
Dan tidak ada lagi satupun akan menyelamatkan diri mu selain yang meminta pertolongan kepada sang Khalik. Jalan lurus, rasa takut berbuat hal yang di langgar oleh Agama dan kepercayaan satu menyembah selain_Nya. Seyogyanya insan di dunia dan segala makhluk yang bernafas di dunia ini memiliki batas waktu yang telah di tentukan. Tidak ada satupun yang bisa menentang kehendak Illahi.
Orang-orang penganut ilmu hitam, tidak pernah menyadari perbuatan salah yang mereka lakukan itu menenggelamkan dirinya pada lubang kehancuran. Api akan melahap tubuhnya menjadi habis menjadi abu, bahkan kesakitan di keabadian alam panjang tidak pernah terhingga rasa sakitnya.
...----------------...
Tina melihat wajah pucat bi Tuti, mengerut dahi memperhatikan bi Tuti meneguk air di dalam cangkir yang berukuran jumbo. Dia mendekati wanita itu, perlahan mengusap punggungnya sama seperti yang selalu di lakukan oleh bi Tuti kepada dirinya.
“Ada apa bi?”
“Bibi hanya terkejut melihat tikus tadi di dapur. Kamu baru sehat jadi jangan terlalu banyak melakukan aktivitas” jawabnya menutupi hal mengerikan yang dia alami.
“Tidak apa-apa bi, saya mau langsung ke pasar ya bi. Bahan di dapur sudah habis dan tudung saji masih terbuka tanpa ada makanan di dalamnya” ucap Tina bersiap-siap meraih jaket.
“Uang belanja di laci khusus yang selalu di sediakan oleh nyonya besar, kuncinya di dalam laci bibi.”
Mereka melakukan pekerjaan masing-masing, bi Tuti melakukan tugas tambahan. Halaman yang sangat luas itu di sapu hingga sampah di bakar api terlalu membesar hampir menyambar kabel rumah.
“Bibi dan Tina sudah pulang? kenapa tidak memberi kabar?” tanya Tolu.
“Eh si non, maaf tadi bibi sudah mengetuk pintu kamar non, akan tetapi non tidak ada disana. kami pulang naik angkutan dan tidak mau merepotkan si non" jawabnya menunduk.
Tepukan bahu mendarat di pundaknya, bi Tuti menoleh melihat Tolu memakai baju yang berbeda melihat dirinya dengan tatapan tajam. Pandangan beralih ke sosok Tolu yang tadi menyapanya, ternyata tadi bukanlah Tolu melainkan penampakan lain. Dia menunduk, ketakutan dan berpikir apakah wanita yang di hadapannya itu adalah nyonya besar yang asli.
“Bi, kapan datang? Kenapa tidak memberitahu ku agar di jemput?” tanya Tolu mengambil alih sapu lidi di tangannya.
“Maaf non, kami tidak ingin merepotkan pak Dadar. Oh iya non, sapunya biar saya saja yang pegang” kata bi Tuti. Hampir saja dia mati berdiri karena melihat kehadiran sangat majikan sebanyak dua kali.
“Tidak apa-apa, aku ingin mengeluarkan keringat pagi sejenak. Kamu tolong ke pasar untuk memberi beberapa bahan yang ada di dalam cacatan ini” ucap Tolu sambil menyodorkan selembar kertas putih yang berisi tulisan yang harus di beli olehnya.
__ADS_1
Dia juga memberikan beberapa lembar uang berwarna merah, akan tetapi bi Tuti menolak menerimanya.
“Tapi non, uang yang di dalam laci masih terbilang sangat cukup.”
“Tidak apa-apa, pegang saja dan masukkan ke tempat biasa jika memang tidak butuhkan.”
Rasa masih was-was setelah kejadian yang dia alami, melihat penampakan sang majikan dengan wujud lain. Ingin sekali dia menyampaikan hal yang baru saja dia alami. Bi Tuti teringat akan si mbok yang tidak terlihat sejak tadi, dia melihat ke kamar yang terbuka lebar dengan barang-barang yang masih utuh di dalamnya.
“Kemana perginya si mbok?” gumamnya.
Sebelum pergi ke pasar bersama Tina, dia melihat kertas yang berisi daftar belanjaan dan sejumlah uang yang sangat banyak dari Tolu. Salah satu bahan yang membuat dia tercengang adalah tujuh ekor ayam cemani hitam yang harus dia cari dalam satu hari. Angka jarum jam sudah menunjukkan pukul 11:00 WIB. Dia segera bergegas pergi menuju pasar dengan langkah tergopoh-gopoh.
Perjalanan menuju ke pasar menaiki angkutan umum memakan waktu hingga satu jam setengah. Setelah turun dari angkot, bi Tuti dan Tina berlari kecil mencari penjual ayam hingga tanpa sadar sandal sebelahnya pun putus. Dia melepas sandal sebelahnya lagi, sesampainya disana dia menanyakan tujuh ekor ayam cemani untuk dia beli. Rasa cemasnya terobati, ayam tersebut masih tersisa dan siap untuk di bawa pulang.
Setelah berbelanja bahan lainnya, tersisa satu bahan yang sangat sulit untuk dia cari.
Membeli tiga ekor kepala kambing putih yang masih segar. Para penjual kambing hari ini hanya menjual kambing jantan berwarna hitam. Bi Tuti berinisiatif memesan tiga kepala ekor kambing putih yang masih segar atau baru saja di sembelih itu dengan harga yang sangat mahal. Akan tetapi dengan catatan jika si penjual membohonginya, maka kepala kambing tersebut akan di penuhi dengan belatung atau hewan melata lainnya.
“Terimakasih pak, saya tunggu sebelum sore hari” jawab bi Tuti.
"Bi, kenapa banyak bahan dan kebutuhan yang tidak wajar?" tanya Tina.
"Kita turuti saja perintah majikan dan jangan tanya."
...----------------...
Dering telepon berbunyi, tidak ada satupun yang mengangkatnya.
Togar masih sibuk menimang Sadam dengan penuh rasa sayang, mengabaikan rasa sakit yang dia rasa atau segala pikiran yang terbuang dari kejadian yang dia lama bersama sang istri. Tidak tau kemana lagi rimba keluarga kecil ini akan di bawa. Dia sangat mencintai sang istri, semua hal rasa pahit atau apapun konsekuensi yang di dapat sudah menjadi sebuah beban yang harus di tanggung di pundak dan punggungnya. Setelah telepon berdering beberapa kali, Togar menuruni anak tangga membawa Sadam dan mengangkat panggilan.
__ADS_1
“Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam, maaf dengan siapa saya berbicara?” tanya Togar sambil menenangkan Sadam yang mulai rewel.
“Tuan besar, saya adalah Tono. Anak dari si mbok, saya ingin mengabarkan bahwa si mbok sedang sakit dan kemungkinan tidak bisa bekerja dalam jangka waktu yang tidak bisa di tentukan.”
“Apakah sakitnya sangat parah? Jika si mbok membutuhkan biaya maka saya akan membantu mentransfernya” ucap Togar.
Dari arah belakang sudah berdiri ibunya dengan posisi tangan menjewer telinga Tono sekuat-kuatnya. Karena sudah tidak tahan menahan rasa sakit, maka Tono mengakhiri pembicaraan di telepon.
“Baiklah tuan, jika ibu ku membutuhkan biaya tambahan maka aku akan segera menghubungi anda” balas Tono.
Praghhh (Suara pukulan mendarat di kepalanya).
Baru kali ini si mbok memukul dirinya sampai menimbulkan bekas lebam. Walau si keadaan tubuh si mbok terbilang masih sangat lemah, dia tidak mau menjadi beban orang lain ataupun menyusahkan keluarga Tolu.
“Inikah ajaran yang aku berikan kepada mu selama ini? menjadi manusia yang tidak berguna” ucap si mbok kesal.
“Maaf bu, bukankah ibu memang menjadi sakit-sakitan bahkan hampir meregang nyawa akibat sosok maupun penghuni di rumah itu?” ucap Tono masih meringis merasakan sakit.
“Aku sudah sehat. Besok kita akan mulai bekerja disana!” bentak si mbok.
...----------------...
Suara klakson sepeda motor memasuki wilayah pekarangan rumah, dua orang pria menurunkan sebuah bungkusan besar. Ada tetesan darah yang mengalir di bawahnya, harum semerbak darah segar itu di hisap dan kerumuni oleh para penghuni ghaib di rumah itu. Ternyata pesanan bi Tuti telah sampai sebelum dia kembali ke rumah. Tiga ekor kepala kambing putih di letakkan di bawah pohon dekat teras pekarangan rumah. Togar membuka pintu lalu mengernyitkan dahi menatap kedatangan mereka. Senyum salah satu dari pria itu lalu menyampaikan bahwa pesanan dari wanita yang memberikan alamat rumah ini telah sampai.
“Maaf sebelumnya pak, seorang wanita berumur sudah membayar terhadap kami. Kalau begitu kami pamit pergi” ucap pria satunya.
Togar hanya mengangguk setuju, dia berpikir kemungkinan wanita yang di maksud adalah salah satu pekerjanya. Melihat benda maupun bahan aneh bukanlah suatu hal yang mengejutkan baginya.
__ADS_1
..._To be continued_...