
Sesajian dan ritual tetap di jalankan, Bram tanpa ragu dengan keinginannya merubah sang menantu agar sadar akan jalan hitam yang dia tempuh. Terkadang keputusan manusia mempercayakan masalah kepada orang yang berstatus sebagai dukun hanya akan membuat jalan sesat belaka. Ketidaksadaran Bram Karena jalan pikiran sudah buntu.
Bram mengutus pesuruh asistennya yang lain untuk menyediakan bahan persembahan yang di minta si dukun. Seto sudah mempersiapkan semua benda yang di minta, dia menunggu Bram di depan rumah. Jalan Bram sedikit sempoyongan, tidur tidak nyenyak di sela mimpi mengerikan. Kartim membukakan pintu untuknya, Bram mengarahkan jalan menuju ke tempat si pria tua.
...----------------...
Jagad dan Sekar sibuk menyiapkan hal yang harus di bawa ke rumah Ani. Saat sibuk menulis undangan dan keperluan lain, bunyi ponsel Jagad terbaca sebuah nomor asing. Sebuah pesan yang membuat dia terkejut.
Kepada tuan Jagad
Pernikahan anak mu akan menjadi bencana besar. Tolu akan menjadi momok di rumah tangga mereka karena ilmu hitam yang di anut. Aku mengingatkan kalian jika ingin Tohfa selamat.
Sekar ikut membaca pesan tersebut. Dia menjatuhkan gelas ke lantai hingga terduduk di atas pecahan kaca itu. Jagad membantu dia berdiri, dia membersihkan pecahan kaca dengan hati-hati.
“Untung saja pecahan ini tidak melukai mu. Tenanglah, kita sudah memberi restu pada anak kita” ucap Jagad.
“Tapi, wanita itu dukun sakti,” Sekar mengernyitkan dahi.
Stef dan Parka datang menyodorkan beberapa bungkusan. Mereka membantu Jagad dan Sekar menyiapkan urusan pernikahan Tohfa.
“Ada apa kak? kenapa raut wajah mu kusut sekali?” ucap Stef.
“Aku sangat mengkhawatirkan Tohfa, pernikahannya dengan Ani masih memberatkan ku” sahut Sekar.
__ADS_1
“Jujur aku juga mendengar semua sindiran para tetangga dan orang kampung. Tapi kita harus menghormati ustadz Gersan.
Stef memberikan segelas air dan obat jantung yang harus di konsumsi Sekar setiap hari. Stef memijat sang kakak lalu membantu dia meluruskan kaki.
“Kak, garis kehidupan ini sedikit ada kemiripan. Posisi urutan kita sama dengan mereka. Hanya kita dua seperti halnya Tolu dan Ani kakak beradik saling memiliki” ucap Stef menenangkan perasaannya.
...----------------...
Di depan kuburan keramat, dukun Kartim melakukan ritual. Bram meletakkan sebuah kepala kambing di atas nampan yang di tutupi kain putih. Ada berbagai macam bunga bertaburan di atasnya, angin kencang menggulung. Ada suara Guntur menggelegar tanpa hujan atau awan hitam. Suasana langit menyeramkan, Kartim meminta dia mengulurkan tangan di atas batu nisan. Kartim mencabut keris hitam miliknya. Ketika dia akan menggores tangan Bram, gerakannya di hentikan oleh Seto. Kaki tangan kedua Bram itu memukul wajahnya hingga babak belur.
“Apa yang kau lakukan?” teriak Bram.
“Tuan besar, anda yang akan di korbankan dalam ritual ini. Tidak ada yang bisa melawan dukun Tolu. Seluruh warga kampung mengetahuinya. Saya mendapat informasi mengenai pria tua ini, dia mengambil pesugihan dari kuburan keramat dan mencari tumbal” Seto menjelaskan dengan terperinci.
“Ayo tuan, kita harus segera pergi."
Jalan kembali, berpulang dan tempat mengadu kepada Allah yang Maha Esa. Boas menepikan kendaraan mengajak Bram masuk ke dalam masjid dengan nafas tersengal-sengal.Orang-orang yang masih mengaji menoleh lalu melanjutkan bacaan. Salah satu pria tua berpeci hitam menghampiri mereka kemudian mengarahkan langkah di sisi dekat pinggir masjid.
“Maaf kami sedang melakukan pengajian, jika bapak mau bergabung silahkan mengambil air wudhu terlebih dahulu dan memakai sarung yang tersedia disana” ucap pria tua itu sopan.
Penampilan Bram dan Boas amburadul dan kotor, mereka baru menyadari setelah mengamati sendiri. Bram menyatukan kedua tangan di depan dada.
“Pak, tolong panggilkan ustadz Gersan kesini. Kami ada keperluan yang sangat penting. Tolong lah kami pak” ucap Bram.
__ADS_1
“Baik tunggu disini pak,” jawabnya.
Ringkih tubuh menua itu berjalan membungkuk. Kharisma dan kewibawaan masih terlihat jelas, wajah menampakkan ketegasan dan teduh di pandang karena selalu menyiram dengan air wudhu di sela melaksanakan ibadah menghadap Illahi.
“Ustadz, bantulah aku menyelamatkan anak dan menantu ku. Rumah tangga mereka sedang di ambang kekacauan. Aku mohon.”
Bram menceritakan semua hal secara terperinci, tanpa ada satupun yang di tutupi menutup pembicaraan sambil mengepal tangan menahan air mata yang hampir menetes.
“Manusia yang memilih jalan sesat, hidup akan terombang-ambing tidak ada kebahagiaan dan ketenangan. Di dalam ayat 186 di katakan bahwa jalan hidayah ataupun jalan kesesatan itu tergantung manusia. Jika manusia memilih jalan sesat, maka Allah akan menyesatkan begitu juga sebaliknya. Jika manusia memilih jalan hidayah maka Allah akan menunjukkan jalan kebaikan. Tidak ada yang bisa merubah dirinya selain manusia itu sendiri” ucap sang ustadz memberikan petuah.
“Lalu bagaimana cara ku untuk membantu mereka?” tanya Bram.
“Engkau selaku seorang ayah harus mengambil ketegasan meminta dia memilih jalan mana yang mereka tuju agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari. Terutama bimbinglah anak mu dan minta dia memutuskan yang terbaik di hidupnya.”
Ustadz Gersan meletakkan sebotol air, dia meminta Bram untuk meminumkan ke Togar dan dirinya. Air yang berisi bacaan surah-surah pilihan. Ilmu kejawen putih menetralisir segala serangan dan isi sihir dan teluh. Bram dan Seto berpamitan, mereka sangat mengucapkan terimakasih kepadanya.
“Terimakasih ustadz” ucap Bram kembali.
...----------------...
Hati setan tertutup memberi pengampunan pada sosok yang di tuju. Tidak ada kata maaf atau kalimat melepaskan tanpa menimbang kesalahan si pelaku. Mengetahui sihir di tiup ke dalam tengkuk aliran darah Togar, wanita dukun sakti langsung mengambil tindakan mematikan. Kartim malam ini meregang nyawa, sekarat sekujur tubuh meringis menahan darah nya sendiri yang keluar dari sela lubang bola mata, hidung dan telinga. Tolu mematahkan semua urat-urat nadinya dengan sihir.
“Argh! Tolong! Ampun inang! Aku tidak sengaja melukai suami mu” ucap Kartim.
__ADS_1
Dia menancapkan keris di tanah, mengeluarkan sisa kekuatan tenaga dalam meminta bantuan kepada jin penunggu kuburan keramat. Perang sihir menikam dada Kartim, kekuatan Tolu tidak bisa di imbangi oleh jin tersebut. Di ruang persemedian, dia mengusap batu mustika merah memanggil raja jin penguasa kaki bukit untuk melawan makhluk yang membantu Kartim. Kekuatan pendamping Tolu berhasil mengalahkan makhluk penjaga kuburan keramat. Dia masuk ke dalam tubuh Kartim ******* darah dari dalam. Rasa sakit setengah sakaratul maut, Kartim meninggal dengan keadaan tubuh yang hancur.