
Perihal mimpi pak Bram
Berdiri di jalan gelap, tangan panjang menjuntai menarik tubuhnya hingga terbanting. Suara aneh menggema, Bram merangkak berlari menghindari tangan hantu yang mengejar. Suara minta tolong sulit terucap fasih keluar seolah pita suaranya terkunci.
“Ayah cari siapa?” sosok Tolu berwajah pucat memegang kepala tengkorak mengeluarkan lintah dan kalajengking di tangan.
“To_Lu?” nada suara Bram ketakutan berjalan mundur.
“Ayah, aku disini,” ucapnya dari belakang.
Ketika dia membalikkan tubuh, Tolu berubah wujud menjadi makhluk mengerikan. Bram setengah mati ketakutan. Dia membuka mata tersadar dari alam tidur. Gangguan belum berakhir, makhluk tanpa kaki terbang menembus tubuhnya.
“Argghh!”
...----------------...
“Sayang, dari mana kau tadi?” tanya Togar.
“Aku keluar sebentar, ayo lanjutkan perjalanan,” jawab Tolu ketus.
Pak Seto menelan air liurnya sendiri, sosok majikan itu terlalu menyeramkan karena dalam sedetik bisa menghilang dari tempatnya. Ini adalah kali kedua dia mengalami hal mistis. Kembali ke kediaman, depan gerbang sudah di sambut beberapa ekor anjing luar menggonggong di depan pintu. Pak Supir keluar melempar batu dan beberapa patahan ranting, sambutan lain burung gagak berterbangan di sekitar pepohonan. Pertanda kegelapan, mata Tolu melotot mengerang, dia berjalan ke pekarangan belakang rumah.
...----------------...
Tolu mencakar tanah, menggali dengan jarinya sendiri. Togar menghentikan gerakan, tapi tangannya yang keras terus menggali hingga paling lebih dalam. Terlihat sebuah bungkusan kecil berwarna putih, Mereka berjongkok, Togar melotot tidak melihat Toku melepaskan ikatan kain berisi berbagai benda tajam dan beberapa nama di dalamnya. Ani, Togar dan Tolu, nama mereka jelas tertulis di dalam sebuh gulungan kertas kecil.
“Berikan pematik mu,” ucap Tolu.
Togar merogoh saku, dia memberikan dengan pandangan mata masih fokus melihat isi di dalam kain. Gerakan bibir Tolu berkomat-kamit, menghembuskan mantra ke bungkusan. Dia menyalakan api dari pematik, membakar benda tajam dengan satu sulut percikan. Sungguh hal menakjubkan, tanpa menyiram semua benda itu dengan minyak sekalipun semua barang habis terbakar bagai dedaunan kering tanpa tersisa.
“Siapa yang melakukan hal ini?” tanya Togar.
__ADS_1
“Orang-orang yang tidak menyukai kita, mereka menanamnya di saat aku lengah. Sekarang aku semakin khawatir di hari H pernikahan kak Ani nanti” ucap Tolu.
“Sayang, kita akan melaluinya bersama-sama.”
Sisi liar, hawa membunuh dan haus akan darah. Salah satu penjaga makhluk astral di dalam tubuh Tolu merontah-rontah tidak terkendali. Dia melawan sosok menyeramkan, kontak tubuh Tolu menyala ikut mengerang di dalam kamar persemedian. Pintu jendela terbanting, tirai menggulung, semua isi meja ritual berserakan.
“Suara apa di lantai atas?” tanya Bram.
“Tolu sedang menjalankan meditasi. Ayah, semoga engkau mengerti,” jawab Togar menjelaskan.
“Semula aku mengurungkan niat untuk bermalam sampai tadi semangat ku membara akan kehadiran sangat cucu. Akan tetapi dengan keadaan Tolu, tidak bisa di biarkan seperti ini terus, istri mu harus kau bimbing di jalan yang benar. Bagaimana bisa kalian menjalani keadaan yang tidak tenang setiap hari? Ayah tidak mau sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi,” kata Bram.
Si mbok datang menyediakan dua gelas kopi dan beberapa roti lapis di atas wadah kaca. Dia mempersilahkan kepada keduanya lalu berbalik arah meninggalkan mereka.
“Tolu seorang dukun, dia pasti harus memberikan tumbal untuk ilmu hitamnya!”
Mendengar perkataan Bram, si mbok tanpa sengaja menjatuhkan nampan.
“Aku telah lama mengabdi di keluarga ini, tidak mungkin aku akan menjadi tumbal” gumam si mbok mengusap dadanya.
Mariam yang baru tiba dari pasar memperhatikan raut wajahnya. Dia masih tampak sibuk memindahkan beberapa barang dan bungkusan, Pak Dadar dan para pekerja lain mondar-mandir mengangkat beberapa kardus ke dapur. Keperluan pesta dan segala bahan dapur yang di perlukan. Si mbok mengingat pesan Tolu bahwa semua barang dan bahan dapur di letakkan di ruangan kosong yang berada di samping gudang.
“Pak Dadar, maaf mbok lupa kalau non Tolu berpesan semua belanjaan untuk acara pesta pernikahan di letakkan di ruangan belakang,” ucap si mbok.
“Yasudah mbok setelah belanja bu Mariam kedua kalinya akan bapak susun sekalian disana."
Hari ini keluar besar sibuk membenah dan mengosongkan ruangan, pak Bram tidak memperbolehkan Tolu dan Togar untuk melakukan pekerjaan berat atau terlalu pusing memikirkan acara. Dia membayar beberapa orang terpercaya untuk membereskan semua hal secara terperinci. Pak Seto salah satu pekerja yang paling dekat dengan pak Bram tampak telaten dan cekatan membereskan segala hal yang di perintahkan. Dia kini berdiri memberikan sebuah selebaran daftar catatan kegiatan dan semua keperluan biaya secara terperinci.
“Ini yang harus di bayar tuan” ucap Seto.
“Ambilkan koperku di ruang kerja Togar,” perintahnya.
__ADS_1
“Tidak ayah, urusan pembayaran ini biar aku dan Tolu yang mengurus. Uang pesta akan kami bagi untuk semua hal acara ini” kata Togar mengelak.
“Tidak, aku sudah memutuskan untuk membantu anak menantu ku. Biar uang itu di simpan Ani agar bisa dia pakai untuk keperluan lain.”
“Terimakasih banyak ayah” ucap Togar membungkuk menepuk punggungnya.
Kebaikan pak Bram di tengah keinginannya agar sang menantu bertaubat dan bisa mendampingi togar hidup berdua secara layak dan terarah. Semua itu bagai keinginan pak belalang, darah hitam sudah mengalir di tubuh Tolu. Hal mengerikan akan berlanjut di depan mata, terutama tanaman santet yang mereka temukan tadi siang. Togar menutup rahasia besar itu agar ayahnya tidak merasa semakin khawatir.
Pak Bram mengomando semua kegiatan pekerja di teras rumah sementara Togar berpamitan pergi ke kantor. Tiba-tiba dia melihat sosok hitam besar berdiri di depan pintu gerbang halaman. Bram mengusap matanya berkali-kali, makhluk itu tetap terlihat jelas. Dia juga di kagetkan penampakan seorang wanita memakai pakaian yang mirip dengan Tolu berjalan masuk ke dalam rumah. Mata penuh memutih, wajah retak dan rambut acak-acakan.
“Arggh!” jeritnya menunjuk ke arah makhluk tersebut.
“Ada apa tuan?” tanya Seto.
“Aku melihat hantu! Coba kau pastikan lagi siapa yang masuk di dalam” ucap Bram tersengal-sengal.
“Tidak ada siapapun di ruang tamu tuan” ucap Seto.
Merasakan hal aneh, hawa rumah terasa panas dan gangguan mimpi buruk di alam tidur. Dia mengajak Seto mengantar ke sebuah tempat di sebuah alamat atas rekomendasi temannya. Selebaran kertas tertulis alamat lengkap menuju ke sebuah rumah tua. Mereka mengetuk pintu, mengintip dari sela jendela kayu, hanya terlihat tirai hitam panjang menutupi isi di dalamnya.
“Spada! apakah ada orang?” teriak Seto.
“Permisi.”
“Tuan-tuan ini cari siapa?” tanya salah satu warga yang melintas menghentikan sepedanya.
“Kami cari pemilik rumah ini pak” jawab Seto.
“Oh, pak Kartim. Jam segini beliau berada di kuburan dekat hutan seberang. Bapak bisa berjalan kaki dari sini lurus saja hingga sampai di sebuah pohon yang di ikat dengan kain” ucapnya.
“Terimakasih pak.”
__ADS_1
“Sama-sama, mari.”