
Setelah semua berlalu ketenangan hanya sepercik saja di rasakan. Dunia ini hanya tempat berteduh di musim panas dan dingin, ladang memupuk perbuatan sebagai bekal kepulangan di kampung akhirat. Dalam menggapai waktu yang lama di usia yang tidak kita ketahui kapan nafas ini terhenti.
Suatu saat semua yang kita temui akan berpisah perlahan menjadi sebuah kenangan pahit manis dalam bingkai album lama.
Banyak insan mengingkari, melupakan bahkan tidak menyadari segala keputusan hidup baik atau buruk yang di tempuh. Faktor tekanan, hawa nafsu yang tidak terkendali dan hawa nafsu menginginkan sesuatu yang tidak pernah puas sehingga banyak manusia memilih jalan instan.
Apa yang kini orang pikirkan mengenai Tolu? Meski sudah memiliki ilmu sakti mandra guna, dalam hitungan menit tidak ada waktunya untuk berleha-leha. Setengah mati dirinya membinasakan semua serangan dan sengkolo buruk akibat dampak di bulan Suro. Ritual, mantra dan sesajian tetap di jalankan. Lingkar mata menghitam cekung menahan kantuk, tubuhnya kelelahan tidak di rasa. Seolah kaki masih memiliki kekuatan untuk berjalan. Semua itu karena ada pendamping ghaib yang dia miliki.
Hari ini setelah langit semalam menghitam, penumbra membentang indah di langit biru. Dari arah belakang, Togar melingkarkan tangan di pinggangnya dengan mesra, Tolu risih menghempaskan tangannya. Dia memasukkan sirih ke mulutnya hingga terpaksa Togar mengunyah memasang wajah nyengir merasakan getar di lidah.
“Sarapan pagi yang lezat,” ucap Togar nyengir.
Setelah selesai menelan menginang, Tolu memasukkan lagi sirih kedua. Togar mengunyah Kembali hingga dia melambaikan tangan. Istrinya masih tetap sama, berperilaku dingin dan kejam.
“Sayang, ayo kita sarapan. Hari ini aku ada meeting di kantor,” ucap Togar.
“Aku sedang berpuasa.”
Hari ini adalah hari senin, Tolu melakukan Kembali puasa mutih demi menjaga sang jabang bayi agar tidak sepenuhnya berstatus lingkaran anak iblis. Menyadari semua ilmunya akan merenggut darahnya secara perlahan di masa depan. Tolu mendapatkan tabir mimpi buruk akan nasib yang dia derita.
Mimpi Tolu tadi malam
Sinar merah masuk ke dalam perutnya, Tolu mengeluarkan muntahan darah segar. Dia melihat sekujur tubuhnya berubah wujud mengerikan.
“Inang, inang! Kami menginginkan anak mu!”
“Anak itu laki-laki. Kami akan meraihnya.”
__ADS_1
Berbagai macam suara mengarah padanya. Tolu menutup bagian belakang perutnya dengan kedua tangannya. Dia mengucapkan mantra, tidak ada satupun energi kekutan yang dia miliki di keluarkan demi menutupi pandangan mata setan melihat anak di dalam kandungannya.
“Mulak! ” bentaknya.
...----------------...
“Ada apa? Kau seolah banyak pikiran”ucap Togar mengusap keningnya.
“Tidak ada apa-apa, cepat sarapan sebelum kau terlambat.”
Tolu mengantarkan kepergian sang suami. Dari luar rumah, dia mendongak ke arah kamar pengantin. Rasa khawatir Tolu berusaha dia hapus. Terdengar teriakan dari kamar mereka, Tolu berlari secepatnya mengetuk pintu berkali-kali.
“Ada apa kak? Apa yang terjadi? Kakak!” ucap Tolu.
Di malam pengantin
“Jadi ini yang di maksud Tolu? Akan ada kematian jika aku tidak meminumnya. Ya, kini aku meminumnya dan yang meninggal adalah suami ku sendiri,” batin Ani.
“Ha! Celaka! Ini adalah kesialan di bulan suro!” ucap si mbok.
Tangisan Ani meraung memukul dirinya sendiri, di atas ranjang dia tidak mau melepaskan Tohfa di dalam pelukannya. Sementara itu, Tolu meminta para pekerjanya untuk menyiapkan segala keperluan untuk jenazah. Dia menghubungi keluarga Tohfa, belum sempat panggilan di dalam telepon mengucapkan kalimat salam. Mereka sudah menangis histeris.
“Semua ini salah kita merelakan Tohfa menikahi gadis itu!” ucap Sekar.
“Eling bu, eling! Tidak baik berbicara seperti itu. Kita harus mengikhlaskan kepergian Tohfa agar arwahnya tenang di alam sana,” kata Jagad.
Mereka memberi kabar ke pihak keluarga lainnya. Tanpa henti air mata Sekar mengalir, Tohfa adalah anak satu-satunya yang dia miliki. Hal yang ingin dia lakukan saat ini adalah mengutuk Ani yang membawa sial pada keluarganya. Di depan pintu masuk, bendera kuning, harum aroma daun pandan dan ramai para pelayat berdatangan. Sekar berlari mencari anaknya, Kasur putih yang di bentang di tengah kerumunan orang masih tampak kosong.
__ADS_1
“Dimana Tohfa?” tanya Sekar ke si mbok.
“Di atas bu,” sahutnya menunduk.
Sekar menampar Ani di depan Tolu dan semua keluarga besar. Dia mengguncangkan tubuhnya lalu mengangkat tangan Kembali bersiap memukul kedua kalinya. Tolu mencengkram kuat tangan Wanita itu sambil melotot.
“Hentikan!” bisiknya.
“Kakak mu si pembawa sial! Jika pernikahan ini tidak terjadi maka Tohfa pasti masih hidup sampai saat ini!” jeritnya di telinga Tolu.
Jagad dan Stef menarik Sekar, mereka menjauhkan Sekar ke pintu. Tolu hampir hilang kendali di balik sifat setengah setan yang dia miliki hampir saja menyemburkan bisa racun sihir ke wajah Wanita itu.
“Lepaskan aku! Biarkan aku membawa anak ku pulang!” jerit Sekar.
“Ibu sudah bu. Biar Ani mengikhlaskan suaminya sehingga jenazah Tohfa tidak berlama-lama di semayamkan” kata Jagad.
Bapak mertua itu mencoba berbesar hati, dia menyimpan rasa kepedihan di tinggal anak yang begitu berbakti padanya. Tetap memperlakukan Ani sebagai anaknya setelah di persunting Tohfa, Jagad berusaha menasehatinya secara perlahan.
“Wahai anak ku, pemakaman jenazah Tofha tidak boleh di tunda-tunda. Kita harus secepatnya memandikan, menyalati dan menguburkannya. Tidakkah engkau ingin dia tenang di alam sana? Ayo, ikhlaskan lah nak” ucap Jagad menasehatinya.
Perlahan Ani melepaskan tubuh kaku Tohfa, air matanya yang tumpah sudah membanjiri mata Tofha. Sekar mendekati anaknya mengusap bekas air mata Ani. Dia menanam kebencian pada menantunya itu, tanpa sepatah kata pun Sekar tidak berucap atau menjawab pertanyaan siapapun. Dia terdiam membisu di depan mayat Tohfa memasang wajah menderita.
Ramai orang mengantarkan ke pemakaman umum, taburan bunga di basahi rintik hujan. Langit berubah kelabu, Ani memeluk batu nisan suaminya erat menyesali sekali lagi perbuatannya.
“Apakah ini dampak melakukan acara di bulan suro? Atau karena ilmu hitam inang Tolu?” bisik salah satu warga.
“Aku rasa ini ada kaitannya dengan si inang” kata Wanita berambut pendek.
__ADS_1
“Hei kalian selalu saja bergosip, walau kita semua tau siapa Tolu. Mustahil jika di malam pertama sang adik, dia membunuh adik iparnya sendiri” kata seorang Wanita tua menimpali.