
Musim hari buruk merajai
Tidak ada mimpi yang indah, malam di bawah alam sadar yang katanya penuh kerlip bintang sejenak itu hanyalah fatamorgana. Makhluk ghaib benar-benar ingin menguasai alam nyata, pintu ghaib terbuka lebar kosong tanpa ada yang tau makhluk apa saja yang sudah menembus mengganggu manusia. Jika malam larut di selimuti kabut putih tebal, maka tanda kejahatan hadir membawa selimut setan menghirup hawa murni jiwa yang di inginkan. Kejahatan pengendali ilmu hitam terus menerus merajalela, tanpa kita sadari di sela waktu kehadiran sosok yang tidak di inginkan datang mengganggu.
Melihat Tolu sudah membuka mata, Togar tanpa sungkan di depan orangnya langsung memeluk dirinya. Tolu terlihat malu segera melepaskan lilitan tangan sang suami. Bibirnya yang semula pucat kini terlihat sedikit merah merona, begitu pula wajahnya yang sudah sedikit berseri. Dokter Frans mengganti kantung darah, di dalam hatinya sedikit ada rasa was-was.
“Seharusnya mengganti kantung darah ini paling lama tiga sampai empat jam sekali. Tapi aku sudah mengganti selama satu jam sekali, apakah hal ini tidak berpengaruh pada pembuluh darahnya?” gumam dokter Frans.
“Dok, bagaimana keadaan menantu ku?” tanya Bram.
“Ibu dan bayinya sudah melewati masa kritis, setelah kantung darah terakhir maka jarum infus sudah bisa di lepas. Saran saya sebaiknya ibu Tolu jangan terlalu stress dan melakukan banyak aktivitas yang berat” kata dokter Frans menerangkan.
Togar melihat tangan sang dokter gemetaran memasukkan peralatan di dalam kotak kerjanya. Hal ini bukanlah pertama kali gelagat aneh sang dokter setelah memeriksa keluarganya. Sebelum pergi, dokter Frans meminta waktu berbicara sebentar secara empat mata pada Togar. Di sudut ruangan, kedua tangan sang dokter itu di satukan dan di letakkan di depan dada dengan pandangan memelas.
“Maaf seribu kali maaf, saya selaku dokter keluarga ini ingin pamit undur diri dari ke penugasan. Mohon bapak jangan memanggil saya lagi ketika saya sudah bermutasi di luar kota” ucapnya penuh harap.
“Apa sebenarnya yang terjadi sampai dokter sangat menolak menjadi dokter di keluarga kami? Apakah gaji yang dokter terima masih kurang?” tanya Togar.
“Tidak, malah terbilang lebih dari
cukup. Tuan sebenarnya saya sering mengalami hal aneh disini. Sering kali saya tidak bisa tidur selama berhari-hari setelah pulang dari rumah ini. Terlebih lagi!___” ucapnya berhenti.
__ADS_1
Tepat di malam Tolu tidak sadarkan diri
Dokter Frans sesekali masuk ke ruangan untuk memeriksa infus dan kondisi tubuhnya. Sosok Tolu berdiri melayang dengan tanduk panjang di kepalanya. Dia menatap sang dokter lalu menyeringai memperlihatkan gigi taring. Dokter Frans yang sangat ketakutan berlari keluar pintu, tapi di depan pintu berdiri sosok Tolu lainnya memakai baju kebaya dengan rok songket tenun emas yang biasa dia pakai sedang memegang kepala tengkorak dan di pindahkan ke tangan si dokter.
Teriakan, ketakutan dan jeritan seolah tidak terdengar di rumah itu. Kemanapun langkah sang dokter sampai mencari pintu keluar, rumah itu berubah menjadi labirin sempit di penuhi berbagai makhluk halus yang menyeramkan.
Keringat dingin dia menceritakan pada Togar, gemetar tangannya mengepal tangan pria itu melanjutkan minta maaf sebesar-besarnya untuk yang terakhir kalinya. Bram mengintip dari balik pintu, dia mendengar semua cerita sang dokter.
“Tolu, apa yang kini kau rasakan? Apakah kau menginginkan sesuatu?” tanya Bram.
“Tidak ayah, aku tidak menginginkan apapun. aku sudah merasa baikan” jawab Tolu.
“Apa yang harus aku putuskan sekarang Mawarni?” gumam Bram membuka foto kecil didompetnya.
...----------------...
Pihak keluarga ipar enggan memperdulikan kabar Ani. Terutama Sekar yang menyatakan kebencian lewat sumpah serapah untuk tidak menginjakkan kaki lagi di rumah wanita yang dia anggap sial itu. Kabar kehilangan Ani dari rumahnya di beri tepukan meriah olehnya, kini kelakuan kejahatan bekas sang menantu menjadi sempurna di matanya.
“Pak lihatlah, dia sebagai istrinya Tohfa bukannya mengadakan acara do’a empat puluh hari atau menyesali semua perbuatannya. Jangankan empat puluh hari, tiga hari setelah kepergian anak kita saja dia pergi dari rumah seperti orang gila!” cerca Sekar mengepal tangannya.
“Sabar bu, kita do’akan saja yang terbaik untuk menantu kita” kata Jagad.
__ADS_1
“Dia bukan menantu kita lagi, dia memberi banyak musibah di keluarga kita” ucap Sekar pergi berlalu.
Ting, tong (Suara bel berbunyi).
Sema membawa Sera dan Sire, ada dua tas besar yang di bawa dengan kepayahan menggendong kedua anaknya. Mata masih sembab, Sekar meraih Sire dan Jagad mengambil Sera dari gendongannya. Sema di minta untuk masuk, dia juga suruh beristirahat sejenak di ruang keluarga. Tapi wanita itu tampak terburu-buru sambil menahan tangis meminta kakak dan abang iparnya itu agar mau menerima kedua buah hatinya untuk sementara.
“Apa maksud mu Sema? Lebih baik kau bekerja disini dan tinggal bersama anak-anakmu” ucap Sekar.
“Biar aku yang mencarikan mu pekerjaan jika engkau sungkan bekerja disini” ucap Jagad.
“Terimakasih banyak atas kebaikan kalian berdua. Tapi keputusan ku ini sudah bulat untuk meminta pada kakak dan abang agar menerima, menjaga anak-anak ku sampai aku kembali. Aku mohon, ” ucap Sema memelas.
Kecupan dan pelukan terakhir kepada kedua buah hatinya. Sema menangis memalingkan wajah melepas kedua anaknya. Dia adalah wanita yang rapuh, di balik kepergiaannya itu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kedua anaknya, dia juga masih terus mencari tau dimana sosok utuh dukun Omas yang memakan organ suaminya. Kedua anaknya yang terbangun seketika menangis melihat sang ibu pergi. Tangisan mereka menjadi-jadi, membuat kaki Sema berhenti di depan jalan.
“Ibu! Ibu!” panggil kedua anaknya.
Sema melanjutkan langkah yang berat, dia tidak mau rencananya terhenti demi mencari sebuah jawaban dan kelangsungan biaya kehidupan. Sedetik memutar tubuh dan berlari memeluk erat keduanya. Pelukan yang tidak pernah bisa melepaskan rasa rindu. Sema pun melanjutkan langkah untuk pergi. Sekar sedangkan Jagad menutup pintu mengajak mereka untuk pindah ke ruangan keluarga.
Jagad dan Sekar telah kehilangan anak kesayangan mereka, tapi hari ini mereka di beri amanah untuk menjaga dua orang anak perempuan sampai ibunya kembali. Sekar masih memikirkan Tohfa kini menatap dua anak kecil seperti bayangan Tohfa di masa kecil. Tangis tidak terkendali, Jagad mengusap punggung sang istri di sela menenangkan Sire yang masih menangis.
“Sudah bu, tidak baik di lihat anak-anak.”
__ADS_1