
"Kenapa suami ibu bisa meninggalkan ibu dan Areum. Apa terjadi permasalahan?" tanya Luciana memegang kedua tangan ibu Bora.
"Waktu itu, terjadi permasalahan ekonomi, dan ayah Areum meminta uang, padahal saat itu, ibu tidak ada uang sama sekali. Bahkan untuk membeli roti saja tidak bisa, terpaksa kami harus menahan lapar. Tapi ayah Areum terus memaksa, dan ayahnya malah memukul ibu. Setelah itu, dia pergi, dan sampai sekarang tak pernah kembali. Melihat Areum saja tidak pernah." Jawab ibu Bora masih bisa tersenyum.
"Maaf ya bu, saya lancang untuk menanyakan hal pribadi ibu. Saya hanya mau tahu sedikit saja." Ucap Luciana meminta maaf.
"Tidak apa-apa. Ibu juga tidak keberatan," jawab ibu Bora kembali tersenyum.
Sesampainya di mall. Mereka bertiga langsung turun dari mobil, dan mereka masuk ke dalam. Saat di dalam, tiba-tiba saja ponsel Luciana berdering, karena ada notifikasi pesan yang masuk. Luciana pun melihat ponselnya.
Ternyata itu pesan dari Leonathan. Leonathan mengirimkan sebuah foto sedang bekerja. "Foto untuk kamu sayang." Ucap Leonathan di pesan tersebut.
"Astaga, dia masih sempat mengirimkan fotonya sedang bekerja. Benar-benar menggemaskan." Tersenyum Luciana, dan langsung membalasnya.
"Makasih suamiku tercinta. Aku jadi semangat lagi. Selamat bekerja sayang." Balas Luciana, dan mengirimkan sebuah stiker beruang memegang hati.
"Nak Luciana. Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya ibu Bora, sambil menatap wajah Luciana, dan begitu juga dengan Areum.
"Sepertinya tante sedang mengobrol dengan suaminya bu. Karena Areum sering melihat yang seperti tante di jalan." Jawab Areum sambil menggandeng tangan ibunya.
"Hahahah, iya nak. Kok kamu tahu sih. Biasa bu, dari suami. Kalau begitu, mari kita langsung ke toko pakaian bersama. Disitulah ibu Bora dan Areum mulai memilih pakaian.
Selesai membeli pakaian di toko. Merekapun bergegas makan bersama di restoran yang ada di mall tersebut. "Ibu dan Areum, pesanlah makanan yang kalian mau. Saya akan membayar semuanya." Tersenyum Luciana.
"Terima kasih banyak nak. Baru kali ini saya menemukan orang yang sebaik kamu di dunia ini. Hati kamu begitu baik seperti malaikat." Ikut tersenyum ibu Bora.
"Sama-sama bu. Bukan apa-apa bagi Luciana. Kalau begitu, kita tunggu pesanannya datang." Ujar Luciana kembali tersenyum, dan Areum terus menatap wajah Luciana.
__ADS_1
"Ibu peri. Kenapa ibu peri cantik banget. Areum jadi ingin cantik seperti ibu peri?" tanya Areum.
"Hahaha, makasih sayang karena sudah mengatakan ibu peri cantik. Ibu peri juga tidak tahu, kenapa ibu peri cantik. Mungkin saja ibu peri dibantu oleh pangeran. Makanya ibu peri cantik. Areum juga cantik kok. Malah lebih cantikan Areum daripada ibu peri. Ibu peri malah mau menjadi kamu. Karena kamu benar-benar cantik sayang." Mengelus rambut Areum, dan tersenyum bahagia.
Setelah beberapa jam. Merekapun akhirnya sudah dalam perjalanan menuju rumah panti asuhan, setelah berbelanja pakaian dan makan bersama. Di perjalanan, "ouh ya nak Luciana. Apakah di rumah panti asuhan itu ada namanya. Atau memang rumah panti asuhan begitu saja?" tanya ibu Bora dengan sopan.
"Iya bu. Sebenarnya Luciana juga ingin mencari nama yang bagus untuk rumah itu. Biar orang-orang juga tahu, dan bisa membawa anak-anak jalanan ke rumah itu. Karena banyak anak panti asuhan yang kesepian, karena tidak mempunyai siapapun. Apa ibu ada rekomendasi nama bagus untuk rumah tersebut?" jawab Luciana sekaligus bertanya.
"Belum ada. Nanti ibu akan mencoba memikirkannya. Sepertinya ibu mempunyai nama yang cukup indah untuk rumah tersebut." Jawab ibu Bora sambil tersenyum.
Sampailah mereka di rumah panti asuhan, dan mereka bertiga langsung turun dari mobil bersamaan. "Mari ibu dan Areum. Mari kita masuk." Ujar Luciana langsung mengetuk pintu.
Pintu pun terbuka, dan yang membukakannya adalah Aron bersama adik-adiknya. "Mama, mama." Ucap Aron dan adik-adiknya langsung memeluk Luciana dengan bahagia.
"Apa kalian baik-baik saja di sini. Apa ada orang yang datang ke rumah ini?" tanya Luciana mengelus rambut Aron dan adik-adiknya.
"Tidak ada ma. Rumah aman terkendali," jawab Aron dengan bahagia.
"Wah, berarti Aron dan adik-adik akan memiliki ibu dua deh. Salam ibu Bora." Langsung mencium tangan ibu Bora, lalu adik-adiknya juga ikut mencium tangan ibu Bora.
"Halo Areum," sapa Aron dengan senyumannya.
"Halo kakak," salam Areum juga, sambil melambaikan tangannya.
"Kalau begitu, mending kita masuk di dalam. Biar ngobrolnya semakin enak. Mari bu." Ajak Luciana, dan mereka langsung masuk ke dalam bersama.
Di dalam, ibu Bora dan Luciana duduk di atas sofa. Sedangkan anak-anak duduk di bawah karpet bulu yang lembut. "Aron akan membuatkan minuman untuk ibu Bora dan Areum ya. Apa mama juga mau minuman?" tanya Aron kembali tersenyum.
__ADS_1
"Tidak perlu sayang. Buatkan untuk ibu Bora dan Areum saja sayang." Jawab Luciana ikut tersenyum.
"Baik ma," ujar Aron langsung menuju dapur.
Disisi lain, "halo, aku Chika. Kamu Areum kan, salam kenal." Berjabat tangan dengan Areum, dan Areum begitu bahagia, karena ia memiliki teman yang baik dan sayang kepadanya.
"Mereka benar-benar sudah dekat ya. Ibu jadi memiliki nama yang cocok untuk rumah ini, agar suasana rumah ini menjadi lebih hangat dan bahagia." Ucap ibu Bora.
"Katakan saja ibu. Luciana akan mengikuti apa yang ibu katakan." Sahut Luciana ikut tersenyum.
"Bagaimana dengan spruce house. Nama itu mengartikan rumah yang cemara, dan penuh kebahagiaan. Seperti ini, di sini banyak anak-anak yang penuh kebahagiaan tinggal di rumah ini." Jawab ibu Bora dengan bahagia.
"Wah, itu bagus banget bu. Kalau begitu, kita akan menamakan rumah ini dengan nama spruce house. Besok Luciana akan memesankan nama yang akan dipasang di depan rumah, agar rumahnya lebih indah, dan memiliki nama yang bagus. Terima kasih banyak bu." Memeluk ibu Bora, dan mereka saling berpelukan dengan bahagia.
"Ibu, ini minumannya," ucap Aron langsung meletakkan jus jeruk di atas meja, dan langsung duduk di dekat Luciana.
"Oh ya ma. Apa Aron bisa memanggil ibu Bora dengan sebutan ibu. Rasanya hangat gitu, kalau memanggil ibu Bora dengan sebutan ibu?" meminta izin Aron.
"Boleh sayang. Kan sekarang ibu Bora sudah menjadi ibu kalian di sini. Ibu Bora akan menjaga kalian terus di sini, dan kalian akan aman di rumah ini sayang. Kalian paham kan semuanya." Jawab Luciana kepada anak-anak.
"Mengerti ma," jawab serentak.
"Mengerti ibu peri," jawab Areum dengan ekspresi bahagia.
"Eh, kenapa kamu memanggil mama Luciana dengan sebutan ibu peri?" tanya Hana.
"Karena ibu peri memiliki hati yang baik dan penyayang. Seperti ibu peri, jadinya aku memanggil mama Luciana dengan sebutan ibu peri." Jawab Areum kembali tersenyum.
__ADS_1
Malam pun tiba. Di mana Luciana dalam perjalanan menuju Perusahaan Queen Dress, setelah berlama di rumah spruce house.
Sesampainya di perusahaan. Luciana pun langsung turun dari mobil, dan saat ia masuk ke dalam.