Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
MATI


__ADS_3

Suaminya telah tiada, Sema langsung berlari memeluk anaknya dan mengabarkan berita ini kepada pihak kepolisian.


Perkampungan itu terkenal dengan para penghuni ilmu hitam keabadian. Tempat tinggal dua alam berdampingan dengan manusia di alam nyata. Kabar berita dari luar daerah mengenai tempat tersebut yang sangat angker dan terkenal dengan kekuatan magisnya. Siapapun yang berguru ilmu dan menginginkan sesuatu dalam semalam dapat terkabul walau nyawa dan tumbal taruhan.


Sema membawa kedua anaknya ke rumah Stef, meski kakinya masih terasa lemas dan isak tangis tidak berhenti. Dia menekan bel lalu mengetuk pintu rumah, seroang wanita mengintip dari baik tirai.


“Tolong buka pintunya, aku keluarga Stef dan Parka,” ucapnya sambil kesusahan menggendong kedua anaknya.


Wanita yang di dalam tadi menutup tirai, beberapa menit berlalu Parka dan Stef keluar melihat siapa tamu yang datang di waktu larut malam. Stef langsung mengambil Sire dan Sera dari pundak Stef, dia mengajak masuk mereka dan meminta Sema untuk tenang. Dia menceritakan semua hal yang terjadi, alangkah terkejutnya Stef dan Parka seakan tidak percaya mengingat Bob yang sangat membenci hal-hal mistis.


Stef mengajak Parka dan Sema menjemput mayat Bob, akan tetapi Parka menghalanginya.


“Sebaiknya biar pihak kepolisian yang membawa jasad Bob ke rumah. Jika kita ke perkampungan ilmu hitam keabadian yang melegenda itu pasti kita akan menjadi santapan kepala puntung” ucap Parka.


...----------------...


Sudah dua hari sang istri tidak keluar dari ruangan persemedian. Togar setiap tiga jam sekali mengetuk pintu, memanggil namanya namun terabaikan malah di jawab dengan suara benda keras yang terjatuh dari dalam. Hatinya sangat bimbang, dia duduk di balik pintu besi itu hingga sampai terlelap.


Salah satu makhluk begu ganjang mendekatinya. Di dalam alam setengah sadar, dia melihat jin bertubuh besar berbulu itu masuk ke dalam tubuhnya. Dia mencoba menghentakkan tubuh, setengah diri di kuasai makhluk lain. Dia mendorong pintu besi dengan mudah, kaki berat melangkah mendekati Tolu sedang duduk melipat kedua kaki di atas sebuah kain hitam.


Melihat sosok lain ada di dalam tubuh Togar, tangan setannya menyayat lengan kiri Togar hingga mengalir darah berwarna hitam kehijauan. Luka itu di sirah dengan air bunga, Togar menunjukkan wajah kesakitan bercampur tawa. Sedetik dia kembali normal kembali, Tolu menutup luka itu dengan kain hitam.


“Ayo keluar dari sini, apakah anak ku tidka kelaparan?” tanya Togar.


Tolu menggelengkan kepala, dia melanjutkan persemedian di atas kain hitam. Rambutnya sudah basah karena keringat yang terus menerus mengalir. Togar menghela nafas panjang, dia menutup kembali pintu perlahan menuruni anak tangga mencari obat luka. Di dalam kamar, dia menyalakan ponsel melihat banyak pesan dari keluarganya.


#Paman Parka

__ADS_1


Telah berpulang ke Rahmatullah , paman Bob hari ini pukul 02:00 WIB


#Laporan Toto


Mengantar tuan besar Parman dan tuan Bram


#Laporan Dadar


Kabar meninggal dari pak Seto


#Laporan Padepokan


Kabar Ani di temukan kembali keberadaannya di sebuah padepokan


#Enjelika


#Pengacara Ben


Ani di temukan di padepokan, akan tetapi keberadaannya menghilang kembali.


Tumpukan informasi whatsapp sudah terbaca, Togar berbalik arah berniat mengetuk pintu ke ruangan persemedian Tolu.


“Bang, bisakah sedikit saja kau tidak mengganggu ku?” ucapnya kuat dari dalam.


“Abang hanya ingin memberitahu kabar Kak Ani sudah di temukan tapi menghilang kembali, sedangkan paman Bob telah meninggal dunia dini hari. Sayang, kemana kah kita akan pergi terlebih dahulu?” tanya Togar.


Tolu membuka pintu, cekung mata terlalu menonjol di tambah sorot pupil mata memutih. Togar mengabaikan penglihatannya itu, dia mengusap perut Tolu dan membenamkan wajah di bagian depannya.

__ADS_1


“Lepas!” pekik Tolu.


Lengan kirinya masih terasa sakit, tangan Tolu kembali menekan luka sehingga luka keluar dari sela perbannya. Berhasil meredam amarah sang istri yang berstatus dukun setengah setan, pria itu tetap memperlakukan Tolu sebagai wanita normal lainnya.


Diam-diam di dalam rak lemari bagian atas sudah dia siapkan berbagai kebutuhan untuk ibu hamil. Diantaranya vitamin, susu ibu hamil, buah-buahan segar, biscuit, roti, minyak ikan, kacang-kacangan dan satu rak khusus pendingin penyimpanan ayam mentah segar. Di dapur, Togar berhasil membuat Tolu meneguk segelas susu yang telah dia buatkan. Bagai ada hujan bintang di atas kepalanya, mata Togar berkaca-kaca tidak henti menatapnya.


Hal pertama perjalan mereka menuju ke rumah Bob, meski sepanjang perjalanan Togar menoleh memastikan apakah Tolu berubah pikiran meminta meminta mencari Ani. Perjalanan mereka hampir sampai di kediaman rumah Bob. Di halaman depan, para wartawan banyak mengantri dengan cahaya lampu potret gambar yang mereka ambil.


“Ada apa ini? kenapa banyak sekali para wartawan meliput berita?” tanya Togar kepada salah satu warga.


“Apakah bapak tidak mengetahuinya? Mayat pak Bob tidak utuh lagi. Dia di makan si kepala putung!” bisik pria paru baya itu lalu berjalan meninggalkannya.


Tolu menariknya masuk ke dalam rumah, dia melotot melihat mayat yang sudah di kafani itu masih basah dengan darah yang belum selesai menetes. Stef dan kedua anaknya tidak henti menangis memeluknya. Beberapa saat salah satu pengurus jenazah meminta agar segera mengebumikan Bob karena cuaca terlihat semakin mendung.


Walau sudah dua kali di ganti, kain kafan tetap berdarah. Orang-orang menyaksikannya, menyembunyikan rasa ketakutan sesekali menoleh ke arah lain karena tidka tahan dengan bau busuk. Tolu mendekati Stef, dia mencium aroma kepala putung sedang mengincarnya. Selesai pemakaman, Tolu mengajak Stef berpisah sebentar dari rombongan berdiri di sebuah bunga kamboja besar beberapa jarak dari kuburan Bob.


“Aku ingin bertanya sesuatu, apakah kau di kejar ketika kau melihat makhluk itu mengunyah organ tubuh Bob?” tanya Tolu.


Stef mengangguk dia tidak bisa mengucap sepatah katapun. Tolu menekan urat nadi di pergelangan tangannya, menggunakan mata setan melihat sosok si kepala putung telah menghafal aroma darahnya.


“Kau akan mati jika tidak mengikuti arahan dari ku. Satu malam setelah hari ini. Dia akan mencabik organ tubuh mu sama seperti Bob” bisik Tolu.


Stef ketakutan, tangisnya pecah memeluk Tolu. Dia benar-benar sangat membutuhkan bantuan wanita itu. Sekar hanya menonton dari kejauhan, dia masih meletakkan rasa kebencian yang mendalam pada Ani dan semua anggota keluarganya.


“To_To_Tolu, bantulah aku” jawab stef terbata.


Tolu mengangguk berjanji akan membantunya, kedua keluarga besar itu berpisah di depan taman pemakaman umum. Stef yang semula ikut membenci wanita itu kini menaruh harapan sayang dan harapan besar baginya agar dia tetap bisa hidup mengurus kedua buah hatinya.

__ADS_1


__ADS_2