi, untuk membawa mereka semua, dan sebagian dari pengawalku." Mengambil ponselnya, dan menghubungi anggotanya.
Setelah membereskan semuanya. Semua karyawan langsung dibawa ke rumahnya masing masing. Sedangkan Luciana, digendong oleh Leonathan.
"Kenapa area ini begitu hangat. Apa ini tempat pemanasan." Ucap Luciana yang sudah mabuk, sambil mengelus badan Leonathan, dengan kepalanya.
Leonathan merasa geli, dan mencoba menahannya. "Tahanlah Leonathan. Dia sudah mabuk." Dalam hati Leonathan, sambil menghela nafas panjang, dan langsung memasukkan Luciana ke dalam mobilnya.
Mobil pun langsung disetir oleh supirnya, yang baru ia panggil. Dan mobil pun berangkat, dan kembali ke rumah.
Di perjalanan, "untung saja aku sudah membayar semua biaya pesanan mereka semua. Luciana tidak sempat membayarnya, karena ia sudah mabuk. Seharusnya kamu tidak minum banyak sayang." Ucap Leonathan menatap wajah Luciana, yang duduk disampingnya.
"Tunggu. Aku ingin permen kapas, untuk anakku. Tolong belikan itu. Belikan itu." Ucap Luciana sambil menarik narik pakaian Leonathan.
"Baiklah. Kita akan membeli permen kapas yang banyak." Jawab Leonathan, dan Luciana sangat bahagia.
Merekapun langsung membeli permen kapas, yang dijual di pinggir jalan. Setelah membeli permen kapas yang banyak. Merekapun menuju pulang.
Tiba tiba saja Luciana mulai kembali aksinya saat mabuk, dan langsung duduk dipaha Leonathan. Sontak Leonathan kaget, dan langsung menatap wajah Luciana yang masih dalam keadaan mabuk.
"Hangatnya," ucap Luciana memeluk Leonathan, dan pipi Leonathan pun memerah, karena Luciana duduk di atas pahanya.
Luciana membuka matanya, karena ia tadi mabuk sambil tidur. Luciana melihat dengan mata yang sedikit rabun, akibat bir yang ia minum.
Dan semata mata, ia melihat Leonathan yang ada di depannya. "Eh, kenapa bisa ada Leonathan di sini. Aku pasti mimpi." Ucap Luciana dengan nada mabuk.
"Apa ini benar benar suamiku yang tampan," memegang kedua pipi Leonathan dengan lembut, layaknya roti lembut.
"Wah, apa ini roti. Roti yang mirip dengan Leonathan." Ucap Luciana mendekat ke pipi Leonathan, dan langsung menggigitnya.
"Auh," ujar Leonathan kesakitan, dan berusaha menahannya.
__ADS_1
Luciana terus menjilat roti tersebut, sambil menciumi roti tersebut dengan lembut. Ia menganggap, bahwa Leonathan adalah sebuah roti. "Ehm, enak. Lembut dan kenyal." Ujar Luciana dengan bahagia.
Sesampai rumah. Leonathan langsung