
“Ibu, andai engkau ada disini. Aku sangat mengkhawatirkan Tolu” gumam Ani.
“Adik, apakah ilmu hitam ini memakan korban?”
“Aku berharap dan berdo’a agar tidak ada korban. Kakak jangan berpikir semua kepergian keluarga kita akibat ulahku. Kak, aku mempunyai dua sisi ilmu yang berlawanan. Walau bagaimana pun aku pernah mempelajari ilmu kejawen semasa kita hidup prihatin dahulu” ucap Tolu.
“Ya, kau sangat cepat dan kuat menerima semua hal yang di ajarkan almarhum ibu. Baiklah jika ini jalan yang kau pilih, aku berharap kau tidak menyesal di kemudian hari. Aku tidak berpikir akibat ilmu yang kau miliki membuat semua keluarga kita pergi. Aku paham betul hidup kita yang susah dan setiap hari mengalami kelaparan membuat simpanan penyakit semakin hari menggerogoti tubuh” jelas Ani berjalan meninggalkannya.
Langit tetap mendung, kobaran api di tangannya masih membekas dengan kekuatan supranatural yang tinggi. Pagi di sambut dengan suara Guntur dan kilatan yang menyambar, angin kencang dan lambaian pohon dengan ranting yang berjatuhan. Bumi berduka mengabarkan kesedihan lewat derasnya hujan deras. Banyak manusia memilih jalan sesat dan menggunakan berbagai cara untuk menjatuhkan musuh.
Tolu tersedak sesuatu dari dalam tenggorokannya, ada segumpal batu berwarna hitam yang dia ambil dari dalam rongga lehernya. Kiriman dukun untuk membunuhnya akibat mencampuri urusan pekerjaannya untuk menyantet sepasang suami istri yang pernah dia tolong beberapa bulan lalu.
__ADS_1
“Kurang ajar, ada yang berani melawan ku!” gumam Tolu.
Dia membuka lemari pakaiannya dan mengambil batu mustika. Tolu mengucap mantra kemudian menempelkan telapak tangan kirinya ke batu ghaib tersebut. Perang ghaib hari ini membuat suasana semakin mencekam. Semula Tolu tidak berniat untuk membunuh dukun yang menyerangnya, tapi kiriman demi kiriman serta tusukan paku di atas kain kafan milik mayat yang di gunakan untuk membunuh Tolu membuat wanita itu mengeluarkan api di tangannya untuk membunuh si dukun.
“Tidak! Terkutuk lah kau Tolu!” gema suara wanita tua lalu menghilang di udara.
“Togar, apakah kau masih menyimpan cincin pemberian ayah?” tanya pak Bram.
“Ayah, tadi pagi aku melepasnya saat ke kamar mandi. Nanti aku akan memakainya kembali” ucap Togar lalu mengunyah telur mata sapi setengah matang kesukaannya.
“Apa? Cepat ambil dan pakai sekarang!” nada pak Bram sangat keras.
__ADS_1
Togar langsung berlari meninggalkan meja untuk mengambil cincin itu. “Ayah sangat marah sekali, aku tidak pernah melihat dia begitu khawatir terhadap ku” gumam Togar memasang cincin antik ke jarinya.
“Ayah, tolong ikut dengan ku. Aku tidak tega melihat mu tinggal sendiri” ucap Togar kembali menikmati sarapannya.
“Kalau kau tidak tega dengan ku maka bawalah istri mu nanti untuk tinggal bersama disini.”
“Baik yah, aku akan membicarakan hal ini kepada Tolu.”
Pria muda itu sangat mirip dengan tingkah Bram semasa muda dahulu. Sosok pria yang sangat setia dan selalu berusaha membahagiakan wanitanya. Tapi, Bram tidak berharap banyak karena di benaknya pasti Tolu menentang untuk pindah rumah. Dia mengetahui segala aktivitas calon menantunya itu dan hal-hal rahasia lain yang di dengarnya dari para warga kampung.
“Tolu, semoga kau tidak menyakiti anak ku” gumam Bram memperhatikan wajah putranya.
__ADS_1