
Setelah itu, semuanya langsung masuk ke dalam kamarnya masing masing. Dan hanya tinggal Leonathan dan Gita yang berdua di ruang tamu.
"Kenapa tidak masuk ke kamar?." Tanya Leonathan tidak menatapnya, dengan wajah yang sangat dingin.
"Begini kak, ada yang mau saya katakan pada kakak." Jawab Gita berkata dengan kata kata manja.
"Apa itu?." Tanya Leonathan langsung.
"Kenapa kakak mau menikah dengan kak Luciana. Padahal jelas jelas cantikan aku lho kak. Aneh bukan. Seharusnya jodoh kakak kan aku, bukan kak Luciana." Jawab Gita terus terang kepada Leonathan.
Leonathan langsung berdiri dan menatapnya dengan tajam. "Jangan pernah sekalipun anda menjelekkan istri saya. Atau saya tidak akan bisa menjamin, kalau mulut anda akan ada di esok harinya. Saya permisi." Kesal Leonathan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Leonathan masuk ke dalam kamarnya. "Benar benar menyebalkan kak Leonathan. Sudah jelas kalau aku lebih cantik daripada sih Luciana gila itu. Lihat saja Leonathan, kamu akan menjadi milikku." Ucap batin Gita kesal, sampai mengepalkan kedua tangannya.
Disisi lain. Di kamar, Leonathan langsung masuk ke dalam kamar mandi, tanpa basa basi. "Eh, kenapa dia. Sepertinya sedang kesal. Aneh." Kebingungan Luciana, yang sedang melamun tadi.
"Apa dia sedang berbicara dengan ayah tadi, dan ayah mengatakan hal yang menyakiti hatinya. Tapi itu tidak mungkin, kan dia kuat, dan tidak lemah karena perkataan orang orang yang dibawahnya. Sudahlah, aku tunggu saja dulu dia." Ucap Luciana kembali tersenyum, dan langsung berbaring.
Setelah beberapa menit, Leonathan langsung keluar dari kamar mandi, dengan pakaian tidurnya yang seperti biasanya, terlihat bagian perutnya. Dan Leonathan sedang mengeringkan rambutnya yang basah, dengan handuknya.
"Mau aku bantu keringkan?." Tanya Luciana menatap wajah Leonathan.
Leonathan langsung menatapnya juga. "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Paling ini akan kering dengan sendirinya." Jawab Leonathan langsung menolaknya secara mentah mentah, dan duduk membelakangi Luciana.
Luciana mendekatinya dan memeluknya dari belakang. "Kamu kenapa sayang. Kelihatannya badmood banget. Apa ada kata kata yang menyakiti hatimu?." Tanya Luciana.
Leonathan melepaskan tangan Luciana dan berbalik badan, untuk menatap wajah Luciana. "Kan sudah tertera di kontrak, bahwa kita tidak boleh terlalu dekat begini. Hanya ketika di luar saja, baru kita boleh berdekatan, dan pada saat ada baby Bing. Kamu paham kan, atau kamu benar benar tidak paham?." Tanya Leonathan sambil menaikkan alisnya, dengan ekspresi datar.
Luciana menjauhinya, dan menundukkan kepalanya. "Apa kita tidak bisa saling mencintai. Aku mencintai kamu Leonathan. Aku cinta kamu." Tegas Luciana kembali menaikkan wajahnya untuk menatap wajah Leonathan.
__ADS_1
Sontak pupil mata Leonathan langsung membesar. "Apa sih yang kau katakan itu. Setiap hari kau terus mengatakan hal itu. Apa kau tidak bosan?." Tanya Leonathan kembali.
"Bagaimana aku bisa bosan. Kalau aku mencintai pria yang sangat aku cintai dari dulu, dan bahkan aku bisa mengatakannya sebanyak mungkin, bahwa aku mencintaimu. Aku juga bisa mengatakannya ke seluruh dunia. Bahwa hanya kamu yang aku cintai." Jawab Luciana kembali tersenyum, dan tatapannya penuh dengan cinta.
"Wanita ini. Mau berapa kali aku mengatakannya, dia terus mengatakan kalau ia mencintaiku. Apa dia benar benar mencintaiku, atau hanya kebohongannya saja. Aku tidak boleh semudahnya percaya dengannya." Ucap batin Leonathan.
"Sudahlah, yang terpenting, jangan mengingkari kontrak itu. Aku sangat lelah, mau tidur dulu." Jawab Leonathan langsung berbaring, dan seperti biasanya, ia membelakangi Luciana.
Luciana menghela nafas panjang. "Sabarlah Luciana. Kau harus sabar, menghadapi kulkas pintu 1000 ini." Ucap Luciana hanya bisa tersenyum dan ikut membelakangi Leonathan, dan menutup kedua matanya.
Keesokan paginya. Di mana Luciana baru bangun, dan Leonathan juga baru bangun. "Hua." Ucapnya sambil meregangkan tubuhnya.
"Kamu sudah bangun sayang. Kalau begitu, kamu mandi duluan saja sana." Ucap Luciana sambil tersenyum, dan berusaha tersenyum.
Leonathan pun langsung masuk ke dalam kamar mandi, tanpa mengatakan apapun. Dan Luciana kembali menghela nafas panjang, untuk berusaha tenang, dan tidak mengeluarkan emosinya.
Setelah beberapa menit. Luciana pun selesai mandi, dan sudah mengenakan pakaian rapi juga. Mereka berdua langsung turun ke bawah, untuk sarapan bersama.
Ternyata semua sudah kumpul di meja makan. "Eh, nak Luciana dan Leonathan. Bagaimana tidur kalian kemarin?." Tanya Madison terus tersenyum.
"Ya begitulah ayah. Seperti orang biasanya saat tidur, ya begitu." Jawab Luciana duduk di samping ayahnya.
"Halo kakak ipar. Ini ada susu hangat yang aku buatkan khusus kakak." Ucap Gita langsung meletakkan susu hangat di atas meja dekat Leonathan.
Luciana pun melirik mereka berdua. "Kenapa anak ini tiba tiba baik begini dengan Leonathan. Apa dia mencoba menggoda suamiku. Benar benar memuakkan." Ucap batin Luciana berusaha tenang dan tidak mau menunjukkan emosinya.
"Terima kasih banyak." Ucap Leonathan kepada Gita, dan Gita terus tersenyum kepadanya, dan bersikap sangat baik terhadapnya.
Sepertinya biasanya, Leonathan kembali memainkan perannya, dan meletakkan daging ke piring Luciana.
__ADS_1
"Terima kasih banyak sayang." Tersenyum Luciana.
"Sama sama." Jawab Leonathan kembali memainkan perannya.
Selesai makan, merekapun langsung bergegas pamit pulang. "Kami pulang dulu ya. Lain waktu kami akan kembali lagi, untuk menginap di sini." Ucap Luciana tersenyum dan melambaikan tangannya bersama Leonathan.
"Hati hati nak, dan jangan lupa kalau mau kembali lagi bawa uang banyak." Sahut ayahnya yang hanya memikirkan uang di kepalanya.
Luciana dan Leonathan langsung masuk ke dalam mobil mereka. Di perjalanan. "Kau mau ke mana, biar sekalian aku antar?." Tanya Leonathan kepadanya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Aku mau pulang dulu sayang." Jawab Luciana terus tersenyum di depan Leonathan, agar Leonathan mau tersenyum untuknya, tanpa ikatan kontrak.
Sesampai rumah. Luciana langsung turun, dan Leonathan juga turun, untuk mengambil berkasnya.
Di dalam rumah. Luciana memanggil bibi rumah. "Bi." Panggil Luciana sambil memegang tasnya.
Bibi pelayan tersebut, langsung menghampiri Luciana. "Iya nyonya, ada apa ya nyonya?." Tanya bibi langsung.
"Bagaimana dengan baby Bing kemarin bi. Apa dia tidak marah, karena kami tinggal?." Tanya balik Luciana sambil tersenyum.
"Kalau soal itu, semua aman nyonya. Karena baby Bing juga sudah terbiasa diginikan oleh tuan Leonathan nyonya." Jawab bibi tersebut ikut tersenyum.
"Kalau begitu, saya mau pergi dulu ya bi, karena masih ada urusan yang harus saya selesaikan." Berpamitan Luciana dan keluar duluan dari rumah.
"Baik nyonya, nyonya hati hatilah." Melambaikan tangannya.
Dan saat mau kembali ke dapur. Tiba tiba ia dipanggil oleh Leonathan. "Bi." Panggil Leonathan yang menghampirinya.
"Eh, tuan Leonathan. Ada apa ya tuan?." Tanya bibi langsung.
__ADS_1