Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Rampas jiwa


__ADS_3

Tidak ada yang memenangkan pertarungan sengit ini. Kedua ilmu hitam beradu melayang membakar dahan dan ranting, kekuatan ilmu hitam dahsyat menghempas sayatan leher si kepala putung. Dunia ini terlalu banyak energi ghaib berbenturan. Sosok kuyang sangat marah ketika dia tidak bisa menyerang balik Tolu. Dia berjanji akan kembali menuntut balas dan memakan janin yang sedang tumbuh di perut dukun itu.


“Anak mu akan mati!” ucap si kepala putung melayang pergi meninggalkannya.


Mendengar ucapan si kuyang, Tolu mengusap perutnya sendiri. Dia mengingat kejadian pada saat Togar mabuk berat telah melakukan sesuatu di luar kendali.


“Sungguh aku belum ingin memiliki seseorang anak. Tapi kenapa aku belum merasakan detak jantung bayi?" gumam Tolu.


Bagai makhluk liar tidak terkendali, dia mengerang di dalam hutan. Rambut acak-acakan, tubuh kotor berlumpur dan ada bekas darah di bibirnya. Togar mengetahui sang istri tidak berada di sampingnya, dia langsung menyusul mencari di ruangan persemedian berlanjut di hutan. Menyorot sosok mengerikan menatap matanya dengan cahaya menyala.


“Tolu, apakah itu kau?” ucap Togar mendekati.


Dia membalikkan tubuh, berjalan ke arah jurang sambil melambaikan tangan. Sedikit lagi, Togar terjatuh ke dalam jurang jika Tolu tidak menariknya. Setengah sadar wanita itu menatap siapa sosok yang ada di hadapan.


“Ayo kita pulang” ajak Togar.


Menatap keadaan sang istri begitu mengiris perasaannya. Dia menggenggam tangan Tolu yang dingin dan kaku. Di perjalanan, Togar sesekali menoleh, sekujur bulu kuduk merinding tertahan. Dia melakukan rem mendadak, sosok penampakan makhluk hitam besar tertabrak oleh mereka.


“Tetap jalan kan mobilnya” kata Tolu menyeringai.


Togar menuruti perkataannya, dia menabrak sosok mengerikan itu penuh rasa bergetar sambil mengucapkan lafazh surah pendek di dalam hati.


“Arggh! Hentikan!” ucap Tolu menutup telinga.


Kring, kring (Bunyi ponsel)


“Hallo, Assalamua’laikum,” Togar mengecilkan suara.


“Walaikumsalam, aku melihat istri mu sedang berdiri di tepi sungai Mahakam” ucap Semi.


“Tidak mungkin, dia sekarang sedang di samping ku.”


“Apa?”


Semi tiba-tiba memutuskan panggilan.


...----------------...


Di depan rumah sudah terparkir sebuah mobil berwarna silver, opung Parman duduk menarik kumis tipisnya memegang tongkat di tangan. Ukiran tongkat kepala ular, dia menatap Tolu lalu menghela nafas panjang.


“Opung, kenapa tidak mengabari ku sebelumnya? Biar aku saja yang menjemput kakek kesini” ucap Togar.

__ADS_1


“Aku khawatir dengan kalian. Lihatlah cucu menantu ku itu, cepat segera bersihkan tubuh mu nak” ucap Parman.


“Ya opung, aku tinggal dulu” jawab Tolu.


Melihat Tolu sudah pergi, Parman menarik tangan Togar ke sudut pilar rumah. Dia memberikan sebuah bungkusan kecil di tangannya.


“Taburkan ini di balik bantal istri mu. Sebagai suami, kau harus tau wujud aslinya.”


“Tapi pung__” Togar menyela ucapan.


“Tidak ada tapi-tapian. Kau harus memutuskan untuk tetap bersamanya atau merelakannya. Aku sudah tau siapa istri mu.”


Terlihat ketidak setujuan Parman setelah mengetahui jati diri sang menantu. Togar mengernyitkan dahi, dia terpaksa menerima pemberian sang opung.


...----------------...


“Kemana opung Parman?” tanya Tolu.


“Sudah pulang, ayo kita istirahat,” kata Togar menarik selimutnya.


Sebelum Tolu masuk ke kamar, Togar sudah menaburkan isi bungkusan di balik bantalnya. Tolu merasakan sesuatu di balik bantal ketika dia merebahkan tubuh. Dia tidak ingin membalik benda itu dan mengamati hal apa yang di lakukan Togar padanya.


“Jadi ini tujuan kakek mu menyalakan suara ketidak setujuan dan ingin memperlihatkan siapa aku di depan mu?” gumam Tolu.


“Apakah ini yang di katakana kakek?” gumam Togar menyentuh pundaknya.


Sosok itu tidak bergeming, tangan berkuku panjang menyentuh lengan Togar.


“Argghh!” teriak Togar.


Togar terbangun di dalam mimpi yang seolah nyata baginya. Tapi, melihat Tolu benar-benar berubah menjadi sosok di dalam mimpinya.


“Sayang, katakan bahwa itu bukan kau?” ucap Togar.


“Aku disini” ucap Tolu berdiri di didi ranjang memegang tumpukan kalajengking di tangannya.


“Arggh!” jerit Togar.


Berlari menuruni anak tangga, ponsel Togar kembali berdering panggilan suara tertanda Semi. Nafas memburu mengangkat telpon di balik pintu dapur dia melihat apakah sosok mengerikan berwujud istrinya tadi masih mengejar.


“Ada apa?” bisik Togar.

__ADS_1


“Aku benar-benar melihat istri mu disini” ucap Semi.


“Dia sedang tidur, aku rasa itu bukan istri ku.”


“Kau dengar sendiri saja.” Semi memberikan ponsel pada Tolu.


Di dalam panggilan suara itu terdengar suara istrinya berkali-kali menyapa dan mengucapkan namanya.


“Tolu kenapa kau disana? Sayang, aku akan datang menjemput mu.”


Togar menutup telepon mencari kunci mobil. Pak Dadar terhentak dari tidur mendengar suara klakson panjang Togar meminta gerbang untuk di buka.


“Sebentar den” ucap Dadar berlari membukanya.


Di tepi sungai Mahakam, Tolu melepaskan kepalanya lalu memindahkan ke tangan Semi. Pria itu sangat terkejut bukan kepalang menyadari sosok lain berubah wujud menjadi kepala putung.


“Kau bukan Tolu!” ucap Semi berlari melemparkan kepala putung.


Dia mencari ibunya di dalam rumah, terkejut badan lemas di atas ubin melihat kematian sang ibu dengan organ tubuh terurai. Kuyang sudah merajalela , Semi mencari senjata tajam mengantisipasi jika kuyang kembali mengejar. Dadanya robek terkena cabikan si kuyang, dia menyeret langkah ke teras rumah. Melihat mobil Togar parkir di depan halaman, dia mengetuk kaca mobil lalu segera masuk ketika Togar membukakan pintu.


“Cepat nyalakan mesinnya, dia bukan istri mu Tolu!” ucap Sem.


“Apa?” Togar mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.


“Kita ke kantor polisi terlebih dahulu. Ibu ku meninggal di bunuh kuyang di makhluk iblis” ucap Semi.


“Tidak, kita harus memastikan di rumah itu adalah istri ku. Aku juga mengkhawatirkan kak Ani.”


Memasuki area perkampungan dan sampai di depan gerbang. Suara aneh dan kepala terbang berhenti mengejar mereka. Rumah yang sudah di pagari dengan sihir dan rantai penjagaan oleh Tolu membuat mereka aman.


“Tolu! Kak Ani!” teriak Togar mencari mereka.


“Ada apa den?” si mbok menghampiri. Dia menghentikan aktivitas membersihkan rumah, tuan rumah yang tampak sangat panik itu melingak-linguk ke segala arah.


“Dimana Tolu dan Ani?”


“Ibu dan nyonya besar sudah pergi sejak tadi pagi den. Mereka mengatakan akan ke pasar” shaut si mbok.


...----------------...


Duduk di ruang tamu dengan tangan saling melipat di depan dada. Hening pikiran kacau, terutama Semi memikirkan nasib ibunya. Dia sudah melaporkan kejadian itu kepada pihak aparat kepolisian. Kacau pikirannya tidak bisa berada di sisi sang ibu.

__ADS_1


“Bagaimana ini? aku akan pergi sekarang melihat mayat ibu ku” ucap Semi.


“Hei tenanglah, jangan kau korban kan nyawa mu secara sia-sia untuk makhluk jahanam itu,” ucap Togar.


__ADS_2