Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Racun


__ADS_3

“Aku seperti orang penyakitan, berkali-kali pingsan dan menyusahkan mu” ucap Ani.


Tolu membantu dia duduk di tepi kasur,dia mengeluarkan semua unek-unek akan pandangan mengenai Tohfa. Begitupun kedatangannya pagi ini yang mengajaknya untuk pergi ke pengajian di masjid dekat perkotaan.


“Kakak, aku akan selalu mendukung semua kemauan mu. Pergilah dengan pria baik itu” ucap Tolu.


Ani memeluk adiknya itu dengan penuh kasih sayang. Siapa yang menyangka kedekatan Tohfa pada Ani atas perintah dari ustad Gersan. Ustadz sesepuh yang sudah berusia lanjut yang sangat dekat dengan orang tua mereka itu menginginkan mereka untuk bertobat. Tepat pukul satu siang, Tohfa sudah sampai menjemput Ani. Wanita itu belum bersiap karena waktu yang di janjikan adalah pukul dua siang.


“Kenapa dia cepat sekali menjemput ku?” gumam Ani.


“Mbok, katakana pada Tohfa agar menunggu ku sebentar lagi” ucap Ani.


“Ya non.”


Menetapkan hati kembali, dia memakai pakaian tertutup sambil menghela nafas panjang. Setengah jam berlalu, kini dia sudah siap untuk pergi. Mata Tohfa tidak berhenti melihat Ani, dia mengusap wajah laku beristighfar menunduk mencari arah lain.


“Ayo” kata Ani.


Tofha membonceng Ani mengendarai sepeda motor bebeknya. Di tengah perjalanan, Tohfa menepikan kendaraan membeli setangkai bunga mawar di berikan kepada Ani.


“Aku tidak menyangka engkau bisa romantis seperti ini” ucap Ani.


“Bunga ini adalah pesanan ustadz Gersan. Tolong pegang baik-baik ya” jawab Tohfa.


Glek. (Mata Ani melotot)


“Ya,” jawab Ani singkat.


Di dalam masjid, Ani sedikit menggigil menahan rasa dingin bercampur panas. Belum seutuhnya energi hitam di dalam tubuhnya luntur. Pengajian, pembukaan membaca surah Yasin seolah menerjang tubuhnya sampai menusuk jantung. Dia keringat dingin, mata lurus melihat para makhluk di luar masjid seperti sedang menunggunya.


“Pergi!” gumam Ani.

__ADS_1


“Ibu tidak apa-apa?” tanya seorang wanita bercadar.


“Saya merasa sangat kepanasan” kata Ani mengibaskan jilbab.


“Mari saya temani ke teras masjid sejenak” ucapnya.


Di teras masjid angin sepoi-sepoi, sejuk dengan pemandangan mata melihat penghijauan tumbuhan di sekitarnya. Wanita bercadar itu memberikan sebuah botol aqua kecil kepada Ani. Dari ujung jalan, seorang anak laki-laki kecil berlari memeluknya. Di hanya mengenakan kaos singlet dengan celana pendek yang di kenakan.


“Terimakasih untuk airnya. Oh iya, Ini anak mu?” tanya Ani.


“Ya bu, sebelumnya kita belum berkenalan. Nama mu adalah Khadijah,” ucapnya mengulurkan tangan.


“Nama ku Ani, saya sudah merasa sedikit lebih baik. Ayo kita masuk kembali masuk” ajak Ani.


Melantunkan ayat suci Al qu’an, berdzikir dan sholat berjamaah bersama. Ani setengah mati menahan hawa panas dingin dan rasa sakit pada bagian jantungnya. Setelah selesai, Ani menunggu Tohfa di halaman masjid. Tohfa menghampiri dengan sepeda motornya memberi sinyal agar Ani segera naik ke boncengan.


“Ayo” kata Tohfa.


Ani membenahi roknya yang panjang agar tidak tersangkut jari-jari kereta. Sinar senja di sore hari membawa rasa rindu pada seseorang yang telah pergi. Ani berandai-andai jika kedua orang tuanya masih hidup dan melihat ada seorang pria yang sholeh sedang mendekati putrinya. Menatap punggung Tohfa lebih dekat, Ani memutar ulang semua garis kejadian dan pertemuan dia dan pria baik itu.


Ani terdiam sejenak, dia lalu menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Tohfa.


“Mas Tohfa, apapun yang di gariskan oleh Yang Maha Kuasa. Aku akan tetap berusaha ikhlas menerimanya” ucap Ani.


Setelah sampai di depan pintu gerbang, Tohfa mengantar sampai si mbok membukakan pintu. Tohfa berpamitan dan menyampaikan salam untuk Tolu. Saling melambaikan tangan dan tersenyum, langit indah di sore hari menjadi saksi harapan putih untuk hidup Ani.


...----------------...


Di sisi lain di rumah nenek Trim, bendera kuning dan keranda mayat sudah di persiapkan untuk mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Para pelayat memadati rumah duka, tangis Norman pecah di sela penderitaan seumur hidup menanggung kehilangan satu tangannya yang telah di amputasi. Menyesal tiada guna setelah kehilangan, semua nasehat itu sudah tidak berarti karena nenek Trim sudah menutup mata untuk selamanya.


Pesan terakhir dari sang nenek adalah bahwa Norman harus meminta maaf kepada Tolu dan keluarganya. Tapi kekecewaan, rasa sesal pada dirinya berubah menjadi rasa benci untuk menuntut semua perbuatan yang di lakukan mereka.

__ADS_1


“Aku harus membunuh mereka semua” gumam Norman saat melihat mayat neneknya di masukkan ke liang lahat.


Bunga di taburkan, surah Al kautsar sebagai air minum bersama do’a yang di panjatkan.


Selepas pergi dari pemakaman, langkah Norman tertatih mencari ke sebuah alamat rumah tempat seorang dukun yang berada di dalam hutan. Dukun yang masih berusia muda itu mencari ilmu sesat secara instan melalui ritual pemujaan setan. Langkah kaki Norman berhenti tepat di depan gubuk yang di kelilingi obor. Kali ini dia melakukan kesalahan lagi hanya untuk melampiaskan dendam dan amarahnya.


“Masuk” suara pria dari dalam terdengar beringas.


Dia menggidikan tubuh, aroma anyir menyengat di atas meja hitam terpajang wadah yang terbuat dari batok kelapa. Ada cacing yang menggeliat, belatung, darah, bunga dan kepala tulang tengkorak yang mengeluarkan cacing dari kelopak matanya.


“Pak, aku ingin meminta bantuan mu” ucap Norman.


“Apa yang engkau tawarkan pada ku?” tanya si pria itu.


Norman memberikan selembar uang berwarna merah, sontak pria itu tertawa terbahak-bahak menggelengkan kepala.


“Hanya ini saja kau datang jauh-jauh kesini? Memangnya bantuan ringan apa yang kau inginkan?” tanya si dukun.


“Aku mau membalaskan dendam pada dukun Tolu dan keluarganya” ucapnya.


“Hahaha, hahaha. Aku tidak heran banyak yang ingin membunuh mereka. Aku juga sedang mencari cara mengambil batu mustika wanita itu” ucap si dukun menabur kemenyan di atas bara api.


“Kau harus menyiapkan persyaratan yang sangat berat. Kau tidak akan sanggup memenuhinya.”


“Apapun persyaratannya akan aku lakoni.”


“Tidak, dia sudah menumbalkan kepala manusia. Kau tidak akan bisa melawannya kecuali dengan darah mu sendiri” kata si dukun.


“Aku akan memberikan darah ku jika itu memang yang harus di lakukan.”


Permintaannya itu segera di kabulkan oleh si dukun. Dia merebahkan diri di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu. Tubuhnya di siram air bunga dan di beri mantra. Seketika dia tegang melotot kesakitan saat dukun itu menggores pergelangan tangannya.

__ADS_1


“Ssthhh, arggh!” ucapnya kesakitan.


Darahnya di tampung di sebuah ember hitam. Dia sangat kesakitan, menggigil tubuhnya menahan rasa sakit.


__ADS_2