Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Hentak


__ADS_3

Duduk di ruang tamu dengan tangan saling melipat di depan dada. Hening pikiran kacau, terutama Semi memikirkan nasib ibunya. Dia sudah melaporkan kejadian itu kepada pihak aparat kepolisian. Kacau pikirannya tidak bisa berada di sisi sang ibu.


“Bagaimana ini? aku akan pergi sekarang melihat mayat ibu ku” ucap Semi.


“Hei tenanglah, jangan kau korban kan nyawa mu secara sia-sia untuk makhluk jahanam itu,” ucap Togar.


Dia berlari di dalam angin, penampakan Tolu di hari ini adalah beberapa penjaga ghaib menyerupai wujudnya. Sementara di pasar tradisional, Tolu masih sibuk menyiapkan persyaratan sesajian dan ritual persiapan penjagaan pesta Ani. Sudah di katakan berulang kali ke kakaknya itu bahwa pernikahan harus berlandas putih tanpa gelap atau peran makhluk lain. Ani hanya memperhatikan beberapa bungkusan besar yang berada di tangan sang adik.


“Kakak, ayo kita ke toko baju” ucap Tolu.


Supir memarkirkan kendaraan ke sisi jalan.


Beberapa potong baju, rok, celana dan gaun telah siap di pilih di ruang ganti.


Melihat Tolu tidak memilih satu baju pun untuk di coba, dia menuju ke sisi utara bagian rok songket dan baju kebaya berbahan sutra. Ani meminta Tolu untuk mencoba baju tersebut. Baju yang pas untuk di kenakan, Ani tersenyum melihat sang adik.


Dimana pun kita berada, penampakan akan makhluk halus tidak bisa di elakkan. Tolu merasakan ada serangan ghaib dari sosok ilmu hitam. Dia meminta Ani untuk menunggunya di parkiran.


“kakak, aku akan ke toilet sebentar” ucapnya terburu-buru.


Sosok kuyang mengincar keluarganya, kedok dukun wanita tua di balik ilmu keabadian itu menjadi musuh utama. Dia mengucap mantra mengirim sihir angin hitam ke arah lawan. Kembali menghampiri Ani, Tolu meminta pak supir segera melajukan kendaraan secepatnya agar sampai ke rumah.


“Kakak, sepertinya kita akan sangat sibuk minggu ini. belanja dan segala keperluan selanjutnya biar aku dan Togar saja yang urus” ucap Tolu.

__ADS_1


“Ya baiklah jika engkau yang meminta, tapi aku juga sesekali ingin membantu juga.”


Di depan rumah sudah ada Togar berlari mengusap bagian pundak sampai ke lengan Tolu. Dia baru yakin bahwa dia adalah istrinya.


“Ada apa dengan mu?” tanya Tolu.


“Semi dan aku baru saja di kejar makhluk kepala putung. Ibu Semi meninggal dan dia tidak berani pulang ke rumah” bisik Togar.


Mereka berkumpul di ruang tamu, sesaat mendapat panggilan dari polisi bahwa mereka sudah tiba di rumahnya. Semi berpamitan sebelumnya Tolu memberikan sebuah sirih yang sudah di beri bahan untuk di nginang.


“Habiskan ini agara makhluk itu tidak bisa merenggut darah mu” ucap Tolu.


“Terimakasih banyak,” jawab Semi.


...----------------...


“Tunggu lah waktu yang tepat, di saat pesta pernikahan kakak mu akan banyak banyak darah yang terbuang. Hahahah” ucap si wanita kuyang melihat Tolu dan keluarganya dari kejauhan.


Di dalam ruang kerja, tumpukan kertas undangan dan segala kebutuhan persiapan Togar dan Tolu bekerjasama menjadi satu tim yang kompak mempersiapkan semua hal yang di butuhkan. Di sisi lain, Togar juga di bantu oleh salah satu kaki tangan pak Bram untuk membantu keperluan secara terperinci.


Tolu mendengar suara gertakan gigi, kuku mencakar pintu dan tangisan. Ketika dia membuka pintu, ada Ani kerasukan masih mengenakan mukenah. Mata melingkar hitam cekung, jemari tangan kering memanjang lancip gerakan tanpa henti menggores cakaran pintu.


“Keluar!” gumam Tolu melotot melihatnya merubah mata setan.

__ADS_1


Tolu hampir melupakan sesuatu, keinginan Ani tanpa di campuri segala hal ghaib membuat dia mengurungkan niat memberi mantra penawar.


“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Tolu.


Dia mencabut paksa sosok pengganggu itu dari jalan ubun-ubun Ani. Kejang-kejang tubuhnya, bola mata melingkar ke atas tidak sadarkan diri. Hari H pernikahan sudah di depan mata tapi cobaan tidak ada habiskan bahkan semakin bertambah merusak hari indah menjadi suasana berkabung.


“Bangun kak, kau tidak boleh pingsan terlalu lama,” ucap Tolu mengeraskan suaranya.


Tubuh Ani bagai sedang tertindih sesuatu, dia mendengar semua ocehan dan omelan Tolu tapi tidak bisa menjawab. Mata sayu sulit di buka, menggerakkan jemari saja bagai tulang yang mau patah. Hanya air mata Ani yang bisa di keluarkan menggenangi tepian di pelupuk mata.


“Kak Ani! Jangan membuatku semakin khawatir. Bagaimana lagi aku bisa menyelamatkan mu?” ucap Tolu.


Wanita yang sudah dingin dan keras hati sulit menitih air mata. Sedikit saja dia menangis, tangis itu berubah menjadi warna darah. Karena Ani tidak bisa bergerak, Tolu terpaksa menyiram air bening berisi mantra. Dia tidak mempunyai pilihan lain, kedatangan ustadz Gersan setelah Tolu menyiram sekujur tubuh Ani. Ustadz itu berdzikir menghadap kiblat, ayat kursi dan surah panjang lain di lantunkan mendekati telinga Ani. Rasa hawa panas mulai di rasakan Tolu, dia menahan keringat bercucuran demi menemani sang kakak.


Air ilmu hitam di netralisir, ustadz Gersan meminta segelas air bening kemudian meminta membasahi bibir Ani menggunakan sendok sesuap demi sesuap.


“Bagaimana perasaan mu sekarang nak?” tanya ustadz.


“Alhamdulillah sudah sedikit membaik ustadz,” jawabnya bernada lemah.


Malam panjang, putaran waktu menenggelamkan sayup detakan jam yang berputar. Di depan meja persemedian, sempat Tolu berpikir bahwa kedatangan ustadz tadi bisa menjadi titik terang pembebasan Ani dari sisa belenggu ilmu hitam dan segala pengobatan sihir. Tetap saja Tolu masih meletakkan dendam pada Sandro sebagai awal penghancur aliran darah Ani yang terkena santet darinya.


“Aku tidak berguna, seorang dukun sakti yang kebobolan tidak mengetahui kakak ku terkena teluh” gumam Tolu kecewa pada diri sendiri.

__ADS_1


...Dia (Tolu) melupakan fitrah manusia yang tidak mengetahui semua apapun hal di dunia ini kecuali sang Pencipta. Setinggi apapun ilmu di miliki seseorang tetap tidak bisa menandingi kekuasaan segala hal yang di ketahui oleh_Nya (Tuhan Yang Maha Esa). ...


Haus ilmu dan keinginan memiliki semua kekuatan sihir ghaib, Tolu mengasah kekuatan. Tiba-tiba dia kehilangan celah memfokuskan pikiran, Hawa mual dan rasa menggigil menusuk tulangnya, Tolu berlari menuju ke wastafel mengeluarkan isi lambung bercampur darah segar. Dia terduduk lemas di sudut ruangan, perasaan bercampur aduk menanggapi hal yang pernah di katakan sosok manusia kuyang.


__ADS_2