
Luciana pun melepaskan pelukan Leonathan, dan langsung berbaring di atas tempat tidur. "Tidak mauuuu, aku belum siap."
Leonathan menghampiri Luciana kembali, dan berdiri di atas Luciana. Sontak Luciana dan Leonathan kembali bertatapan. Saat Leonathan hendak mencium Luciana. Tiba-tiba saja ponsel Leonathan berdering di atas meja.
Sontak Leonathan dan Luciana menatap ke arah ponsel tersebut. "Ada yang menghubungi kamu itu. Angkat cepat, mana tahu penting." Ucap Luciana.
"Tidak mau. Aku mau sama kamu aja," jawab Leonathan mencium pipi Luciana kembali.
Luciana pun mengambil ponsel Leonathan, dan langsung mengangkatnya. Lalu ponsel tersebut di taruh di telinga Leonathan. "Sudah aku angkat. Cepat kamu yang bicara." Ujar Luciana sambil mengedipkan sebelah matanya, dan tersenyum bahagia.
Leonathan menghela nafas panjang, dan mengambil ponsel yang ada di tangan Luciana. Ia pun langsung duduk.
"Halo, siapa ya?" tanya Leonathan.
"Sayang, kamu sedang apa. Sepertinya tadi aku mendengar suara istri kamu. Ini aku Kirani, masa kamu melupakanku sih sayang." Jawab yang tidak lain lagi ialah Kirani.
Leonathan pun langsung berjalan ke dekat jendela. "Apa yang kau inginkan. Jangan macam-macam?" tanya Leonathan sambil mengerutkan keningnya.
Disisi lain. Luciana terus melihat belakang punggung Leonathan. "Kenapa dia ke sana. Apa dia tidak mau aku mendengar teleponnya. Sudahlah, yang penting aku selalu bersamanya." Ucap batin Luciana.
Kembali ke Leonathan, "aku hanya menginginkanmu. Bagaimana kalau besok kita bertemu. Ada hal yang ingin aku katakan padamu." Jawab Karina di dalam telepon tersebut.
"Kenapa tidak dari sini saja. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Leonathan kembali.
"Kenapa kau seperti ini sayang. Kan dulu kita pernah berpacaran. Masa kamu seperti ini sih kepadamu. Andai saja aku tidak pergi ke luar negeri. Mungkin kita masih berpacaran dan hidup bahagia." Jawab Karina.
__ADS_1
"Jangan berbicara seperti itu. Baiklah, besok kita bertemu. Tapi, jangan sampai kau berbicara kepada istriku. Aku tidak ingin dia banyak pikiran. Awas saja kalau kau macam-macam dengannya. Kau akan habis di tanganku." Ucap Leonathan.
"Takut deh. Hahahah, dah sayang," jawab Karina langsung mematikan ponselnya, dan begitu juga dengan Leonathan.
Leonathan kembali duduk di samping Luciana. Luciana pun menatap wajah Leonathan. "Siapa yang menghubungimu sayang?" tanya Luciana sambil memeluk Leonathan.
"Aku tidak boleh memberitahukan soal Karina. Aku tidak ingin Luciana banyak pikiran, dan dia jadi stress. Karena sudah banyak masalah yang dia hadapi selama ini." Ucap batin Leonathan.
"Sayang, kenapa kamu diam saja. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Luciana menatap wajah Leonathan.
"Eh, tidak apa-apa. Hanya rekan kerja saja. Kalau begitu, mari kita tidur, karena ini sudah malam. Selamat malam istriku." Jawab Leonathan mengecup kening Luciana.
"Selamat malam juga suamiku sayang," merekapun tidur berpelukan kembali.
"Aneh, seperti ada yang di tutupi oleh suamiku. Aku harus cari tahu soal itu." Ucap batin Luciana, sambil memejamkan matanya.
"Dia selalu saja bangun duluan. Aku tidak bisa mengalahkannya. Hahaha, padahal aku ingin melihat wajahnya ketika masih tidur nyenyak." Ucap Luciana tertawa tipis, dan turun dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar.
Luciana pun turun tangga, lalu ke meja makan. Ternyata Leonathan tidak ada. "Bi, di mana Leonathan?" tanya Luciana kepada bibi.
"Tuan sudah pergi nyonya. Katanya ada urusan yang harus di selesaikan. Sampai tuan tidak sarapan, karena buru-buru. Tapi tuan sudah kirim salam kepada nyonya. Tuan titipkan kepada bibi tadi. Tuan benar-benar suami yang perhatian." Jawab bibi.
"Terima kasih banyak bi. Oh ya bi, kalau Bing di mana. Apa dia sudah berangkat ke sekolah?" tanya kembali Luciana.
"Tuan Bing juga sudah pergi nyonya. Tuan Bing juga titip salam kepada anda." Jawab bibi kembali.
__ADS_1
"Okey deh bi. Kalau begitu, tolong buatkan susu hangat dan roti selai ya bi. Nanti taruh di ruang tamu saja. Saya mau mandi dulu." Ucap Luciana tersenyum, dan langsung masuk ke dalam kamarnya kembali.
Setelah beberapa menit. Luciana pun selesai mandi, dan sudah mengenakan pakaian rapi. Luciana langsung turun dan duduk di sofa ruang tamu.
"Sarapan sudah di atas meja ya nyonya," memberitahu bibi.
Luciana pun langsung menyantap roti selai, dengan susu hangat. "Hm, meminum susu hangat di pagi hari benar-benar enak. Apalagi dengan tambahan roti. Benar-benar enak deh." Ucap Luciana bahagia, dan pipinya memerah karena menyantap susu hangat dan roti selai.
"Oh ya, aku harus mencari tahu soal foto yang di kirim wanita itu. Aku harus menghubungi Rose." Ujar Luciana mengambil ponselnya, dan langsung menghubungi Rose.
Tersambung, "halo nyonya. Ada apa nyonya menghubungiku?" tanya Rose yang sedang merapikan berkasnya.
"Saya akan mengirimkan foto kepadamu. Tolong kamu cari tahu yang sebenarnya soal foto itu. Saya sedikit curiga dengan foto itu. Tolong kamu cari tahu. Dan kalau kamu sudah menemukannya, langsung kabari aku saja." Jawab Luciana dengan jelas.
"Baik nyonya. Saya akan berusaha sebaik mungkin. Kalau begitu, langsung kirim saja fotonya. Kalau begitu, saya matikan teleponnya nyonya. Selamat bekerja nyonya." Ujar Rose langsung mematikan ponselnya.
"Buka Twitter ah. Mana tahu ada cogan kan, hahahah. Mumpung gak ada suami." Ujar Luciana membuka Twitter, dan tiba-tiba saja ada sebuah postingan yang begitu viral, dan baru saja di posting.
"Eh, ini kan Leonathan, dan ini kan mantannya. Kenapa mereka makan berdua, dan kenapa wanita itu memegang bibir Leonathan. Apa mereka sarapan bersama. Pantas saja dia tidak sarapan di rumah, ternyata dia sarapan dengan mantannya. Hahahah, benar-benar lucu." Ucap Luciana menyimpan foto tersebut, dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
Disisi lain, "apa yang sebenarnya ingin kau katakan, dan jangan memegang bibirku seperti itu. Aku sudah memiliki istri. Jadi jangan jarakmu." Tegas Leonathan, dan langsung mendorong tangan Karina untuk menjauh.
"Sekarang kamu sudah berubah ya. Kenapa kamu jadi jahat seperti ini kepadaku. Bukannya dulu kita adalah sepasang kekasih. Apa kamu marah, karena aku pergi ke luar negeri tanpa mengabarimu. Apa kamu memang masih mencintaiku?" tanya Karina kembali menggodanya.
"Jangan berharap. Masa lalu biarlah berlalu. Karena yang dipikirkan sekarang adalah masa kini dan masa depan. Aku sudah tidak mencintaimu, dan sekarang aku sudah mencintai istriku yang bernama Luciana. Aku bersyukur karena kau pergi jauh. Dengan perginya kau, aku di pertemukan dengan wanita baik hati, dia adalah Luciana. Dialah pasangan hidupku. Bukan dirimu." Jawab Leonathan kembali tegas dengan Karina.
__ADS_1
"Aku harap