
Menimbang segala pemikiran dan praduga keganjalan sebab dan akibat. Togar tidak tenang di atas Kasur sesekali menggeliat ke sisi kanan dan kiri. Dia memperhatikan pergerakan istrinya yang seolah masih mengetahui dia belum terlelap. Tolu melihat ke arahnya lalu memalingkan Kembali.
“Tolu, aku ingin bertanya pada mu. Tentang perkataan orang kampung dan pengobatan mu kepada Semi dan ibunya. Jika benar engkau adalah seorang dukun sakti, maka beri tahu aku segala hal yang kau sembunyikan. Bukan kah aku adalah pendamping mu seumur hidup?” ucap Togar.
Wanita itu sangat marah mendengar perkataannya, dia bangkit dari tempat tidur menyalakan lampu berjalan keluar membanting pintu. Sikap dingin, ruangan rahasia dan kebutuhan benda-benda aneh yang selalu dia beli. Togar mengusap dada mengikuti kemana arah Tolu pergi. Langit malam tidak berbintang, Tolu berdiri di depan pohon yang di bawah nya terdapat tempat bekas tungku api. Dia menunjuk benda itu sambil menangis.
“Togar, tidak kah kau ingat kesusahan kami dahulu? Serta ayah mu menentang hubungan kita. Sungguh aku tidak ingin semua ini terjadi. Kemauan ku hanyalah untuk membantu keluarga ku. Aku tidak menyangka kita di takdirkan berjodoh.”
“Aku mencintai mu apa adanya. Tanpa semua ini aku bisa membahagiakan mu. Tinggalkan semua ini dan jalani lah hari yang membuat mu bisa tersenyum lagi. Apapun akan aku beri” ucap Togar menggenggam tangannya.
__ADS_1
“Aku tidak bisa berbalik arah atau berjalan mundur. Aku sudah memilih antara hitam dan putih demi kelangsungan hidup hingga kau bisa melihat ku lagi sampai sekarang. Aku pun memiliki dunia yang lain,Togar mari kita akhiri saja hubungan ini. Kau harus Bahagia tanpa aku.”
Pikiran dan hati Togar kacau, dia semula mau menuntun istrinya Kembali ke jalan yang benar. Tapi tetap saja menguatkan pendapat dan malah meminta dia meninggalkannya. Berbeda pula dengan isi pikiran Tolu, melepaskan ilmu yang sudah mendarah daging ibarat memisahkan kulit dari tulangnya sendiri. Kematian akan berada di ujung tanduk dan rasa sakit terluka ghaib pasti tidak bisa dia menahannya.
“Togar, aku terpaksa tetap memilih jalan ku untuk melindungi mu dan kak Ani. Bau mereka tercium karena rantai keluarga kita telah menyatu. Aku sudah menyebarkan ilmu dan memberi penawar kepada para warga yang terkena santet dan teluh" gumam Tolu.
Semalaman Tolu duduk di dekat tungku api kepunyaan ibu Mariti. Dunia bagai setengah neraka tanpa arah, tanpa pelipur dan tempat berbagi suka dan duka. Tolu memikirkan amarah ibunya di atas sana yang melihat dirinya.
Togar masuk ke dalam rumah, Tolu memandangi punggung suaminya itu. Dia berpikir Togar akan meninggalkannya mala mini ternyata Kembali membawa sebuah selimut untuk membungkus dirinya. Dia menghidupkan api unggun dan menabur garam di sekeliling wilayah kami.
__ADS_1
“Togar, dari mana kau belajar menabur lingkaran garam?” tanya Tolu menyelidik.
“Aku teringat pesan kakek, saat berada di luar maka tabur lah lingkaran garam dan masuk di dalam untuk mencegah hewan melata atau segala aura buruk di alam luar” ucapnya sambil menghidupkan bakaran api.
Hingga terbit fajar mereka berada di luar, Ani melotot di depan keduanya menyaksikan tingkah laku konyol pasangan pengantin baru itu.
“Bangun lah, aku tidak mau kalian menjadi pusat perhatian para pekerja rumah” ucap Ani menarik tangan Tolu.
...----------------...
__ADS_1
🌿Jangan lupa jejak dukungan penyemangat author. Terimakasih, salam persahabatan selalu🤚