
Perjalanan memakan waku selama berjam-jam, hingga tanpa sadar kepala wanita itu bersandar padanya. Togar memperlambat laju kendaraan, dia berharap jam akan berhenti agar wanita yang di sampingnya tetap terjaga. Angan-angan pak belalang itu hanya di kabulkan sebentar oleh hitungan detik. Tolu membuka mata membenarkan kembali posisi duduk dan meneruskan mantra di dalam hati.
Mereka pun tiba di depan rumah berbentuk bangunan nuansa klasik. Meski rumah tersebut tidak memiliki lantai atas atau pilar yang merah. Tapi, bentuk arsitektur padukan kolam air mancur di depannya menambah kesan mewah. Mobil mereka memasuki depan rumah, pria berambut putih seakan mengetahui kedatangan mereka itu langsung terdiri menyambutnya.
Kakek Parman, ayah dari pak Bram tersenyum menaikkan kumis tipis ke arah mereka. Meskipun usianya terbilang sudah satu abad, dia terlihat segar bugar bersama kulit-kulitnya yang tidak terlihat keriput. Tolu merasakan aura yang sama pada cincin yang di kenakan oleh Togar. Kini dia mengerti dari mana asal usul cincin yang tidak dia sukai itu. Tolu mencuri pandang menuju kolam air mancur. Dia melihat sosok wanita yang bisa menjadi penjaga atau mungkin mencari tumbal para manusia yang memiliki tanggal jawa keistimewaan.
“Assalamu’alaikum, kakek aku datang membawa istri ku Tolu” ucap Togar.
“Walaikumsalam, selamat datang cucu-cucu ku” jawab Parman.
Togar dan Tolu mencium punggung tangannya. Mereka masuk ke ruang tamu di sambut dua orang pekerja yang membungkuk ke arah mereka. Mereka di persilahkan duduk di kursi Jati yang berukuran besar. Ruangan itu sangat luas, keunikan pada lemari hias yang di dalamnya tersusun berbagai macam cincin bebatuan yang langka.
“Tolu, bagaimana perjalanan selama kesini? Kakek tau engkau pasti sangat kelelahan” ucap Parman memperhatikannya.
“Aku tidak apa-apa kakek, senang bisa bertemu dengan mu” jawab Tolu.
“Hahah, kau bisa sangat unik sekali. Lihatlah diri mu begitu canggung dengan kakek mu sendiri” Parman membuka lemari hias dan mengambil sebuah cincin di dalamnya.
“Terimalah, jika tidak pas pada jari-jari mu maka kau bisa menukarnya. Ambil beberapa cincin di dalam sini” kata Parman.
“Terimakasih kakek.”
Tolu merasakan cincin mempunyai hal magis menarik kuat. Sebelum memasang ke jari manis , Tolu melihat bayangan hitam sangat besar menatap tajam mengeluarkan belatung bertumpahan. Dia pun menghembus mantra agar sosok itu tidak mendekati dirinya ketika dia memakai cincin tersebut. Tolu memasang cincin di jari tengah sebelah kiri. Parman tersenyum memperhatikan cincin begitu pas dan serasi dengan warna kulitnya.
“Bagus sayang” bisik Togar.
__ADS_1
“Tolu, apakah kau menyukainya? Kau boleh memilih cincin yang lain di dalam sana” ucap Parman.
“Terimakasih kakek, aku akan memilih dengan senang hati” jawab Tolu.
...----------------...
Di meja-meja ritual, kiriman sihir dan santet masih menyebar di udara. Para dendam dukun yang membenci Tolu melayangkan hantaman bertubi-tubi sampai mereka puas melancarkan aksi.
“Wanita itu sungguh kebal ilmu. Aku sudah menghajarnya selama tujuh hari berturut-turut. Dia masih tegak seolah menantang ku!" amarah salah satu dukun.
“Aku akan terus menghajar mu!”
“Aku akan membuat perhitungan agar kau merasakan sakit seumur hidup!”
Berbagai teriakan dukun terdengar di telinga Tolu. Dia tanpa lelah mengucap mantra dalam hati. Baginya semua serangan masih bisa dia tahan setelah berhasil menetralisir dua ilmu yang bertolak belakang di tubuhnya. Dia sangat bersyukur sempat pernah tidak sadarkan diri dan mengalami luka dalam.
Sesekali angin membanting kaca jendela, bahkan serpihan daun kering masuk menggulung ke dalam. Para perkeja sibuk membersihakan, di sisi lain Parman mengajak Togar dan Tolu menuju ruang makan. Hidangan yang tersaji terlihat enggan membuat tolu ingin memakannya. Meski di atasnya sudah tersedia sepiring ayam goreng, rebusan sayur, sambal ikan nila, sambal andaliman, sop dan lalapan mentah. Dia benar-benar tidak selera makan, lambungnya jangan sampai terisi penuh apalagi dia sedang melawan serangan di segala arah.
“Togar, aku permisi sebentar ke kamar mandi” bisik Tolu.
“Ya, jangan lama-lama” jawab Togar tersenyum.
Di dalam kamar mandi, Tolu terpaksa meminta para penjaga ilmu hitamnya menyebar di setiap sudut rumah untuk melindunginya. Walau bagaimana pun, dia harus menghormati Parman dan menikmati hidangan bersama di meja makan. Di balik saku terdapat setumpuk sirih yang sudah dia ramu isi nyirih di dalamnya. Tolu mengambil tiga tumpukan dan mengunyah sihir sampai habis.
“Ini adalah penawar jika sihir itu masuk ke piring ku” gumam Tolu.
__ADS_1
Dia kembali menuju meja makan, di atas piringnya sudah di isi oleh Togar. Makan siang itu di selingin dengan gelak tawa oleh Parman. Ada hal yang membuat Tolu bertanya-tanya akan sosok Parman yang terdapat aura mistis sangat kuat. Setelah selesai mereka kembali ke ruang tamu, Parman meminta ijin meninggalkan mereka berdua. Tolu kembali mendekati lemari hias, dia harus mencari cincin batu kosong yang tidak memiliki kekuatan magis di dalamnya. Togar pun ikut memilih cincin yang dia suka, sebuah cincin batu merah sudah dia pasang di jarinya.
“Togar, jangan pakai cincin itu!” bentak Tolu merampas cincin lalu mengembalikan lagi ke dalam.
“Apa yang salah dengan cincin itu?” tanya Togar mengernyitkan dahi.
Tolu memilih cincin batu putih yang mirip dengan kepunyaannya, dia memasangkan ke jari tengah Togar lalu menutup pintu lemari.
“Kemari, duduk disini. Aku mau kita memiliki cincin yang sama” jawab Tolu.
Dia tidak mau menjelaskan duduk perkara, sesaat setelah Parman kembali membawa beberapa beberapa kotak berukuran sedang. Dia memberikan tiga kotak kepada Tolu dan satu kotak ke Togar.
“Ini untuk kalian. Kakek berharap hari ini kalian menginap dan memakai pakaian yang berada di dalam kotak itu” ucap parman.
“Terimakasih kakek.”
Tolu membuka kotak pertama berisi baju, kotak kedua berisi baju adat seperti yang dia kenakan dan kotak ketiga membuat dia sangat terkejut menatap pria tua tersebut. Parman mengangguk sambil melipat tangan di depan dada.
“Aku tau pasti kau menyukainya. Sesekali kau harus nginang berdua dengan ku” kata Parman menebarkan senyuman merekah.
“Kakek, terimakasih atas semua pemberian mu. Tapi maaf, kami harus pulang. Lain waktu pasti kami akan menginap” ucap Tolu merendahkan nada suaranya.
“Kakek jangan marah pada Tolu. Kami berjanji jika ada waktu akan lebih lama disini” kata Togar.
“Ya baiklah, tunggu lah sebentar. Para pekerja harus menyiapkan sesuatu untuk kalian.”
__ADS_1
Parman menggiring mereka berdiri di depan pintu, sementara dia duduk di kursi sofa bagian depan. Kegiatan pelepasan cucu menantu dengan sekeranjang bunga mawar yang di lempar oleh para pekerja dan seekor ayam panggang di atas nampan sebagai simbol rasa sayang dari sang kakek. Mereka berdua menekuk lutut di depan Parman sambil memberi hormat dan mencium punggung tangannya. Parman pun memberikan nasehat kepada keduanya.
“Pidong siruba-ruba (burung siruba-ruba). Tu pidong ni parsambilan (dari burung parsambilan). Sai lam naek ma ulaonmunu (semoga meningkat rezekimu). Semoga mada matua martambah pancarian munu (semakin hari semakin bertambah rezekimu)."