Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Balada kekasih mistis


__ADS_3

Masa tidak terkendali oleh waktu, meski detik yang terdapat di jarum jam mengisahkan berbagai macam kejadian hidup. Derita terbilang kata asa , semua makhluk yang bernyawa di dunia ini tidak terlepas dari duka. Bahagia terbilang hanya seujung kuku, atau seutas tali yang bisa terputus sewaktu-waktu.


Tolu meraih tisu yang ada di jok mobil, dia mengusap keringat yang bercucuran deras.


Tubuhnya terasa keringat dingin, kepala begitu pusing. Tanpa terasa, keluar darah segar dari hidungnya. Dia memalingkan pandangan ke sisi kiri. Menarik nafas lalu menutup hidung, tidka memperdulikan bagaimana nafasnya akan terhenti atau lemah. Kira-kira darah terhenti, Tolu mencari telepon genggam dan melihat keadaannya dari kamera handphone depan.


“Sayang, aku sudah berstatus sebagai suami mu. Jadi, beritahu aku nomor hp atau nomor apapun tentang mu” celetuk Togar memperhatikannya.


“Jangan macam-macam kau!” bentak Tolu.


“Kenapa harus bersikap dingin dengan suami sendiri. Lihatlah, wajah mu terlihat begitu pucat. Perjalanan kita masih jauh, aku akan mencari apotik terdekat untuk mencari obat untuk mu” ucap Togar.

__ADS_1


“Aku tidak suka obat!” ketus Tolu.


“Sayang, jangan menolak ku. Bukan kah kita telah hidup bersama. Sakit mu adalah sakit ku juga.”


Togar menepikan kendaraan lalu menyentuh dahi Tolu yang terasa panas. Sebelum keluar dari kendaraan dari san, dia memastikan posisi duduk wanita itu apakah sudah nyaman dan memintanya untuk menunggu. Togar membeli satu papan paracetamol tablet dan vitamin. Setelah keluar apotik, dia menyebrang jalan mencari nasi yang berisi lauk daging panggang. Apapun hal yang di sukai istrinya itu akan dia berikan, dia yang berusaha selalu menyenangkan hati Tolu.


“Sayang, aku membawakan nasi bungkus, Sini aku akan menyuapi mu” ucap Togar membuka bungkusan dan mencari sendok plastik yang terselip di dalamnya.


“Aku tidak lapar” kata Tolu.


Dia mematuhi perkataan Togar, lahap sekali Tolu menerima suapan dari tangannya tanpa terasa nasi beserta lauknya pun telah habis. Selanjutnya Togar memberikannya obat, sesekali dia tersenyum memperhatikan raut wajahnya.

__ADS_1


“Sudah, kau memperlakukan ku seperti anak kecil saja” ucap Tolu mendengus.


Obat dan nasi telah habis, dia bahagia kini Tolu perlahan telah menerima dirinya. Ketika perjalanan memasuki area hutan, burung gagak berterbangan menghinggap ke salah satu batang kaca spion. Tolu melotot menghembus melalui sihir agar gagak menjauh. Menyadari kekuatan ghaib yang terdapat dari hewan tersebut akan membawa hal buruk. Tolu menepuk pundak Togar, dia meminta agar mobil terhenti.


“Ada apa sayang?” tanya Togar.


“Berhenti. Keluar dan siram bekas kaki gagak tadi” ucap Tolu melotot sambil meneruskan mantra di dalam hati.


“Kita tidak bisa keluar dari kendaraan di tengah hutan belantara seperti ini. Ini tidak seperti hutan familiar di daerah kita. Sayang, aku tidak mau terjadi apapun dengan mu jika aku meninggalkan mu” kata Togar menjelaskan.


“Cepat siram!” bentak Tolu melotot.

__ADS_1


Ada makhluk halus yang sudah memuntahkan belatung dan jejak aura buruk di mobil mereka. Togar terpaksa mendengarkan perkataannya. Dia meraih botol air dari tangan Tolu lalu keluar untuk menyiram kaca spionnya. Mata Tolu membelalak melihat bayangan jin yang mendekati Togar, dia menghembuskan mantra kemudian turun dan mendekati Togar. Sedetik melihat Tolu, jin itu pun langsung menghilang.


“Sayang, tunggu aku di dalam saja” Togar menarik tangannya masuk ke dalam mobil.


__ADS_2