Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Murka


__ADS_3

Tin, tin (Suara klakson mobil).


“Ayo pak!” ajak Kuma.


Wajah Binyo sangat pucat, dia mengucapkan suara yang tidak jelas dengan jari telunjuk menunjuk ke arah rumah.


“Sudah jangan katakan apapun! Kita harus segera pergi dari tempat ini” ucap Kuma mengemudikan kendaraan berkecepatan tinggi.


Togar masih dalam kondisi mabuk berat, dia terbangun tepat Tolu yang Nampak terlelap dan kelelahan. Tenaga kini sudah habis terkuras, sampai dia tidak mengetahui wajah Togar sudah tetap di hadapannya. Pria itu kehilangan kendali, rasa mabuk di sisi lain kesadaran melepaskan semua keinginannya yang tertahan. Malam dingin, teriakan suara makhluk halus dari kejauhan, burung hantu yang bersahutan dan burung gagak yang berterbangan sampai dini hari.


Mata Tolu terbuka lebar merasakan benda berat sedang menimpanya. Dia sangat marah sampai menendang Togar jatuh ke atas lantai. Tidak memperdulikan suara kepala Togar terbentur, dia membungkus setengah pundak tubuhnya dengan selimut. Menendang Togar sebanyak lima kali dan memukulnya tujuh kali. Belum puas rasa kekesalan, Tolu menampar wajah Togar sampai mengeluarkan darah di sudut bibirnya.


“Sakit sekali, aku tau kau pasti marah pada ku” ucap Togar perlahan membuka mata.

__ADS_1


Saat Tolu kembali akan menampar, gerakan Togar berdiri mengangkat wanita itu naik ke atas kasur. Tolu semakin marah menyalakan sinyal kemurkaan hingga meraih pisau yang dia sembunyikan di balik bantal. Benda tajam itu tepat di leher Togar bahkan sudah mengiris sedikit kulitnya.


“Akan ku bunuh kau!” ucap Tolu mengeluarkan empat gigi taring.


Dia sudah di kuasai setengah sisi lain makhluk yang bersemayam di tubuhnya. Togar hanya mengangguk setuju dan memejamkan mata. Dia mengiris lengan Togar sampai hampir memperlihatkan tulang bagian dalam, Togar hanya meringis membuka mata kembali memastikan Tolu tetap menatapnya untuk terakhir kali.


“Sayang, aku akan suami mu sampai aku mati” kata Togar.


Tolu pun membuang pisau dan bergerak mundur, dia menstabilkan emosi dan melawan hawa setan karena begitu kesal. Dia berlari ke kamar mandi, menenggelamkan diri di dalam bath up dengan shower yang mengalir di atasnya.


Sementara Togar sibuk mengoyak kain untuk mengikat luka pada lengan kanannya. Dia memanggil dokter pribadi untuk mengobati lukanya.


“Kenapa luka anda bisa separah ini pak?” tanya sang dokter.

__ADS_1


Dia menjahit lengan Togar sebanyak dua puluh jahitan untuk menyatukan kembali kulitnya yang terkoyak. Dalam keadaan waras terlihat togar berkali-kali meringis, darahnya pun belum berhenti mengalir. Dokter itu melanjutkan suntikan dan meminta Togar segera minum obat yang dia berikan.


“Pak Togar, saya sarankan agar bapak beristirahat dan tidak sedikitpun menggerakkan tangan kanan sampai lepas jahitan” nasehat dokter.


“Saya akan mengusahakannya dok, terimakasih” kata Togar.


Seharian tanpa melihat Tolu, wanita itu mengurung diri di ruangan rahasianya. Ani mengetuk pintu membujuknya untuk keluar. Hanya ada balasan suara ketukan dari pintu, Ani menghela nafas menuruni anak tangga.


“Bagaimana kak?” tanya Togar.


“Kau harus bersabar menunggu amarahnya reda” jawab Ani pergi.


Empat puluh hari di lewati tanpa tegur sapa, sesekali dia hanya menoleh sedikit jika Togar menyentuh tangannya. Tidak ada rasa iba atau kasihan melihat wajah pucat Togar yang tersiksa. Saat kedua mata mereka beradu, kaki Tolu menginjak kuat Togar lalu pergi secepatnya.

__ADS_1


...----------------...


🌿Happy Reading Everyone 🤚jangan lupa dukungan penyemangat untuk author ya terimakasih berkah selalu~


__ADS_2