Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Kemelut jingga


__ADS_3

Serangan sihir tanpa henti secara berantai di udara, hembusan mantra dari para dukun yang menyerang. Tubuh Tolu tidak sanggup menahan semua kekuatan yang melemahkan tenaga dalamnya.


“Mati lah kau Tolu!” suara dari salah satu dukun mengirim mantra menembus tubuhnya.


Kebanyakan dukun sakti lain sedang mencari-cari titik kelemahannya. Tolu sebisa mungkin membuat pelindung untuk membentengi diri dan keluarga. Tapi hari ini dia sudah sangat tidak kuat untuk menahan dan melawan semua itu.


...----------------...


Tak ada kata tempat untuk berleha-leha setelah hari keputusan menuju jalan yang berbeda. Sebab dalam kebahagiaan yang ingin di dapat itu telah sirna. Bukan hanya itu saja, tertutupnya pintu langit seakan telah tertutup rapat bersama kepergiaan ibunda yang telah melahirkan dan selalu mendoakan semua kebaikannya di dunia.


Melihat tubuh Tolu di angkat ke luar, orang-orang yang masih terjaga dari semalaman suntuk terkejut dan saling berbisik. Mereka ingin menanyakan apa yang terjadi pada pengantin wanita itu, tapi melihat ekspresi pak Bram membuat mereka mengurungkan niat.


“Kenapa Tolu seperti itu? Ayo kita tanyakan pada Togar” ucap salah satu warga.


“Jangan, saudagar pak Bram pasti tidak akan senang jika kita ikut campur masalah keluarganya” ucap lainnya.

__ADS_1


Tidak stabil langkah kaki ke empat orang itu untuk mengangkat tubuh Tolu yang benar-benar sangat berat. Hal mencengangkan saat mereka melewati pintu, pak Midi terjatuh sehingga keseimbangan ketiga tidak sanggup menahan hingga menjatuhkan tubuhnya.


Brugh. Brugh. (Suara tubuh bagai es batu yang terjatuh di atas ubin.


Togar buru-buru menangkap kepala Tolu agar tidak sampai terbentur. Dia meminta yang lainnya kembali mengangkat tapi tubuh Tolu seperti medan magnet kuat yang sama sekali tidak bisa di tarik kembali.


“Tuan, maafkan aku yang tidak sengaja terjatuh sehingga nona jadi seperti ini” ucap bi Tina sangat ketakutan.


“Bi Tina, sekali lagi kau harus berhati-hati! Kenapa kau sangat ceroboh!” bentak pak Bram.


Bi Tuti memberikan kode agar dia segera menghapus air matanya.


“Hei kalian yang di depan sana, tolong lanjutkan pekerjaan saja. Jangan melihat tontonan gratis seperti ini” ucap pak Bram melotot.


“Sudah lah ayah, jangan seperti itu kepada para warga yang menolong kelangsungan acara kita” bisik Togar.

__ADS_1


“Ya, tapi apa yang harus kita lakukan?” tanya pak Bram.


“Ayah, ayo kita pindahkan lagi ke kamar, sebelumnya biar bi Tina dan bi Tuti mengganti sprei dan membersihkannya” ucap Togar.


“Bagaimana kita bisa memindahkannya sementara Tolu tidak bis adi angkat? seharusnya menantuku ini di bawa ke rumah sakit!" bentak pak Bram kebingungan.


Togar membisikkan sesuatu di kedua telinga Tolu, surah-surah pendek dan memanggil namanya berkali-kali. Wanita yang terlihat sedang tidak sadarkan diri itu ternyata mengetahui semua yang terjadi padanya, badan halusnya terlepas dari badan kasar. Dia berdiri tepat di samping Togar, berusaha membisikkan isyarat kehendak langkah apa yang harus dia lakukan dengan bisikan jawaban yang dia beri.


“Togar! Siram tubuh ku dengan darah! Togar!” ucap badan halus Tolu di sampingnya.


Togar tidak mendengar perkataannya, dia terus menerus berusaha mengulang bacaan surah sambil memanggilnya. Di sisi lain, sosok pria tua yang berbaju putih mendekatinya. Ilmu kajian kejawen itu menyentuh telapak tangan kanan Tolu yang kaku hingga perlahan tubuh Tolu kembali normal.


“Terimakasih pak tua. "


"Wahai anak ku, aku tidak bisa membantu mu lagi ini adalah batas terakhir jalan yang engkau pilih."

__ADS_1


Pria tua itupun menghilang menebarkan asap putih harum semerbak bunga kasturi di udara.


__ADS_2