Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Mengancam


__ADS_3

Nafas hampa bagai kedap suara, perseteruan kelam, tangan setan dan sihir ghaib menyelinap di pikiran, pembuluh nadi dan aliran darah.


Hari berganti pagi, aroma embun basah semerbak segar di tambah harum bunga mawar bermekaran di kebun halaman belakang. Suara bantingan pintu mobil pak Bram tergopoh-gopoh menekan tombol bel rumah. Mariam membuka pintu mempersilahkannya masuk, kedatangan tuan besar itu langsung di sambut hangat oleh para pekerja, terutama mbok Heni dengan sigap menyiapkan seduhan teh favorit nya. Togar yang mengetahui kedatangan sang ayah, berjalan cepat menyambut dan mengepal erat genggaman tangannya.


“Ayah, Tolu sedang sakit. Aku dari tadi malam menunggu dokter Frans yang tidak kunjung datang,” ucap Togar.


Bram mengambil tindakan memanggil dokter itu, beberapa menit kemudian mobil putih sudah terparkir mendatangkan sang dokter memasuki rumah.


“Maaf aku banyak operasi dan mengurus pasien sehingga belum sempat kesini” katanya.


Kedatanganya hanya hitungan menit setelah alarm panggilan dari Bram. Siap memeriksa Tolu, sang dokter mengajak Bram berbicara empat mata. Dia membisikan penampakan dan kejadian ganjil setelah beberapa bulan lalu datang kesini. Mata Bram melotot, dia melonggarkan sedikit dasinya menyodorkan beberapa ikat uang berwarna merah.


“Dokter, ke depannya engkau akan lebih sibuk dari yang engkau perhitungkan. Ini adalah uang muka untuk mengurus dan memperhatikan kesehatan keluargaku. Tampaknya engkau akan bekerja lebih ekstra akan beban berat ini. Tolong terima permintaan ku. Mengenai semua penampakan itu, aku berharap dokter bisa melawannya sendiri,” ucap Bram menjelaskan.


“Aku akan mencobanya, tapi jika penampakan itu berlanjut maka aku akan undur diri” ucap Frans.


Ani sadar di tengah hari kira-kira matahari sepenggal kepala. Ani membuka mata menatap ke arah jendela. Angin kencang berhembus dedaunan kering, Ani beranjak dari kasur mendongakkan kepala menatap langit. Membentang bias langit kosong tanpa goresan awan yang mengabarkan kabar angin laut. Kolong langit masih dalam suasana hingar bingar aktivitas manusia dengan segala kesibukan. Tidak terkecuali Ani mulai membenah diri meraih salah satu kerudungnya. Dering ponsel, nama Tohfa memperlihatkan sinyal pesan untuknya.


Assalamu’alaikum


Kepada calon istri ku, semoga kau baik-baik saja dan tetap menjaga kesehatan sampai hari bahagia kita tiba. Tetaplah bersujud dan menegakkan sholat lima waktu agar kita tetap bersama di Jannah-Nya.


Air mata Ani menetes, bagaimana pria itu mengatakan surga untuk dapat dia raih? Tubuhnya sudah tercampur energi negatif, setengah terbakar kulit setiap kali dia mengambil air wudhu. Masih banyak gangguan yang dia rasakan.

__ADS_1


“Entah akhirnya aku akan binasa dengan kesalahan ku sendiri atau aku akan tetap di samping menua bersama di tengah rasa kesakitan derita. Aku sudah menetapkan untuk engkau miliki” gumam Ani.


...----------------...


Hasil tes pack dan pemeriksaan dokter Frans sekali lagi mengabarkan kabar gembira akan kehamilan Tolu. Girang rasa bahagian pria yang akan menjadi seorang ayah itu mengangkat tubuh Tolu memeluk erat di depan semua orang.


Uhuk, ehem ( Suara yang di keluarkan pak Bram).


“Selamat untuk menantu ku, aku kini berstatus menjadi seorang opung. Togar cepat belikan segala keperluan untuk cucu ku. Binyo akan mengantar kalian berbelanja” kata Bram.


“Ayah, apakah ayah melupakan pernikahan kak Ani beberapa hari lagi?” tanya Togar.


“Tidak, aku sudah jauh hari menyiapkan hadiahnya. Cepat pergi sebelum senja tiba, wanita hamil tidak boleh magrib di dalam perjalanan” ucap Bram.


Kalimat itu membenamkan kata seru di benak Tolu. Dia adalah seorang dukun sakti, meski sedang mengandung, janin di jaga oleh para begu ganjang dan jin pendampingnya. Tolu masih belum percaya bahwa kini dia sudah hamil. Matanya melengos melihat Togar, rasa cinta, marah, kecewa dan ingin mencekik suaminya.


“Tidak ada apa-apa. Nanti saja kita bicarakan di rumah,” sahut Tolu.


Pak supir memberhentikan mobil di salah satu toko peralatan bayi. Togar dan Tolu masuk ke dalamnya, mata Tolu membelalak menyaksikan banyak penampakan bayi tarakan yang di tanam di salah satu sudut ruangan. Usaha besar menggunakan pesugihan bayi tanpa nama itu membuat usaha dan bangunan megah dengan segala jenis keperluan bayi lengkap di dalamnya. Suara tangisan bayi malang merintih kedinginan yang jasadnya tidak di bungkus akin kafan atau di kubur secara layak.


“Ayo kita pergi dari sini” Tolu buru-buru keluar.


“Kenapa?” tanya Togar kebingungan melihat Tolu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Dia mengikuti sang istri, sementara Tolu meminta pak supir. pergi ke toko perlengkapan bayi yang lain. Wanita dukun itu kejam dan berhati dingin, terlebih lagi siapa pun yang menyakiti dirinya dan keluarganya dalam sekejap di bunuh dalam satu tarikan tangan setannya. Tapi tidak dengan kejahatan membunuh bayi yang tidak berdosa.


Berhenti di toko selanjutnya, ketika kaki kanan menginjak turun terasa detak jantung kecil mulai berdetak di bagian bawah kiri perutnya. Tolu mengusap perut menyalurkan energi ghaib sebagai penjaga sang jabang bayi.


“Kau adalah anak ku yang ku sayang. Tidak ada yang bisa menyentuh mu walau seujung rambut pun” gumam Tolu.


Kehadiran bayi anak sang dukun itu tersebar secara ghaib di udara. Terutama para dukun dan si wanita siluman kuyang. Banyak yang mengincar anak yang di beri nama manusia iblis, kehadirannya di dalam janin Tolu menjadi peluang besar mereka mendapatkan kelemahannya. Serangan, tiupan angin panas, asap hitam melingkar mencari celah masuk ke perut Tolu.


“Togar, hari lain saja kita sambung belanjanya. Ayo kita pulang, aku khawatir dengan kak Ani” ucap Tolu.


Perut Tolu bergejolak, menyadari para dukun dan musuh mulai menyerang, dia mengerahkan raja iblis untuk melindunginya. Suara aneh keluar dari mulutnya membuat pak supir mengerutkan dahi.


“Den, apakah den mendengar suara aneh?”


“Tidak, cepat laju mobil karena hari akan malam,” ucap Togar.


Hal mistis terjadi, Tolu menghilang di samping Togar saat kendaraan mereka melewati pepohonan besar dan rindang. Togar meminta menepikan kendaraan ke sisi pinggir jalan, kebingungan mereka berdua berteriak memanggil nama Tolu.


“Den, ada yang mau bapak katakan.”


“Ada apa pak? Tidak ada waktu bercengkrama sekarang” ucap Togar.


“Tapi den, bapak mendengar dari pak Dadar kemarin kalau beliau melihat sosok non Tolu melompat dari tembok rumah dengan gerakan merangkak. Pak Dadar menelepon bapak dengan nada ketakutan,” ucap Seto.

__ADS_1


“Sudah jangan di bahas lagi. Yang pak Dadar lihat pasti wujud setan” ucap Togar.


Berputar, berlari dan memanggil pihak polisi. Pintu mobil terbuka sendiri, Seto terkejut di dalamnya sudah ada Tolu duduk menatap dengan tatapan tajam dan marah.


__ADS_2