
Amangtahe, au naung Mangalumbahon mu manjaga goar denggan tondong in.
(Aku sudah mengingat kan mu untuk menjaga nama baik keluarga ini).
Brugh
Dugh
Prang_
Amarah si ibu meluap dia melemparkan benda apapun di hadapan tapi anak nakal itu mengelak cepat sambil tertawa. Sadam malah memecah keheningan dengan senyuman memeluk sang ibu lalu berlutut. Jin merah di tubuhnya pergi melihat amarah si inang. Sadam mencium kaki Tolu, meminta maaf mengutarakan semua yang sudah terjadi akan kesilapannya pada Mira. Semua itu seolah di luar batas kendali.
Mendengar perkataan Sadam, hati Tolu bagai di Sambar petir di siang bolong yang terik atau wajahnya seperti di lempar kotoran hewan di depan khalayak umum.
__ADS_1
“Kau benar-benar telah mengecewakan ku Sadam!”
Tolu tidak bisa berkata lagi, dia menahan emosi hasrat membunuh separuh tubuhnya bercampur dengan begu dan perewangan. Dia menuju ke kamar khusus, membanting pintu mengabaikan panggilan Sadam. Tolu berpikir sudah menjadi ibu yang gagal mendidik anaknya itu. Nama keluarganya telah hancur dan rusak. Pada malam itu dia mengurung diri, sesajian dan mantra di abaikan bahkan panggilan dari makhluk raja jin di kaki bukit tidak dia jawab.
Tin
Tin…
Suara klakson mobil memasuki rumah. Togar mendengar berita buruk itu langsung dari Sadam anaknya. Sang ayah yang penuh amarah itu langsung mencarinya mengepal tangan memukul wajah hingga menghajarnya.
“Kau sudah buat malu keluarga!”
Salah satu keris yang terpajang di dinding di raih dia membuka bersiap membunuh anaknya itu. Jin merah menghembuskan senjata itu hingga membantik kaca jendela memecahkan seluruh benda di sekitarnya.
__ADS_1
Menyadari ada makhluk lain, Togar meninggalkan Sadam mencari Tolu di setiap ruangan. Dia bertanya kepada semua pekerja di dalam rumah itu tapi tidak ada yang melihatnya. Dia memberanikan diri untuk mendekati ruangan rahasia khusus milik Tolu.
Tepat dua tahun yang lalu dia mengalami demam tinggi setelah masuk di ruangan itu. Tidak perduli serangan penyakit yang dia dapat asal bisa melihat istrinya di dalam.
“Apakah Tolu sudah mengetahuinya?” gumamnya.
“Tolu, sayang, buka pintunya. Aku mau bicara pada mu” ucap Togar.
Ketukan pintu dan panggilan selama berjam-jam tidak di jawab. Togar berlari ke dalam kamar mencari kunci kamar rahasia yang di sembunyikan Tolu. Dia mengobrak-abrik kamar, pintu ruangan rahasia terbuat dari beri sedangkan untuk mendobrak adalah suatu hal sia-sia kecuali memanggil seorang tukang kunci.
Di balik lemari pakaian bagian bawah di menemukan bungkusan kain hitam. Pada ujung di ikat simpul tali berwarna putih mirip kain kafan. Dia membuka melihat isi di dalamnya, sebuah batu mustika berwarna merah, keris berukuran sangat kecil, sebuah benda mirip kelereng dan benda asing lainnya. Di antara semua benda itu, dia menemukan sebuah kunci berwarna hitam. Togar berharap itu adalah kunci pembuka ruangan rahasia.
Berlari tepat di depan pintu, Togar berhasil membuka kamar rahasia mendapati Tolu berbaring di sudut ruangan. Wajahnya sangat pucat, matanya mengarah ke atas langit-langit kamar. Aroma anyir bercampur dupa dan kemenyan. Salah satu patung yang berada di tempat itu bergerak sendiri mendekati mereka.
__ADS_1
Togar segera mengangkat Tolu. Perlahan dia meletakkkannya di dekat pintu lalu mengunci kembali kamar. Dia menuruni anak tangga menggendong Tolu membawanya ke dalam kamar.
“Bu!” pangggil Sadam.