
Toyo menekan pelipisnya yang terasa masih sakit, dia ingat serangan Ani serta adegan kesurupan rumah Sadam. Setelah pertemuan di Cafetaria, mereka berpisah dengan melepas lambaian tangan. Terkecuali Sadam dan Mira yang bertingkah mencurigakan. Di bawah pohon yang rindang, Afif melamun memikirkan perubahan sikap Mira padanya. Toyo yang sudah bersiap melajukan kendaraanya mengurungkan niat meninggalkan sahabatnya itu. Dia menghampiri Afif, raut wajah pria itu kusut tidak bersemangat mengabaikan semua perkataannya.
“Fif, saran ku lepaskan saja Mira demi kebahagiaannya” ucap Toyo menepuk pundaknya.
Mereka sudah menjalin hubungan selama satu tahun tapi harus kandas begitu saja. Afif tidak terima mengejar Sadam dan Mira. Dia menarik kunci sepeda motor Toyo, laju kencang melihat mobil Sadam melintas ke jalur luar kota.
“Mau di bawa kemana si Mira?” gumam Afif.
Dari kaca mobil terlihat Afif mengejar mereka, Sadam melajukan kendaraan sangat kencang sampai Mira berpengangan memintanya mengurangi kecepatan.
“Sadam! Jangan ngebut dong aku takut nih! Kita bisa kecelakaan kalau seperti ini!” teriak Mira.
Kecepatan laju mobil Sadam yang tinggi membuat Afif kehilangan jejak mereka. Sadam mengambil jalur lain, melirik kembali di lintas jalan sudah tidak ada Afif yang mengejar. Perjalanan mereka menuju uncak Vila keluarga Sadam, jiwa pria yang sudah di rasuki setengah jin merah itu sudah tidak pada dirinya lagi.
......................
__ADS_1
“Togar, cepat susul anak mu. Firasat ku tidak baik tentang anak mu yang sudah mulai nakal itu” ucap Tolu.
“Sayang, bukan kah hari ini kita akan mengantar kak Ani ke rumah baru nya?”
“Ya benar, tapi sebelumnya aku mau kau cari anak mu.”
“Tenanglah sayang, Sadam kita sudah dewasa. Dia tau mana yang terbaik untuk hidupnya. Kak Ani sudah menunggu kita di bawah, kasian jika harus menunggu lebih lama lagi.”
Persiapan menuju rumah baru sesuai keinginan Ani, wanita itu sudah memutuskan untuk mencari kehidupan sendiri untuk ketenangannya. Dia di damping bi Tuti dan beberapa penjaga rumah. Letak jarak yang tidak terlalu jauh dengan rumah Tolu. Perpindahan itu di bantu tetangga sekitar. Mereka menyambut hangat kedatangan mereka.
“Maaf mengganggu mu inang. Bolehkan saya meminta bantuan?” ucap seorang wanita muda sambil menggendong anak bayinya.
“Ayo masuk saja ke dalam” ajak Tolu.
Mereka berdua duduk di balkon lantai dua, bi Tuti memberikan sebuah botol yang biasa di berikan kepada orang yang berobat pada Tolu.
__ADS_1
“Dua botol lagi bi” ucap Tolu.
“Baik non.”
“Tolong anak saya, inang. Panas tubuhnya tidak kunjung turun, setiap malam dia juga menangis sampai wajahnya memerah. Saya sudah berobat ke medis tapi tidak sembuh juga.”
“Anakmu terkena sawan. Ini akibat kau pernah membawanya di perjalanan saat magrib melewati. Ada sosok makhluk yang mengganggunya.”
“Ya benar inang. Beberapa hari yang lalu kami melakukan perjalanan ke rumah sanak saudara. Jadi, apa obat untuk anak saya? Tolong lah inang.”
“Kau kembali lagi ke wilayah itu dan buang air di dalam botol ini di sepanjang jalan menuju kesana. Tepatnya di depan sebuah pura pintu masuk ke tempat kampung itu.”
“Terimakasih inang. Berapa harga yang harus saya bayar untuk pengobatan ini?”
“Tidak usah, simpan saja itu untuk keperluan anak mu.”
__ADS_1
“Sekali lagi, terimakasih inang.”