Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Transaksi empuni


__ADS_3

Waktu tidak akan binasa, dunia fana di isi lembaran cerita sedu sedan di atas tragedi cerita ghaib dalam kurun jelmaan kehadiran makhluk astral mencari tempat dan rumah menempati tubuh manusia.


Sekujur tubuh sudah bermandikan keringat, dia sudah menyelesaikan peringatan di balik serangan berbalik kepada para dukun santet. Tangan masih di lumuri bekas darah, meski sudah di bersihkan. Saat Kembali ke kamar, Togar sudah terlihat tertidur pulas, wajah kelelahan dan ponsel masih menyala di tangannya.


Tolu memeriksa ponsel itu di samping Togar, dia melihat tumpukan album foto berisi semua wajahnya yang di ambil secara tanpa sengaja. Pusat perhatian tertuju pada bayangan putih dan bayangan hitam di beberapa fotonya. Dia berpikir pasti itu adalah sosok penunggu ghaib yang mengikuti dirinya sedang tertangkap oleh kamera.


“Sayang, kau tidak tidur?” ucap Togar terbangun.


“Sebentar lagi aku akan tidur” jawab Tolu singkat lalu meletakkan ponsel.


Tolu memalingkan tubuh, dia enggan berhadapan, jarak mereka di beri penghalang oleh dua bantal guling. Meskipun begitu, tangan Togar tetap berusaha menggapai Pundak Tolu dan menggenggam dengan erat. Malam ini adalah malam bulan purnama, cahaya terang bisa di jadikan meditasi dan pemanggilan makhluk halus.


Meski Tolu sudah berada di dalam alam tidur, dia sedang berusaha Lorong waktu ghaib menuju kaki gunung di pertengahan hutan. Ketika dia memasuki gua, telah hadir sosok makhluk jelmaan yang berbaju hitam bermata merah menggerakkan akar menjuntai di tangan kananya.

__ADS_1


“Untuk apa kau mencari ku?" tanya makhluk tersebut.


“Aku mau menanyakan tentang ilmu kesempurnaan tanpa harus kalah dan di kalahkan oleh semua penguasa ilmu di dunia ini” kata Tolu.


Membalas tatapan liar makhluk mengerikan, kaki tidak goyah walau sosok mengerikan melingkarkan akar di tubuhnya.


“Lihat lah keserakahan manusia yang tidak pernah puas dengan apapun yang dia punya. Meski kau memiliki semua itu, ilmu putih yang istimewa itu semakin lama akan tenggelam di dalam diri mu. Dia tidak bisa menjadi penawar lagi jika kau dalam situasi kesakitan!” kata jin lelaki tua memberi penjelasan.


“Apalagi yang bisa aku lakukan di dunia ini untuk membantu orang di sekitarku jika aku tidak mempunyai ilmu kekebalan dan empuni. Sejak awal, aku sudah memutuskan jalan ku sendiri dan kau memberikan tawaran pada ku bukan?”


Tolu membuka mata, dia menoleh tidak ada lagi Togar di sampingnya. Dia mengira setelah transaksi tadi malam berdampak pada Togar.


“Apakah dia di bawa oleh makhluk itu sebagai pengganti permintaan ku? Aku tidak mengira bahwa dia sasarannya” gumam Tolu.

__ADS_1


Air matanya tanpa terasa menetes, hujan di pagi hari di cuaca yang cerah. Togar menghilang dalam semalam, bagaimana lagi semua ini di sebut kata kejayaan empuni? Tolu mencabik bantal melampiaskan rasa kekesalan hingga seisi kamar berhamburan dakron.


Krekk (Suara pintu terbuka).


Togar hadir membawa sebuah nampan dengan dua cangkir teh di atasnya.


“Sayang, ada apa dengan diri mu? Kenapa kau?” tanya Togar.


Dia meletakkan nampan di atas meja dan bergegas memeluknya.


“Apakah kau baik-baik saja?” lirih suara Tolu bergetar.


Togar menyeka air matanya, wajah wanita tegar itu tidak pernah menunjukkan raut kesedihan seperti sekarang.

__ADS_1


“Aku masih disini sayang, aku akan selalu ada Bersama mu.”


__ADS_2