Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Luntang lantung


__ADS_3

“Ada apa dengan kak Ani?” tanya Togar sambil menggendong Sadam.


“Aku tidak tau, temani saja Sadam di kamar. Aku akan naik ke ruangan ku.”


Langkah Tolu masuk ke ruangan pribadinya di ikuti oleh Tono. Pria itu mencari celah dari segala lubang di sekitar pintu maupun jendela. Dia juga menempelkan telinga pada dinding menggunakan sebuah gelas bening. Tolu mengetahui ada orang di luar sana yang mengikuti hingga pintu itu sengaja dia banting dan buka memperlihatkan wajah Tono yang ketakutan.


“Maaf non, saya tadi mencari benda di sekitar sini” ucapnya bergerak merangkak lalu berlari.


Nafas memburu, di bawa anak tangga dia mendongak ke atas memastikan sang majikan tidak ikut. Tepukan pundak dari belakang, si mbok melotot menjewer telinga Tono menarik menuju dapur.


“Pasti kau buat masalah lagi” kata si mbok menarik telinga lebih keras.


“Duh, sakit bu! Maaf aku tadi mengikuti nyonya besar. Ruangan itu seperti sedang memanggilku untuk masuk” kata Tono.


“Alasan mu saja, sekarang bantu aku mengepel anak tangga ini.”


Tono mematuhi perintah si ibu, dia membawa kain pel dan dua ember yang berisi air. Sudah dua kali dia membersihkan dan mengganti air tersebut. Aroma anyir bercampur bekas darah Tina tidak mau hilang dari ubin. Keanehan berlanjut, ketika dia sedang mengangkat ember tiba-tiba kakinya di tarik makhluk astral hingga kepalanya terbentur lantai.


“Hantu!” jerit Tono. Lantai basah sudah tidak di hiraukan lagi, Tono berlari terbirit-birit mencari si mbok.


Langkah si mbok terhenti melihat kekacauan di ruang tengah, anak tangga dan lantai berlumpur. Ember dan kain pel tergeletak di segala sisi.


“Dasar anak itu susah sekali di atur! Aku harus memberinya pelajaran!” gumam si mbok.


Dia mengambil alih pekerjaan anaknya yang terbengkalai. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Setelah selesai, si mbok mencari Tono di kamarnya. Tono duduk memeluk kedua kakinya, dia ketakutan langsung menceritakan semua hal yang dia alami.


“Sudah, ambil air wudhu dan pergilah ke surau terdekat. Tenangkan diri mu disana” ucap si mbok.

__ADS_1


...----------------...


Hal yang menimpa Ani kini bukan lagi berhubungan dengan makhluk ghaib melainkan pemikiran lain yang sudah merasuk ke dalam jiwa kejahatan akibat rasa frustasi yang ada pada dirinya sendiri. Dia seakan sudah setengah gila, semua hal kejadian hidup berujung insiden terakhir kali pembakaran dirinya yang di lakukan di pondok pesantren.


Tolu memutar air di atas bunga yang bertaburan. Dia tidak merasakan ada gangguan ghaib lagi pada diri Ani. Begitupun semua sihir hembusan mantra di yang akan mengganggu sang kakak.


“Apa yang terjadi dengan kakak ku?” gumam Tolu.


“Inang, wanita itu bukan lah diri nya lagi. Tondi nya telah pergi, dia hidup di dalam waktu kematiannya yang seharusnya sudah terjadi” gema suara makhluk ghaib salah satu peliharaannya.


“Tidak! Tidak mungkin!” ucap Tolu gerakan tangan terus memutar membentuk pusara air di dalam wadah.


“Dia benar inang, manusia itu seharusnya telah pergi dari dunia. Kau menahannya dengan mantra setelah melepaskan ikatan santet dari pria yang bernama Sandro” gema suara begu ganjang berwujud hitam legam.


“Tidak! Pria itu sudah aku musnahkan. Kenapa jadi Ani yang menanggung semua derita ini?”


“Ya benar, dia telah kau bunuh. Tapi tetap saja, dari awal dia berpaling melepaskan mantra mencoba keberuntungan yang tidak pernah dia dapatkan. Ahahah.”


Perilaku aneh Ani di dalam kamar, dia merogoh sesuatu yang dia sembunyikan di balik salah satu bingkai foto di kamarnya. Sebuah pisau silet lalu mengambil foto di dalam bingkai. Foto Ani dan Tolu yang dia sayat sampai bagian potongan kecil. Aksi nya bukan hanya sampai disitu, dia menyayat tangannya sendiri. Ada dua puluh sayatan di kedua tangan, Ani berteriak minta tolong dengan nada melengking bertingkah seperti orang kesurupan.


“Argghh! Tolong!” teriaknya.


Dia membuka jendela lebar-lebar, berdiri di atasnya sambil merentangkan tangan.


Dubrak (Togar mendobrak pintu).


Dia berlari menangkap pinggang Ani, wanita itu membalas pelukan Togar hingga akhirnya keduanya terjatuh di dekat kasur.

__ADS_1


“Kakak, apa yang kau lakukan?” tanya Togar melepaskan tangan Ani yang mencengkram kuat tubuhnya.


Pemandangan itu di saksikan Tolu, dia hanya menatap datar keduanya memperhatikan Ani yang tidak mau melepaskan Togar meski sudah di dorong sangat kuat.


“Kak, lepaskan aku!” teriak Togar.


Tolu masuk ke dalam kamar, dia menutup rapat pintu. Kemudian dia keluar menyiram Ani dengan air yang sudah dia bawa sebelumnya. Dia meminta Togar menjauh, kaki dan tangan Ani di ikat kemudian tubuhnya di tutupi dengan kain putih. Tolu menekan kepala bagian ubun-ubun sang kakak, menghembuskan mantra mengirim sosok lain untuk masuk ke dalam tubuhnya.


“Lepaskan aku!” jerit Ani.


Tot, tok (Suara ketukan pintu).


“Non, ada apa non? Si mbok khawatir” panggil si mbok dari luar.


“Katakan pada pak Dadar untuk menyiapkan mobil mbok!” perintah Tolu dari dalam.


Pagi yang kacau balau, bekas darah Ani membekas di kamarnya. Dia di bawa oleh Tolu dan Togar ke rumah sakit jiwa sebelumnya semua luka di tubuh di obati. Menyadari sang kakak sudah berkepribadian ganda, rasa sedih di tutupi di sisi lain ke khawatiran meninggalkan Sadam di rumah bersama para pekerja mereka.


“Seharusnya Sadam sudah di asuh oleh dua orang perawat yang sudah di tugaskan dari kota, aneh sekali mereka sampai saat ini belum sampai atau memberi kabar padaku. Dan satu lagi, wahai istri ku kejadian tadi tidak aku sengaja sebelumnya. Kak Ani yang_” dia menghentikan pembicaraan.


Tatapan sinis Tolu dan gerakan tangan menutup mulutnya. Tubuh suaminya itu benar-benar beraroma darah, tidak ada waktu untuk berganti pakaian. Di dalam mobil keduanya memegangi tubuh Ani yang terus menggeliat kesana kemari.


“Togar, sebelum kita benar-benar sampai ke rumah sakit jiwa. Bantu aku memilih yang terbaik untuk kakak ku. Apakah aku harus mengirimnya ke hutan atau ke rumah sakit jiwa?” tanya Tolu.


“Sayang, kak Ani adalah manusia. Dia bukan hewan buas yang secara brutal di lepas ke liar” jawab Togar.


“Di hutan, aku akan menempatkannya di dalam gua dan memberikan semua ilmu ku padanya. Aku dan kak Ani akan bersemedi selama empat puluh hari.”

__ADS_1


“Tidak! Bagaimana dengan Sadam? Aku tidak akan menyetujuinya!”


Pembicaraan mereka di dengar Dadar, pria itu semakin ketakutan bergetar sesekali melihat Ani dari mobil. Dia hampir menabrak truk angkutan kayu jika Tolu tidak menghembuskan mantra kesadaran untuknya. Dadar melihat penumpang lain yang berada di dalam mobil, sosok iblis bertanduk bermata merah menyala menyeringai kepadanya.


__ADS_2