Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Membalikkan serangan


__ADS_3

Dunia tidak di singgahi dengan cerita kelam seumur hidup atau rasa kekhawatiran mendalam. Jika kehampaan dalam mengukir kisah hitam dan putih membekas kaca pilu kesalahan masa lalu. Di tempat bernaung hati, melekat segala rasa kesedihan akibat. keputusan jalan yang terputus.


Ketawa suara nyaring dari sosok makhluk kecil berkepala botak licin memakai cawet putih sedikit kumal sukses menarik dompet dari saku celana Togar. Makhluk itu terhentak menjatuhkan dompet milik Togar ke tanah, karena takutnya dia melihat Tolu hingga menutup seluruh wajahnya dengan tangannya dan bersujud di depannya.


Tanpa rasa kasihan atau mempertimbangkan apapun, Tolu mencekik leher tuyul tua kecil itu dengan satu tangan ghaib melalui sosok lain yang mendampinginya. Suara retakan leher dan ringisan kesakitan, tanpa henti menghajarnya lalu membanting dan melempar ke arah lain.


“Sayang, apakah kau melihat dompet ku?” tanya Togar meraba saku.


Tolu menunjuk ke tanah, dengan cepat Togar mengambil dompet dan tersenyum.


“Sayang, aku tidak mau kalau engkau menjadi kesusahan jika aku menghilangkan dompet ini" ucap togar.


Karena hari telah petang, mereka bergegas kembali ke rumah. Mbok Heni yang semula ingin membantu membawa barang-barang dan ayam hidup yang di bawa oleh Togar tapi di tahan oleh Tolu.

__ADS_1


“Biar aku saja yang mengurus semua ini mbok” ucap Tolu.


Dia membawa semua itu di ke dalam ruang rahasianya. Seperti biasa, Togar harus tetap menutup mulut dan mengunci rapat-rapat tanpa bertanya apapun.


“Mau sampai kapan istri ku menyembunyikan semua yang dia rahasiakan maka dengan sabar aku akan menunggu dan mendampinginya” gumam Togar melihat punggung sang istri.


Membersihkan diri, memakai wewangian dan menyusun bunga sedap malam yang dia beli tadi untuk di letakkan di atas meja hias dan meja dekat tempat tidur mereka. Togar membuka layar ponsel sambil menunggu kedatangan Tolu kembali ke kamar.


...----------------...


Hal ghaib tidak semua bisa di ketahui oleh kasat mata, dalam sekejab darah yang keluar itu mengering dan ayam yang berada di dalam kain putih hanya tertinggal tulang di kelilingi cacing dan belatung. Tolu memandikan bangkai ayam itu dengan memotong ayam putih. Dia meneteskan darah di atasnya sambil mengucap mantra.


“Tunggu pembalasan ku!”

__ADS_1


“Aku akan kembali menyerang mu!”


“Arghhh!”


Segala suara para dukun santet di udara terbawa angin menembus jendela membanting kuat.


“Tolu!” panggil Ani dari bawah tangga.


“Non, sepertinya non Tolu akan keluar dari kamarnya besok pagi. Waktu sudah menunjukkan tengah malam non, sebaiknya non istirahat” ucap mbok Heni.


“Ya mbok. Tolong panggil aku jika besok Tolu keluar dari kamarnya” kata Ani mengusap pundak si mbok.


“Ya non.”

__ADS_1


Rumah tampak hening, Togar yang gelisah karena Tolu tidak kunjung kembali membuat dia ingin menyusul ke lantai atas. Langkah pertama menginjak anak tangga di sambut suara tangisan di bagian ujung. Lampu hias berwarna kemerahan memperlihatkan sosok bayangan hitam besar beranjak dari tempat duduknya berjalan ke arah Togar.


__ADS_2