Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Tercabutnya Sukma


__ADS_3

Tiada daya dan upaya selain pertolongan Allah yang Maha Esa. Manusia yang memilih jalan sesat akan mendapatkan musibah tanpa henti.


Ritual singkat acara tumbal.


Sembilan kepala kerbau di bungkus kain hitam sedangkan kepala manusia di bungkus kain mori putih. Lubang di gali berukuran tiga meter di atas tanah di tabur bunga. Setelah semua kepala itu di kubur, Tolu mengucap mantra melemparkan bunga kembali di atasnya.


Tubuh Togar di tutupi daun kering, bagian wajah yang tidak tertutup. Dia menyelimuti tubuh Togar melingkar ilmu pagar penjaga sekalipun dia tergeletak di luar. Sembilan kepala kerbau di tambah satu kepala manusia, hawa dingin melebur tulang menusuk kulit. Tawa menggelegar, suara dentuman di iringi angin berputar kuat. Persyaratan sesajen terpenuhi, sosok wanita yang menggangu Togar di kala itu lenyap bagai api membakar selembar kertas. Tanda terakhir dari wanita itu adalah menggema suara jeritan nyaring di udara.


“Hahah, hahah” tawa raja iblis.


Dia mendapatkan keuntungan dari sajen pesta pora yang di berikan oleh Tolu. Kekuatan, hawa murni manusia bercampur membentuk kekuatan ghaib setelah Tolu menanam kepala kerbau dan kepala manusia membentuk lingkaran di dalam gua. Mata sepenuhnya menghitam, dia merasakan tubuhnya semakin kuat terasa darah mengalir panas sampai ke ubun-ubun.


“Kekuatan mu sedikit lagi sempurna!” gema suara raja siluman iblis menggema.


Kesenangan pada iblis itu Nampak nyata, Tolu mengangkat Togar keluar dari hutan. Dia membuka pintu mobil, merebahkan Togar di bangku mobil belakang. Dia mengemudikan kendaraan meninggalkan hutan. Sisa badan mayat hidup berlari mengikutinya, menyadari mayat hidup semakin mendekat. Tolu melemparkan mantra menyihir mayat hidup itu kembali melepaskan anggota tubuhnya. Setelah menghilang, Tolu mempercepat laju kendaraan hingga kecepatan tinggi. Membawa mobil seperti setan, beberapa pengendara lain hampir mengalami kecelakaan. Suara klason tidak bisa di hindari, dalam hitungan sepuluh menit mereka pun tiba.


Tolu mengangkat Togar sampai ke kamar, si mbok melongo melihat majikannya yang bertenaga kuat itu bisa mengangkat suaminya tanpa kesusahan sedikitpun. Merebahkan Togar ke ke kasur. Membuka sepatu, alas kaki dan mengganti pakaiannya. Tolu menekan hawa setan yang ingin menggigit bagian leher suaminya yang jenjang karena dia sedang merasa sangat haus akan darah.


“Tidak! Apa yang sedang aku pikirkan!” gumamnya di dalam hati.


...----------------...


Di dalam keheningan malam, Ani menenggelamkan wajahnya di balik bantal. Dia menangis tersedu-sedu memikirkan Tohfa. Panggilan nada dering nama Tohfa hanya dia lihat tanpa bisa menerima. DIa mematikan telepon lalu memukul tubuhnya sendiri.


“Aku sudah menjadi manusia yang kafir!” gumamnya.


Tangisan panjang, bekas air mata membentuk pulau di lautan di bantal. Tanpa terasa dia sudah masuk ke dalam alam bawah sadar. Berdiri di tengah jalan yang sangat sepi. Ani menoleh ke sisi kanan dan kiri, terlihat berbagai macam makhluk sedang melihatnya. Ada yang berupa wujud pocong, genderuwo, kuntilanak dan yang paling mengerikan adalah wujud manusia kelelawar yang memperlihatkan setengah badan manusia.

__ADS_1


“Argh!” jeritnya ketakutan berlari mengikuti arah jalan lintas.


Tanpa alas kaki, dia sampai di ujung jalan yang terputus, dia berhenti di depan jurang kemudian membalikkan tubuh terkejut melihat para makhluk yang dia lihat tadi mengejarnya.


“Tolong! Tolong aku!” jeritnya.


Suara jeritan sampai keluar di alam nyata. Tolu mengguncangkan tubuh Ani, menekan tepat di tengah dahinya. Ani pun membuka mata, dia menangis memeluk Tolu.


“Aku takut sekali. Banyak sosok mengerikan mengejar ku” ucapnya dengan nafas tersengal-sengal.


Setelah selesai meneguk air yang di berikan oleh Tolu, perlahan dia menceritakan kejadian yang menimpanya. Dia mulai dari rasa panas yang membakar ketika mengambil air wudhu. Tolu hanya menatap kakaknya yang menderita itu. Dia tidak bisa mengeluarkan pendapat atau mengobati, rasa sakit alami karena di dalam tubuh Ani sudah tercampur mantra dan di damping sosok penjaga.


“Kakak, aku akan melepaskan semua isi yang ada di dalam tubuh mu. Tapi, jika terjadi hal mengenai sihir ghaib dan gangguan makhluk halus maka aku tidak bisa membantu mu” ucap Tolu.


Memahami ada rasa cinta Ani sangat dalam kepada Tofha, gamang berat hatinya mengeluarkan semua bentuk ghaib di dalam tubuh Ani.


“Kakak, apakah kau yakin dengan keputusan mu ini? hanya kau keluarga satu-satunya yang ku miliki. Tapi jika kau bahagia maka aku akan ikut bahagia” ucap Tolu.


“Ya, aku sudah menetapkan pilihan hidup ku” jawab Ani.


Tolu membawanya ke ruang persemedian. Mereka duduk berhadapan, posisi tangan Tolu berada di jantung sang kakak. Rasa panas membakar, suara aneh keluar dari mulut Ani. Urat mata berwarna hijau menonjol, dia menjulurkan lidah sangat panjang. Tolu melotot, gerakan tangan mengusir lalu memasukkan air minum secara paksa ke dalam mulutnya.


Ani kembali sadar, sekujur tubuhnya terasa sakit semua. Kulitnya sedikit lebih gosong, lemas tubuhnya bergerak meninggalkan ruangan.


Tok, tok (Suara ketukan pintu).


“Permisi non, ada tamu di depan” ucap mbok Heni.

__ADS_1


“Cari siapa mbok?” sahut Ani dari kamar.


“Den berpeci putih mencari non.”


“Tunggu sebentar, saya akan segera kesana mbok.”


Wajah pucat, gerakan lamban, jalan sempoyongan dan kepala terasa kunang-kunang. Ani membalas senyuman tipis Tohfa.


“Aku ingin mengajak mu pergi ke pengajian siang ini. Apakah kamu mau?” tanya Tohfa.


“Ya, aku akan pergi dengan mu” jawab Ani.


“Baiklah, aku akan menjemput mu pukul 14:00 WIB.”


Sekali lagi wanita itu mencoba memakai kerudung, mengganti beberapa hijab dan baju muslimah di depan kaca. Dia memilih warna baju merah jambu yang senada dengan jilbab panjang pink. Karena tidak tahan menahan rasa sakit di bagian jantung, Ani tidak sadarkan diri di samping kasurnya.


Prang (Suara gelas terjatuh).


“Non Ani, bangun non” ucap si Mariam.


Dia berlari mencari Tolu namun tidak ada di ruangan manapun hingga dia memberanikan diri untuk menaiki anak tangga. Sampai pada anak tangga ke tiga, kakinya seperti ada yang menahan. Benda dingin terasa kasar dan berlendir. Tangga terlihat kotor, banyak sekali daun kering berserakan. Mariam mengucapkan lafazh dan surah pendek di dalam hati.


“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah aku sudah melarang menuju ke ruangan ku?” tanya Tolu di samping pandangan dinginnya.


“Maaf non, saya mau mengatakan kalau non Ani pingsan di kamarnya” ucap Mariam.


Tolu berlari melihat Ani tidak sadarkan diri dengan mata terbuka. Saat mengangkat ke kasur, Mariam membantu memindahkan baju dan jilbab ke dalam lemari pakaian. Mata Ani sudah bisa tertutup setelah Tolu mengucap mantra.

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa melepaskan ikatan ini? kakak ku akan terus ketergantungan setelah di santet oleh Sandro” gumam Tolu.


__ADS_2