
Mata sayu, wajah pucat dan sekujur tubuh terkadang merasa panas dingin. Ani beranjak dari kursi, dia memindahkan barang-barang yang masih belum tersusun rapi di dalam lemari hias. Sebuah bingkai foto kecil yang tampak usang, gambaran foto keluarga sebelum semuanya pergi dari dunia fana.
Sosok ibu, yang paling dia rindukan bahkan di setiap detik yang dia rasa. Kehilangan ibu di dalam hidupnya bagai kiamat dan kesedihan yang tidak bisa dihapus. Air mata Ani mulai menetes, semakin dalam dia menahan sesak di dada maka semakin deras bendungan membanjiri.
“Ibu” gumam Ani mengecup foto itu.
Tiba-tiba lampu berkedap-kedip, suara berisik terdengar dari lantai atas. Situasi yang gelap, suara berisik yang memekik telinga dan bayangan yang lewat di balik cahaya kilatan. Suasana rumah sangat mencekam, dia berjalan mundur penuh rasa takut.
“Tolu! Tolu!” ucap Ani.
__ADS_1
Tolu tidak mendengar panggilannya, dia sibuk di ruangan ritual dengan menabur bunga mawar pemberian Togar di atas sebuah wadah yang terbuat dari perak. Tolu mengucapkan mantra akan mengendalikan para jin dan siluman yang sedang bersamanya. Sebisa mungkin dia ingin menjaga Ani, sosok kakak yang tidak mungkin dia benci. Berbeda dengan mengabaikan rasa cinta pada Togar, merubah menjadi kebencian dan bersifat ingin menyakiti agar dia berharap Togar terkena dampak dari ilmu yang dia miliki.
“Tolu!”
Pintu rumah terbuka tutup, terlihat penampakan wajah wanita tua yang memakai baju adat dengan ciri khas kain tenun keemasan. Rambut putih di sanggul, kulit kering berjalan membungkuk mendekatinya.
“Arrghh! Tolu!”
...----------------...
__ADS_1
Situasi di rumah Togar sudah kembali tenang, hanya saja pak Bram yang masih bernafas tersengal-sengal di balik raut wajah yang penuh amarah. DIa tidak mengucap sepatah kata pun, tapi Togar tidak ingin menjadi anak durhaka dengan memilih untuk meninggalkan orang tuanya begitu saja. Dia berlutut di hadapan ayahnya yang memalingkan wajah ke arah lain.
“Ayah, mohon restui pernikahan kami. Demi anak mu” ucap Togar memelas.
Betapa beratnya hati pak Bram, dia menekan perasaan dan hati yang bertolakan. Pak Bram sudah mencari tau tentang segala seluk beluk riwayat keluarga gadis yang Togar kejar sampai saat ini. Dia mengusap kepala, kemudian melepas cincin yang melingkar di jari tengahnya.
“Pakai cincin ini seumur hidup ku, maka aku akan merestui pernikahan mu” pak Bram meletakkan di atas meja.
“Ayah, bukan kah ini cincin peninggalan kakek? Ayah sangat menyukai benda antik ini. Bagaimana bisa aku memilikinya?” kata Togar.
__ADS_1
“Pakailah, itu akan melindungi mu dan sebagai jimat yang ampuh.”
Cincin keramat selama tujuh temurun berisi sosok kodam yang menjaga pemiliknya. Togar mengingat perkataan ayahnya dahulu, ada cerita mistis mengenai cincinnya yang bisa berpindah sendiri ke jari yang memiliki sekalipun terlepas atau terjatuh.