
Penabalan nama bagi bayi pasangan Togar dan Tolu, acara itu di selenggarakan secara sederhana. Hanya para tetangga sekitar menghadiri membawa tupak beras merah bahkan ada juga para pasien Tolu yang membawa sesajian sebagai tanda terimakasih untuknya. Pandangan mata Togar di kejutkan penampakan puluhan ekor ayam yang di kurung di dalam sebuah kandang terbuat dari bambu. Seolah para tamu membawa bingkisan hadiah hewan hidup untuk si Sadam.
“Ucok, jadikan aku tante mu!” ucap salah satu tamu melihat Sadam di dalam ayunan box bayi.
“Siapa juga yang mau punya tante berkulit hitam?” senda gurau para tetangga tersenyum mengganggunya.
Melihat Tolu berada di dekat mereka, semua orang bergerak mundur sambil menunduk. Tolu tersenyum tipis meminta mereka melanjutkan perbincangan dan menikmati hidangan di meja fresh dinner. Orang-orang yang memahami wataknya seakan tidak akan pernah percaya jika ada isu mengatakan si dukun membunuh orang secara brutal. Terlebih lagi setiap mereka membutuhkan pertolongan, Tolu selalu terjun membantu tanpa meminta imbalan apapun.
...----------------...
Di kediamanan baru pak Bram.
“Toto, bagaimana keadaan cucu ku?” tanya Bram sambil menatap sebuah bingkai foto gambar bayi Sadam.
“Tuan, hari ini pak Togar menyelenggarakan acara pemberian nama bayi di rumahnya” jawab Toto.
“Kirim kan mereka hadiah yang sudah aku siap kan. Oh ya Toto, besok aku akan melakukan kemoterapi. Ingat, jangan pernah beritahu keadaan ku kepada Togar” pesan Bram.
“Ya tuan, saya akan menjaga rahasia ini” sahut Seto berjalan meninggalkannya.
Penyakit Bram semakin hari menggerogoti badannya hingga kurus kering. Toto menoleh ke arah sang majikan di balik tembok dengan mengernyitkan dahi. Di benaknya kini meski harus kehilangan pekerjaan jika harus memberitahu Togar maka hal itu tidak akan mengurungkan niat dan membuatnya merasa rugi. Bram sudah sangat baik memberikannya gaji serta mencukupi semua kebutuhannya sebagai tangan kanannya selama ini.
“Setelah pengangguran nanti, aku akan hidup dari semua sisa uang ku. Hari ini aku harus segera memberitahu tuan Togar” gumam Toto.
Menuju tikungan perumahan sudah di sambut Tolu tanpa alas kaki berdiri menatapnya. Toto menghentikan mobil membuka pintu keluar menunduk memperhatikan penampilan sang majikan yang kelihatan lusuh.
“Selamat siang non, saya mohon ijin singgah ke rumah” ucap Seto nada bergetar.
__ADS_1
“Pak Toto? Bapak sedang berbicara dengan siapa?” tanya pak Dadar sambil keberatan mengangkut barang-barang di tangannya.
Dia baru saja kembali dari kampung setelah meminta ijin cuti, begitupun Mariam yang ikut tiba keluar dari angkutan berjalan menuju rumah Tolu.
“Pak Dadar kenapa berhenti disini? Tuan dan nyonya pasti menunggu kita” ajak Mariam.
“Sebentar bu, ini ada pak Toto sepertinya sedang mencari sesuatu.”
“Tidak-tidak, saya baru saja berbicara dengan nyonya besar. Tadi dia ada disini__ terus” Toto melongo menghentikan pembicaraan.
Mariam dan Dadar saling melempar tatapan, beberapa detik Toto cengar cengir membuka pintu mobil bagian belakang menggunakan bahasa tubuh agar mereka ikut masuk ke dalam. Tidak ada satupun dari mereka yang berani berpendapat mengenai pernyataan yang di layangkan Toto tadi.
“Tidak terimakasih pak, kami jalan saja berhubung tinggal lima langkah dari sini” kata Mariam berlenggang meninggalkan mereka.
...----------------...
“Si mbok mohon agar Sadam terhindar dari ke sialan non.”
Kalimat itu merupakan senjata ampuh di sela menghentikan ritual penyatuan jin merah yang semula akan memakan ari-ari Sadam. Ari-ari itu hingga kini masih di incar oleh si jin merah peliharaan Tolu, menyadari ada aura negatif dan sosok yang selalu mengikuti. Si mbok menutupi ari-ari di dalam plastik dengan mukenah serta meletakkan tasbih di atasnya.
“Mbok, Mariam sudah kembali” ucap bi Tuti.
“Mana? Cepat suruh dia membawa benda-benda yang aku minta” kata si mbok mendongakkan kepala mencari keberadaan Mariam dari balik pintu.
Mariam pun membawa semua hal yang di butuhkan, mereka memilih kendi berukuran sedang. Si mbok mencuci ari-ari Sadam yang sudah setengah bau busuk akibat terkena ritual selama berhari-hari. Darah yang mengalir di sela air mancur mengundang suara jeritan samar.
“Arggh! Hahhh” suara aneh samar mengganggu pendengaran si mbok .
__ADS_1
“Aku harus kuat!” gumam si mbok meneruskan mencuci.
Setelah selesai, ari-ari itu di masukkan ke dalam kendi, si mbok memasukkan dua bungkus garam kasar di dalamnya dan menaburkan perasan air jeruk nipis.
“Bi Tuti, jangan lupa siapkan lilin besar di belakang rumah. Kita harus menempatkan ari-ari ini sedikit mendekati bangunan agar tidak terlalu jauh dari pandangan” ucap si mbok.
“Ya mbok.”
“Mbok, apakah teplok kecil ini cukup sebagai penerangan?” tanya Tina.
“Ya, ada dua cahaya yang kita pasang. Ari-ari ini harus benar-benar merasa terang. Sedulur Sadam sedang di ambang bahaya karena setelah tali pusar ini putus, ari-arinya tidak langsung di kubur,” ucap si mbok.
Penutup kendi pun di tutup, kendi itu di bungkus kain putih sebanyak tiga lapis kemudian si mbok membacakan surah pendek berharap benda tersebut tidak bisa di buka secara paksa oleh makhluk halus. Mariam dan Tina membuat lubang sedikit lebih dalam, si mbok meletakkan kendi lalu menguburnya. Ada teplok dengan cahaya kecil yang di letakkan lilin besar berjarak tiga kepal tangan yang di nyalakan.
Mereka bertiga mengadahkan tangan berdo’a meminta perlindungan untuk semua bagian dari anggota tubuh sang bayi.
“Mbok.” Tolu berdiri melihat mereka.
Majikan yang misterius itu membalikkan tubuh berjalan ke sisi bagian pekarangan belakang memasuki kebun bunga mawar. Tina dan bi Tuti pergi melakukan tugas mereka kembali sementara si mbok menyusul Tolu masuk ke kebun.
“Non, non dimana?” panggil si mbok.
Tangannya sudah terluka menyibak duri pada batang bunga. Tidak Nampak lagi sang majikan, si mbok berbalik badan melihat Tolu sedang berjongkok menikmati bunga mawar hingga air liur menetes kental. Bola mata si mbok hampir terlepas menyaksikan pemandangan itu.
“Non, eling non” ucap si mbok menyentuh bahu kerasnya.
“Hiihihih! Ahihihhh!” gelak tawa melengking.
__ADS_1
Si mbok pingsan, sosok itu pun menghilang hingga malam menjelang para pekerja lain tidak menemukan keberadaannya. Sosok jin merah kecil seolah menjahilinya setelah tidak mendapatkan ari-ari milik Sadam. Gangguan yang di utarakan tidak sampai disitu, tubuh si mbok di tempatkan di bagian tengah perkebunan bunga mawar bagian batangnya tinggi sehingga sulit di lihat.