Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Hari Kelam


__ADS_3

Tangan Virsa bergetar di sela memotong bawang. Dia terdiam seribu bahas, hanya ringisan di ujung rintik air yang keluar dari sudut matanya. Menyadari semua ini adalah kesalahannya, jika saja dia tidak ingin tau urusan rumah sang dukun maka nyawa Sinta pasti selamat.


“Ibu, aku takut” ucap Lala.


“Lala cepat kembali ke kamar mu, nanti ibu akan menemani mu tidur.”


Perintah sang ibunya itu langsung di turuti, meski gadis kecil itu ketakutan mengingat sosok makhluk tanpa kepala puntung.Selesai mengupas bawang putih, Erin meletakkan potongan bawang itu di sega;a sudut rumah. Beberapa potongan di gantung di atas pintu dan jendela, tidak perduli seisi ruangan tersebut beraroma bawang putih yang menyengat walau harus menusuk rongga hidung mereka.


“Saya tinggal sebentar ke dapur” ucap Erin.


Tatapan kosong Virsa, detak jantung belum stabll memompa kencang. Dia meraih ponsel, sisa batrai rendah begitupun sinyal yang terputus. Panik campur aduk dia tidak tenang menemui Erin di dapur.


“Bu, boleh saya pinjam telepon?” tanya Virsa.

__ADS_1


“Kami orang kampung tidak semua memiliki telepon genggam. Kami biasanya


menggunakan surat sebagai alat komunikasi jarak jauh” ucap Erin.


Erin menyeduh teh manis panas untuknya, wanita itu masih tampak seperti orang ling lung menatap kesegala arah. Perlahan Erin mengusap pundak Virsa, dia menunjukkan kamar kosong untuk Virsa bermalam. Wanita itu juga memberikan baju miliknya untuk Virsa, langkah berjalan menuju kamar Lala dan memastikan jendela kamar mereka terkunci. Erin sepanjang malam masih tetap terjaga mengingat kepala putung berkeliaran mengincar mangsa yang belum dia ambil.


“Aku yakin sekali jika makhluk itu masih rakus mencari mangsa” batin Erin.


Sampai saat ini suaminya belum juga kembali dari pos ronda, sistem siskamling yang di terapkan pak RT berharap para warga selamat dari si kepala putung nyatanya tidak sedikitpun bisa menyelamatkan mereka.


...----------------...


“Sudah jangan pikirkan mereka, tugas kita sekarang adalah lebih mawas diri. Tolong ambilkan selimut bayi untuk Sadam, udara disini bertambah dingin” kata si mbok.

__ADS_1


Bayi yang baru terhitung hari itu harus rela jarang terkena sentuhan sang ibu. Jangankan mendapat ASI yang cukup, sentuhan tangan nan belaian terhitung langkah di dapatnya. Malam panjang mengurus bayi Sadam. Angin kencang, lampu berkedip dan bantingan jendela seperti memberikan tanda-tanda kehadiran penghuni lain.


“Bu, biar aku saja yang menutup jendela itu” ucap Tono dari depan pintu.


Pria itu memutuskan tetap tinggal bekerja bersama sang ibu. Di sisi lain, Tina yang sudah terlelap sedang mengalami mimpi yang aneh. Keringat dingin bercucuran deras, dia di serang penghuni ghaib terutama jin merah peliharaan Tolu. Di dalam mimpi Tina, dia melihat sosok Ani sedang berjalan sambil bergandengan tangan dengan sosok hitam yang tidak jelas bentuknya menuju kobaran api yang menyala.


“Non Ani! Jangan Non!” teriak Tina.


“Tina, ayo ikut aku” ajak sosok wanita tua mengulurkan tangan.


...----------------...


Penemuan mayat

__ADS_1


Para santriwan dan santriwati histeris melihat mayat teman mereka yang terbujur kaku dengan keadaan organ tubuh yang tidak utuh. Mereka sangat ketakutan, meski ustadzah atau mualimah berusaha menenangkan. Serfani hanya bisa terdiam membisu, dia ingat perlakuan para teman-teman sekamarnya yang sangat kejam kepada Ani waktu itu.


“Serfani, hanya kau yang tersisa di kamar itu. Apakah engkau tidak mengetahui sedikitpun masalah yang terjadi?” tanya Tika menyelidik.


__ADS_2