Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Di tikam hati iblis


__ADS_3

“Togar” bisik salah satu makhluk di telinga Tolu.


Tanpa terasa rambutnya jatuh terurai, dia kehilangan tusuk konde pemberian Togar. Dia merasakan aroma tubuh Togar berada di tempat itu. Memutar tubuh kembali memasuki area hitam, setengah keyakinan mencari dimana letak posisi Togar berada. Pandangan tidak terlihat jelas Karena kabut putih pekat membuat kabur penglihatan. Tolu menggunakan kekuatan ilmu hitam pemanggil arwah penghuni hutan untuk membuka jalan untuk dirinya.


“Parmisi ni panggomgom rumba sasude ojin na adong mambuha dalan tu mangalului sasahalak” suara kecil Tolu melanjutkan mantra.


Kabut putih pekat memang masih belum pergi, tapi gulungannya perlahan membuka jalan sehingga dengan mudah Tolu bisa melewatinya. Di sisi lain, di dalam gua sudah ada Togar ketakutan tertindih sosok makhluk halus yang berwujud wanita cantik nan rupawan. Di balik wujudnya siluman iblis itu, dia menggeliat mengitari tubuh Togar. Pria itu berkali-kali mengucapkan surah pendek sambil menutup mata. Tengkuk lehernya di hembus, hawa kegelisahan dan godaan mengganggu agar Togar membuka matanya. Makhluk salah satu penunggu gua berwujud sosok sangat cantik jelita, dia berusaha semaksimal mungkin untuk menggoda Togar.


“Pergi!” usir Togar mendorong tubuhnya yang licin.


Rahang mulut mahkluk itu menyerupai bentuk ular, tubuh Togar di lilit dengan akar berduri yang menjalar semakin erat membuat robekan pada kulitnya. Darah yang tumpah menimbulkan suara teriakan makhluk bersenang-senang melayang berhamburan menikmatinya. Ketika Togar akan di makan oleh makhluk itu, sosok lain dari balik tubuhnya menyerang melempar semua para setan menjauhinya.


“Siapa yang berani melawan ku?” teriak siluman wanita itu.


Tolu hadir mencekik iblis wanita itu dengan tangan setan yang dia miliki. Diri Tolu sudah di kuasai seutuhnya oleh raja penghuni kaki bukit. Dari dalam, jiwa Tolu yang masih sadar langsung menggerakkan makhluk yang menduduki tubuhnya untuk melenyapkan iblis wanita yang melukai Togar.


“Tolu, dia adalah wanita tua yang menjaga hutan jauh setelah aku menguasai wilayah ini. Jika kau ingin aku melenyapkannya maka kau harus menambah persyaratan tumbal kepala hewan dan manusia” ucap sosok raja jin iblis.


“Apapun itu, asal kau membantu ku!” ucap Tolu.


Berharap Togar bisa lepas dari wanita iblis yang hampir mengisap tubuhnya menggunakan akar setan di dalam gua. Setelah bertransaksi dengan raja iblis, Tolu berhasil menyelamatkan Togar, darah suaminya sudah membekas di tanah gua, darah yang jatuh di kenali dan menjadi tanda jiwa Togar. Tolu menarik Togar berlari keluar hutan, di tengah perjalanan kakinya tertusuk benda tajam, ternyata benda yang melukainya adalah tusuk sanggul miliknya. Bentuk bunga hias kamboja yang terdapat di ujungnya terkena darah yang keluar dari kaki Tolu.


Jejak kaki darah, Tolu tidak memperdulikan darahnya yang tertinggal. Dia mencabut paksa pisau kecil yang selalu dia bawa dengan harapan agar segera kembali. ke rumah.

__ADS_1


“Tolu! Biar aku menggendong mu!” teriak Togar.


Tubuh di duduki makhluk lain, kekuatan Tolu mencengkram pergelangan tangan Togar secepat kilat membawanya memasuki kamar persemedian. Togar di dudukan di depan meja ritualnya, wajah Tolu terlihat sangat menyeramkan. Rambut acak-acakan, kepala miring dan lidah sedikit menjulur ke bawah. Dia menyiram Togar dengan darah hitam yang berada di dalam wadah berukuran sedang.


“Tolu, apa yang kau lakukan?” ucap Togar.


Dia menerima siraman darah hitam itu sambil meringis, di sela rasa sakit akibat duri bekas akar yang merobek kulit. Togar beranjak mengguncangkan tubuh Tolu, mata istrinya itu seutuhnya memutih. Dia mengeluarkan keempat gigi taring menyeringai melihatnya.


Wanita itu melepaskan sosok raja jin dari dalam tubuhnya ketika Togar memanggil namanya sebanyak tiga kali.


“Togar, aku tidak akan menyakiti mu” gumamnya.


Melihat bola mata Tolu kembali seperti semula, Togar memeluk erat Tolu sambil menangis.


“Cepat bersihkan tubuhmu” ucap Tolu.


“Bukan kah yang berlari tadi adalah dukun Tolu dan suaminya Togar?” gumam Trim.


Dia masih tetap bersabar menunggu di teras rumah, pandangan beralir pada kolam air mancur yang warna air berubah menjadi warna merah. Trim mengabaikan penglihatannya itu lalu menarik posisi duduk Norman lebih menjauh dari sana.


Trim mengendap-endap masuk ke dalam rumah, dia mengintip suasana di dalam gerakan perlahan menaiki anak tangga. Dia hampir tergelincir karena ada lintah dan cacing bertebaran, langkah mundur terbentur mbok Heni yang mengernyitkan dahi.


“Maaf, saya mau mencari toilet” ucap Trim.

__ADS_1


“Nek, toilet ada di ujung ruangan sana” ucap si mbok.


Melihat Tolu dan Togar menuruni tangga, si mbok langsung menceritakan mengenai Ani. Mereka pun menemui Ani yang masih di periksa oleh dokter pribadi keluarga mereka. Di dalam kamar sudah di persiapkan jarum infus yang menggantung. Di sisi kanan Ani ada Mariam yang berdiri menunggunya.


“Mariam, kau pulang saja. Sagala pasti menunggu mu. Hari mulai petang” ucap Tolu.


“Terimakasih non. Sebelumnya saya mau memberitahu ada seorang nenek bersama cucunya yang sedari dini hari ingin bertemu non” ucapnya.


“Aku akan menemuinya nanti” sahut Tolu.


Mendengar keadaan Ani baik-baik saja dari sang dokter, dia belum puas jika belum memastikan suhu tubuh Ani melali meditasi ghaib. Menekan pembuluh nadi di salah satu pergelangan tangan Ani. Raut wajah dukun yang terlihat sangat kelelahan itu memejamkan mata merasakan detak jantung Ani lebih cepat berpacu tidak normal dari biasanya.


Tolu meminta mbok Heni tetap menjaga Ani sampai dia menyelesaikan pertemuan dengan Trim. Togar dan dokter keluarga mereka berbincang-bincang di sisi ruang tengah. Melihat keduanya berjabat tangan, Tolu ikut mengantarkannya di depan pintu.


“Nenek kenapa tidak masuk saja ke dalam?” sapa Togar.


“Tidak apa-apa pak, saya cukup menunggu disini. Apakah sudah bisa saya berbicara dengan dukun Tolu?” tanya Trim.


“Panggil saja aku Tolu. Ada yang bisa aku bantu nek?” tanya Tolu.


“Lihatlah cucuku Norman. Aku tau kau sangat marah di malam itu, dia memang melakukan kesalahan yang fatal. Atas namaku ini, tolong maafkan dia dan sembuhkan penyakitnya” ucap Trim memelas.


Wanita tua itu berjongkok mengusap kaki Tolu, tubuh Tolu menghindar lalu mengangkat Trim untuk berdiri. Hal yang tidak terduga terjadi ketika Norman sudah menyiapkan pisau lipat di tangannya. Dia menusuk perut bagian kiri Tolu dan menekan pisau lebih dalam.

__ADS_1


Pragh. Brugh.


Benda keras membanting kepala Norman. Togar terus menerus memukul tanpa henti, sampai dia sekarat mengeluarkan muntahan darah di sambung hantaman. Isak tangis memohon dari Trim agar Togar melepaskannya. Wanita tua itu di banting ke lantai, Togar gelap mata menarik pisau dari perut Tolu lalu mengangkat tubuh Norman pintu, dia menancapkan pisau di bahu Norman dalam keadaan posisi tubuh menggantung. Setengah mati menahan rasa sakit, Trim hanya bisa menangis melihat cucunya.


__ADS_2