Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku

Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku
Episode 95: Ide


__ADS_3

Luciana terus menjilat roti tersebut, sambil menciumi roti tersebut dengan lembut. Ia menganggap, bahwa Leonathan adalah sebuah roti. "Ehm, enak. Lembut dan kenyal." Ujar Luciana dengan bahagia.


Sesampai rumah. Leonathan langsung menggendong Luciana dan mereka masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, "salam tuan dan nyonya. Eh, nyonya kenapa tuan?" tanya bibi rumah.


"Dia mabuk. Saya mau membawanya masuk ke kamar dulu." Jawab Leonathan langsung naik ke lantai 2, dan masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar. Leonathan langsung meletakkan Luciana di atas tempat tidur, dan Luciana sudah benar benar tidur.


Leonathan pun duduk disamping Luciana, dan mengelus rambut Luciana. "Dia sangat cantik," ujar Leonathan tersenyum tipis, dan mengecup kening Luciana.


Tiba tiba saja Luciana menarik badan Leonathan, dan Leonathan langsung terbaring disamping Luciana. Luciana pun terus memeluk Leonathan dari samping.


Sontak pipi Leonathan kembali memerah, dan Luciana benar benar nyenyak tidur. Pipi Leonathan terus memerah, sedangkan Luciana senyum senyum sendiri.


Keesokan paginya. Dimana Luciana membuka matanya perlahan lahan, dan sepertinya dia merasa, kalau dirinya sedang berpelukan.


Luciana pun melihat Leonathan di dalam pelukannya, "hah, Leonathan. Kenapa kami bisa berpelukan." Ucap Luciana menatap wajah Leonathan yang masih tertidur.


Luciana kembali mengingat kejadian kemarin malam, dan Luciana pun mengingat semua kejadian kemarin malam.


"Astaga, aku benar benar memalukan. Aku kira kemarin malam aku memimpikan makan roti besar. Gak tahu ya suamiku sendiri yang aku lahap. Lihat pipi ini, ini pasti bekas gigitanku. Astaga Luciana." Ucap Luciana mengerutkan keningnya, dan langsung duduk.


Saat mau berdiri. Tiba tiba saja pinggangnya dipeluk Leonathan. Sontak Luciana kembali menatap wajah Leonathan. "Dia sangat tampan ketika tidur. Aku ingin sekali melahapnya." Ujar Luciana mengecup kening Leonathan dan Leonathan pun terbangun.


Leonathan pun melihat Luciana yang sudah bangun, dan sudah duduk. Sontak Leonathan melihat dirinya yang memeluk pinggang Luciana.


Leonathan pun langsung melepaskan pelukan tersebut, dan langsung duduk membelakangi Luciana. "Uhuk, uhuk. Maafkan aku." Ucap Leonathan, dengan ekspresi wajah yang salting, dan begitu juga dengan Luciana.


"Aku akan membuatkan sarapan untukmu," ujar Luciana mengenakan sandal rumah, dan langsung keluar dari kamar.


Disisi lain. Leonathan melihat ke arah pintu kamar, dan menutupi wajahnya yang memerah. "Astaga, apa yang aku lakukan barusan. Dia akan merasa risih kalau seperti ini. Nanti dia akan menjauhiku. Dasar Leonathan bodoh." Ujar Leonathan yang benar benar salting, dan langsung masuk ke dalam kamar mandi, sambil melompat lompat.

__ADS_1


Di dapur. Luciana mulai membuat sarapan, dan bibi dapur menghampiri Luciana, dengan raut wajah bahagia. Luciana yang menyadarinya, langsung menatap wajah bibi tersebut.


"Bibi kenapa bi. Kelihatannya bibi lagi bahagia nih." Ujar Luciana ikut tersenyum.


"Iya nyonya. Saya sangat bahagia, karena kejadian kemarin malam. Tuan menggendong nyonya sampai masuk ke dalam kamar. Katanya nyonya saat itu sedang mabuk, dan tuan begitu hati hati menggendong nyonya. Saya jadi salting melihat keromantisan nyonya dan tuan." Jawab bibi dengan raut wajah bahagia kembali.


Sontak pipi Luciana sedikit memerah, karena membayangkan kejadian kemarin malam. "Hahahah, namanya saya juga mabuk bi. Kalau tidak mabuk. Mungkin dia tidak akan seromantis itu." Ucap Luciana, sambil tertawa tipis, dan memotong sayuran bersama bibi.


Setelah beberapa menit membuat sarapan. Luciana pun langsung menyajikannya di atas meja. Dan semua langsung berkumpul di meja makan bersama, termasuk baby Bing.


"Pagi anak mami sayang," ujar Luciana mengecup kening baby Bing.


"Oh ya mami. Dimana permen kapas yang Bing minta?" tanya baby Bing kepadanya.


"Ehm, soal itu"


"Permen kapasnya ada di atas meja ruang tamu." Jawab Leonathan.


"Ouh, terima kasih banyak mami. Bing kira mami lupa." Kembali tersenyum baby Bing.


"Kan aku mabuk kemarin malam. Pasti Leonathan yang membelikannya. Syukurlah." Ucap batin Luciana, sambil menghela nafas panjang kembali.


Merekapun langsung sarapan bersama, dan Luciana terus menatap wajah Leonathan, dengan tatapan manis.


"Lihat saja dia itu. Ketika makan saja menggemaskan." Ucap batin Luciana, sambil mengunyah makanannya.


Tiba tiba saja Leonathan menatapnya juga. Merekapun saling bertatapan, dan Luciana menggodanya, dengan mengedipkan sebelah matanya.


Leonathan langsung memalingkan wajahnya, dengan pipinya yang sedikit memerah. "Seharusnya, prialah yang menggoda wanita. Tapi ini kebalikannya. Justru wanita yang menggoda pria. Benar benar." Ucap batin Leonathan, tidak mau menatap Luciana lagi, dan fokus sarapan.


Selesai sarapan. Luciana pun langsung mandi, dan setelah beberapa menit mandi. Luciana sudah mengenakan pakaian rapi, dan langsung turun ke ruang tamu.


"Sayang, kamu biar mami antar aja ya," ucap Luciana kepada baby Bing, yang sedang menonton televisi.

__ADS_1


"Iya mami," jawab baby Bing kembali tersenyum.


Leonathan pun datang, dan menghampiri Luciana. Sontak Luciana menatap wajah Leonathan, dan melihat dasinya yang sedikit berantakan. "Sini, biar aku rapikan dasi kamu." Ucap Luciana, dan Leonathan menurut.


"Biar aku yang mengantar kalian berdua. Aku tidak ingin terjadi hal hal yang tidak diinginkan lagi. Biar aku yang mengantar kalian berdua." Ucap Leonathan.


"Iya sayang," jawab Luciana sambil tersenyum, dan merapikan dasi Leonathan.


Selesai merapikan dasinya. Luciana pun merapikan sedikit rambut Leonathan. "Okey, sudah tampan." Ujar Luciana kembali mengedipkan sebelah matanya.


"Kalau begitu, mari kita pergi," ucap Luciana, dan baby Bing langsung menggandeng tangan Luciana.


"Hati hati nyonya dan tuan," ucap bibi.


"Iya bi," jawab Luciana melambaikan tangannya, dan mereka langsung keluar dari rumah, dan masuk ke dalam mobil.


Merekapun menuju sekolah baby Bing. Di perjalanan, baby Bing terus menggandeng tangan Luciana. Leonathan yang duduk paling depan, menatap ke arah cermin depan, dan terus melihat baby Bing, yang menggandeng tangan Luciana.


"Enak banget anak itu ya, menggandeng tangan istriku. Aku saja belum pernah menggandeng tangannya seperti itu. Aku tidak boleh kalah dari anakku sendiri." Ucap batin Leonathan yang cemburu.


"Mami," panggil baby Bing, sambil mengayunkan kakinya.


"Hm, apa sayang mami?" tanya Luciana langsung menatap wajah baby Bing.


"Apa mami akan bekerja?" tanya baby Bing balik.


"Iya sayang. Kenapa memangnya. Apa yang kamu inginkan?" jawab Luciana sekaligus bertanya.


"Aku ingin bermain dengan mami. Gara gara mami bekerja. Mami jadi tidak punya banyak waktu untuk Bing. Tapi kalau mami tidak mau, juga tidak apa apa." Jawab baby Bing masih terus tersenyum, sambil memakan permen kapas.


"Benar juga yang dikatakan Bing. Gara gara aku bekerja, aku tidak punya banyak waktu untuknya. Kasihan dia, seharusnya aku punya banyak waktu, untuk anakku." Ucap batin Luciana.


"Ehm, aku punya ide"

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita pergi ke luar negeri sayang. Kan kita tidak pernah pergi. Bagaimana." Jawab Luciana memiliki ide.


__ADS_2