
Terbagi lagi perseteruan alam yang bersimpangan mistis membawa dendam dan derita saat kekacauan hidup tercipta akan sebab akibat. Sekalipun dia di sebut dukun sakti tidak terkalahkan, jangan harap saat takdir dan nasib berbicara menguji hidupnya.
Tolu terbilang hal ini adalah suatu sihir yang kecolongan, dia menyalahkan diri sampai mengerahkan seluruh tenaga dalam demi menyembuhkan Togar.
Setelah memakan semua hewan melata, menyedot habis kiriman santet dan mengobati Togar berlanjut tahap memutar balik si pelaku. Tolu memerintahkan Dadar agar membawa Sadam ke kamarnya dan meminta agar jangan keluar dari sana sampai dia menyelesaikan ritual. Gemetar tubuh pria itu tak kala melirik mata bayi Sadam berubah sedikit memerah.
“Apakah ini bayi Sadam? Atau ini bayi setan yang lainnya?” gumam Dadar sambil bergerak menimang sang bayi.
Merinding tubuhnya merasakan hawa dingin, seolah dinding kamar di selimuti tumpukan es batu hampir membekukan tubuhnya. Kejang dan kaku dia bergetar mencari selimut, sebelumnya dia membungkus tubuh sang bayi. Dia mengganti baju setebal mungkin, bahkan kaos kaki, syal tebal dan selimut menutupi tubuhnya. Sadam menggeliat, dia menangis sekencang-kencangnya. Dadar panik karena tidak bisa menenangkan bayi kecil yang tampak kehausan itu. Tanpa memperdulikan suara tangisan Sadam, Tolu melanjutkan mantra dan mengasapi tubuh Togar dengan dupa. Dia menginang sirih menyemburkan ke tubuh Togar dan memandikan tubuhnya kembali dengan darah ayam cemani.
Semula tubuh Togar sudah seperti mayat yang sangat kaku, bahkan mengeluarkan aroma busuk serta lalat bertebaran di atasnya. Setelah perjuangan panjang sang istri, terlihat suhu tubuhnya normal kembali hingga pria itu perlahan membuka mata. Menoleh dan melihat keadaannya sendiri, gerakan refleks Togar memeluk Tolu.
“Aku pikir aku sudah mati tadi” ucapnya pelan.
Kata-katanya membuat Tolu mengurungkan niat tidak membalas pelukannya. Dia benar-benar sudah meletakkan cinta dan sayang kepada suaminya itu. Semakin hari rasa benci yang dia pupuk agar terhindar dari persyaratan ilmu yang dia anut di kaki bukit kini menjadi duri dan bumerang di hidupnya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kini aku mengerti kenapa Togar bisa terkena santet” gumam Tolu menepis rintik hujan di sudut netranya.
“Tidak, kau harus tetap hidup dan menjadi ayah untuk Sadam” balas Tolu lalu melepaskan pelukannya.
“Sadam sedang menangis, ayo kita melihatnya” ucap Togar.
“Biar aku saja yang mengurusnya, kau bersihkan dahulu sekujur tubuh mu” ucap Tolu.
__ADS_1
Melihat punggung langkah kepergian gerakan jalan sang istri, Togar memperhatikan sosok lain mengikutinya mengenakan ciri khas pakaian adat yang sama serta gaya berjalan dan sandal teklek terdengar kedua kalinya. Sosok lain yang sangat percis dengan sang istri, hanya saja yang membedakan adalah wujud samar membayang dapat menembus benda di dekatnya.
Menyadari sang istri mempunyai hal lain yang berbeda dari wanita pada umumnya, Togar hanya bisa pasrah akan kehendak hidup dan garis yang sudah dia jalani. Mencium sendiri aroma aneh menyengat di tubuhnya, matanya tidak henti melihat cermin di kamar mandi.
“Apa yang sebenarnya sudah terjadi kepada ku?” gumamnya lalu menghidupkan shower.
Membersihkan bekas siraman darah yang sudah mengering dan semua kotoran berkali-kali. Tiba-tiba lampu berkedip dan air berhenti. Togar melingak-linguk ke sekitar, wajahnya masih di penuhi dengan sabun. Sedetik dua detik, shower kembali menyala, Togar mempercepat membersihkan diri lalu meraih handuknya.
...----------------...
Tok, tok, tok (Suara ketukan pintu).
Dadar ketakutan memeluk Sadam lebih erat, dia berjalan mundur bergetar sampai menjatuhkan tubuh di sudut ruangan. Dari bawah pintu telah menjalar akar pohon berbentuk jari-jari tangan menarik kaki kanannya. Sedikit lagi bayi Sadam terbanting jika Tolu tidak cepat hadir mendobrak pintu.
“Argghh! Non! Ada hantu!” teriak Dadar.
Tolu menepuk pundak kiri dan kanan Dadar, dia mengambil Sadam dari tangan pria itu lalu pergi meninggalkannya.
“Aku tidak kuat lagi bekerja disini!” gumam Dadar meraih tas dan kantung besar untuk memasukkan barang-barangnya. Dia sudah bertekad untuk mengundurkan diri sekalipun tidak di beri pesangon oleh sang majikan. Secepat kilat Dadar membawa semua barangnya ke teras rumah lalu berdiri di depan pintu kamar sang majikan.
Tok,tok (ketukan pintu).
“Permisi non, tuan.Maaf saya mengganggu” ucap Dadar dari luar pintu.
__ADS_1
Beberapa menit menunggu, Tolu keluar sambil menggendong sadam begitu pun Togar berdiri di belakangnya. Keduanya berjalan menuruni anak tangga, Dadar mengikuti dari belakang dengan penuh rasa takut. Meskipun begitu, berhenti berkerja di kediaman dukun sakti yang penuh dengan gangguan ghaib membuat dia hampir kehilangan akal warasnya. Setiap hari banyak sekali penampakan yang berusaha dia abaikan. Dadar menundukkan kepala, menekuk lutut di hadapan keduanya.
“Ada apa dengan mu pak Dadar? Usia mu lebih tua dari kami. Tidak sepantasnya engkau bertingkah seperti itu” ucap Tolu.
Togar membantunya berdiri, dia mengernyitkan dahi lalu meraih dompet di dalam saku. Togar mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah kemudian mengambil sebuah amplop dari laci hias. Dia meletakkan dia tas tangan Dadar, akan tetapi pria itu menolak untuk menerimanya.
“Maaf tuan, saya tidak menginginkan uang karena saya meminta ijin mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Maafkan atas segala kesalahan saya” ucap Dadar.
“Kenapa tiba-tiba ingin mengundurkan diri pak? Apakah gaji selama ini kurang?” tanya Togar.
“Tidak tuan, sudah sangat cukup. Saya hanya ingin pulang kampung dan menetap bersama keluarga” ucap Dadar masih menunduk.
“Sudah, jika itu sudah menjadi keinginan pak Dadar maka kita tidak bisa menghalanginya. Dan untuk pak Dadar, Tolong terima pemberian terakhir dari tuan” pinta Tolu.
Kini rumah menjadi sepi tanpa kehadiran para pekerja, Tono dan si mbok juga belum terdengar beritanya. Togar meraih telepon genggam, menanyakan dua baby sister pribadi yang dia khususkan untuk menjadi Sadam. Lagi-lagi berita duka hadir ketika para penjaga itu menuju perjalanan ke desa mereka, banyak sekali halangan sampai musibah yang menimpa sehingga tidak pernah sampai kesana.
Tepat tengah malam, Togar terbangun mendengar suara tangis Sadam. Tolu tidak ada di sampingnya, dia langsung mengangkat Sadam perlahan memberikan botol dot susu yang berada di atas nakas.
“Sadam, anak baik. Jangan menangis lagi ya” ucap Togar dengan lembut mengusap dahinya.
Dari bawah kolong kasur, bayi merah memperhatikan perlakuan Togar kepada Sadam. Sosok jin penjaga Sadam itu seolah juga ingin di timang. Timbul hati setan yang memiliki rasa iri dan dengki sekalipun dia begitu dekat dan di tugaskan Tolu menjadi pelindung Sadam. Dia menjelma menjadi Sadam berjalan merebahkan tubuh di bagian sisi kanan. Togar sudah terlelap hingga mendengkur, jin merah menggeser bayi Sadam lalu menempati bekas bantal Sadam yang sangat dekat dengan Togar.
“Hihihi! Ahihihihh!” tawanya menyeringai.
__ADS_1