
Para keluarga berpamitan meminta ijin pulang, yang tersisa kini hanyalah Tolu, Togar, Opung parman dan Pak Bram. Mereka menunggu Ani bermandikan air hujan hingga sore menjelang.
Lambat laun, semua yang di cinta kan pergi. Kesendirian dan kesepian seumur hidup pasti semua orang akan merasakannya. Tidak ada yang abadi di dunia ini, daun nyawa akan berguguran sesuai pada waktunya. Dunia hanya tempat singgah, tidak ada yang bisa membaca garis takdir seseorang tanpa karena segala rahasia di langit dan di bumi hanya Allah satu yang mengetahuinya.
“Bang, antar saja Opung dan ayah pulang. Kita harus melaksanakan acara doa di rumah. Mereka sudah basah kuyup, aku takut mereka menjadi sakit” ucap Tolu.
“Kalau begitu akan menyusul mu setelah mengantarkan ayah dan opung” ucap Togar.
Pemakaman ramai berterbangan gagak dan jeritan hewan malam, Ani masih di depan kuburan Tofha. Suaranya sudah hilang dan air mata masih tetap mengalir deras. Tolu berdiri di sampingnya, dia memasang posisi berjaga menatap para makhluk dan iblis yang sedang memperhatikan mereka. Dia memasang mata setan, memperlihatkan kesaktiannya pada para penghuni ghaib di perkampungan kuburan yang arwahnya penasaran. Ada yang ingin memasuki tubuh Ani tapi terpental akibat sihir yang di rantai Tolu.
Orang yang banyak menangis, melamun dan ringkih lemah badannya tidak bergairah menjalani hari akan mudah terkena penyakit a’in dan gangguan setan. Mengetahui sang kakak sedang dalam fase terlemah, Tolu meniupkan sihir ke dalam tubuhnya agar dia tetap tegak dan tidak sampai pingsan terkena aura buruk.
“Kakak, ikhlaskan abang Tohfa. Ingat sekali lagi apa yang dia inginkan dari mu” ucap Tolu.
Pikiran Ani terdetak mendengar kalimat keinginan dari Tohfa untuknya. Harapan Ani agar berhijrah dan bisa di bombing ke jalan yang lurus. Isak tangis Ani Kembali meraung, dia memukul tubuhnya sendiri, karena Ani terlihat sangat histeris, Tolu menepuk punggung Ani tepat di bagian titik nadinya. Ani seketika tidak sadarkan diri, Tolu mengangkatnya berjalan keluar dari taman pemakaman umum menyusuri jalan pulang.
Tin, tin (Suara klakson mobil)
Langkah Tolu terhenti melihat Togar keluar dari kendaraan mengejarnya. Dia memindahkan Ani ke tangan Togar mengikuti Togar memasuki mobil. Ani di tempatkan di kursi belakang di sandarkan pada Pundak Tolu.
“Huffh, sayang. Kau seperti Wanita tidak mempunyai tempat tinggal dan suami saja. Aku kan sudah meminta mu menunggu disana” ucap Togar.
...----------------...
“Innalillahi wa’innailaihi rojiun” ucap Jagad.
__ADS_1
Dia menerima kabar kematian ustadz Gersan. Setelah menerima amanat yang keinginan terakhirnya agar Tohfa mau menikahi Ani seolah sang ustadz bisa berpulang menghadap yang Maha Kuasa dengan tenang. Jagad mengusap dadanya, kini semua takdir sudah menjawab sekalipun anak kesayangannya di ambil Kembali oleh sang Khalik. Sungguh di dalam lubuk hati, dia tidak menyesali pernikahan ini.
“Ibu, bangun bu. Ayo di minum dulu teh hangatnya.”
Jagad memberikan segelas air dengan sangat hati-hati dia meminumkannya.
“Bu, ustadz Gersan menghembuskan nafasnya malam ini di rumah sakit” ucap Jagad.
Jawaban Sekar hanyalah sebuah tangisan, dia seakan Sudah mengalami struk ringan merasakan bagian mati rasa pada urat-urat tangannya yang tidak berhenti gemetaran. Melihat kondisi sang istri bertambah parah, dia membawa ke rumah sakit. Stef ikut menemani sang kakak, Jagad memberi kabar pesan singkat mengenai kematian ustadz Gersan dan kondisi Sekar yang sedang di rawat di rumah sakit pada Bram.
Rumah sepi senyap, terkadang mereka merasakan ada sosok yang mengintai mengawasi.. Di balkon lantai atas menatap arah pintu gerbang. Kuku-kuku setan berterbangan berhamburan menyemai di halaman.
“Ayah, aku mendapat pesan bahwa ustadz Gersan telah meninggal dunia. Di sisi lain, bu Sekar mendadak masuk rumah sakit” ucap Bram.
Dia menekan bagian ujung kepalanya, Bram langsung mencari obat untuknya lalu perlahan memintanya agar tenang.
“Aku tau di bulan suro ini pasti mendatangkan malapetaka. Tapi keluarga mereka menentang dan tidak mempercayainya malah menganggap sebagai mitos belaka. Sekarang kita semua ikut menanggungnya” ucap Parman.
“Ayah kita kesampingkan saja masalah ini. Menantu ku sedang mengandung, aku khawatir kondisi kesehatannya terganggu” ucap Bram.
“Cucu menantu ku itu? Dia sangat kuat dari yang kau lihat. Hahahah!”
“Ayah, kenapa engkau tertawa di tengah kondisi rumah masih berduka? Aku jadi takut engkau kesurupan” celetuk Bram meliriknya.
Tampak mobil Togar memasuki area halaman rumah, Mereka melihat Ani sedang di angkat masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
“Ayo kita lihat mereka” kata Parman.
Kondisi tubuh Ani sangat lemah, dia sudah di periksa oleh dokter Frans dengan tambahan jarum gantung di tangannya. Dokter menyarankan agar semua orang tidak terlalu mengingatkan segala hal tentang Tohfa sebelum kondisinya membaik, terlebih lagi Ani harus tetap di hibur dan di beri penyemangat.
“Kalau begitu saya mohon ijin untuk pamit” ucap dokter terburu-buru.
Ketakutan memasuki rumah itu masih tetap sama, melihat segala gangguan dan wujud menyeramkan di segala sudut ruangan.
“Terimakasih Sudah bisa datang dok,” ucap Togar berjabat tangan dengannya.
Di dalam mobil, Frans langsung menyalakan mesin dan melajukan kecepatan tinggi. Dia berharap secapatnya di pindah tugaskan dari kampung itu agar tidak mati ketakutan setiap hari. Walau hanya keluarga Bram yang menjadi sumber pemasukan terbesar sebagai dokter keluarga, dia tetap ingin hidup tenang tanpa di hantui makhluk halus.
Di keheningan malam, Ani memeluk bekas bantal peninggalan Tohfa. Dia menangis meratapi kepergian suaminya. Hidup bagai makan buah simalakama, jika dia tidak meminum air dari Tolu maka Tofha akan memandangnya sebagai Wanita tua keriput yang berkulit gosong. Semua berawal dari Sandro yang menyantetnya sehingga dia bagai hidup Kembali di selamatkan oleh sang adik.
“Suami ku mas Tohfa. Aku berjanji akan memenuhi keinginan terakhir mu,” batin Ani.
Tidak ada yang mengetahui kepergian ani di malam itu. Dia melepaskan sendiri jarum infus di tangannya dan melarikan diri sejauh mungkin. Hanya berbekal sebuah tas yang berisi beberapa potong baju, mukenah dan beberapa lembar uang di tangan. Ani menghilang dalam semalam, pak Dadar yang bertugas berjaga di pos tidak mengetahui dia berjalan mengendap-endap melewatinya.
Di pagi hari Ketika si mbok mengetuk pintu, Ani tidak menyahut dari dalam. Berpikir sang majikan masih tertidur dengan posisi jarum infus yang harus di ganti, si mbok masuk begitu terkejut melihat Ani tidak ada di tempat tidurnya.
Prangg (gelas jatuh).
“Kemana perginya non Ani?” gumamnya.
Isi kepalanya tidak karuan, dia berputar-putar mencari di segala ruangan. Seisi rumah dia masuki hingga sampai ke luar halaman namun tidak menemukan dimana sang majikan.
__ADS_1