Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Pengobatan ghaib


__ADS_3

Apabila hari buruk telah tiba, nyanyian dan suara yang di lontarkan makhluk halus menjadi suatu pertanda buruk.


Semi mencari alamat rumah yang di tuju, letak lokasi yang jaraknya cukup jauh dan melewati pepohonan pinus di sekitarnya. Wilayah yang tampak asing dengan suasana perkampungan yang sangat kental. Saat Semi memasuki wilayah itu, terdengar suara burung gagak yang beterbangan, pohon yang melambai dan aungan suara serigala dari kejauhan yang menambah kesan angker tempat tersebut. Demi harapan agar ibunya dapat sembuh, dia meneruskan kendaraan menuju rumah Tolu.


Lokasi rumah yang berada di dekat hutan keramat yang menjadi perbincangan orang-orang, Semi turun dari mobil lalu menurunkan kursi roda dan mengangkat ibunya ke arah gerbang masuk rumah yang tampak berciri khas ada itu. Meskipun rumah mewah bertingkat dan terdapat kolam renang di atasnya, kesan klasik dan ciri khas daerah di tempat itu masih terlihat jelas.


“Permisi!” ucap Semi.


“Ya, cari siapa tuan?” tanya pak Nanang berlari dengan membawa cangkul di pundaknya.


“Apakah ini rumah bu Tolu?”


“Benar, pakah tuan sudah membuat janji terlebih dahulu dengan beliau?” ucap pak Nanang lalu membuka pintu gerbang.


“Belum, keadaan yang mendesak dan darurat membuat saya harus datang sekarang. Tolong beritahu bu Tolu bahwa saya sangat mendesak dan memohon untuk bertemu” ucap Semi.

__ADS_1


Pak Nanang memperhatikan ibu yang berada di sampingnya yang sedang duduk di kursi roda. Terlihat matanya berputar ke atas dan jarinya menunjuk ke arah depan.


“Tunggu sebentar, saya akan memberitahu kepada nyonya” pak Nanang berlari memasuki rumah.


“Ada apa pak?” tanya mbok Heni.


“Mbok, dimana non Tolu? Ada pasien yang kesurupan di luar mbok!” ucapnya dengan nafas tersengal-sengal.


“Apa? Non Tou sedang berada di lantai atas pak. Kamu pasti tau kalau non sudah disana maka tidak ada satupun yang boleh mengganggunya” ucap mbok Heni.


“Sepertinya kita harus menyampaikan ke non Ani” ucap pak Nanang.


“Siapa yang mengetuk pintu sekuat itu?” gumam Ani melepaskan earphone lalu membuka pintu.


“Gawat non, ada yang kesurupan di luar. Salah satu dari tamu itu ingin bertemu dengan non Tolu” ucap pak Nanang.

__ADS_1


“Benar non, si mbok tadi mengintip ada seorang wanita yang duduk di kursi roda seolah ingin memangsa seseorang” ucap mbok Heni ketakutan.


“Apa? Kalau begitu kalian tolong jaga mereka. Aku akan ke atas untuk membicarakan tentang hal ini.”


Ani menaiki anak tangga, menuju lantai atas yang pernah misterius itu sambil mengucapkan do’a di dalam hati. Walau kamar Tolu yang berada di sisi lainnya sedang kosong, tidak ada yang berani memasukinya setelah seisi rumah mendapati penampakan ghaib yang menyeramkan.


“Tolu!” panggil Ani.


Angin kencang membanting, di depan pintu terdengar suara ketukan dan teriakan suara wanita. Ani tetap memberanikan diri berdiri disana, kini sekujur tubuhnya terasa sangat merinding dan kedinginan.


“Tolu adik ku!” teriak Ani.


“Pergi!” gema suara laki-laki yang tidak terlihat wujudnya.


Tok, tok, (Suara ketukan pintu)

__ADS_1


“Tolu!” teriak Ani lebih kencang.


Dia mencoba melawan rasa takut, kaki yang sudah gemetaran berusaha tegak mengabaikan semua gangguan di sekitar.


__ADS_2