Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Jalan lain


__ADS_3

“Non, non Ani hilang!” ucap si mbok.


Pagi hari masih berselubung duka harus di kejutkan lagi dengan masalah kehilangan Ani. Tolu berlari memastikan lagi dimana Ani. Menggunakan mata setannya, dia tidak melihat tanda-tanda bahwa Ani di curi oleh makhluk halus.


“Cepat hubungi polisi dan pak Togar” ucap Tolu.


Parman dan Bram pagi-pagi sekali sudah ikut pergi ke kantor bersama Togar. Di usia lanjut opung Parman, dia tetap optimis untuk semangat bekerja dan tidak mau membebani anak cucunya meski uangnya sudah cukup untuk hari tua.


Togar tidak menjawab panggilan, dia masih sibuk di dalam rapat. Acara tiga hari yang akan di gelar besok malam terhenti karena Ani telah menghilang. Mariam menunjukkan sesuatu pada si mbok, lemari pakaian Ani yang setengah kosong dan sebuah kotak kecil yang terbuka di salah satu laci kamarnya.


“Mbok, tampak non Ani melarikan diri dari rumah” bisik Mariam.


“Tidak mungkin, ini pasti sebuah kesalahan!” jawab si mbok tidak percaya.


Di dalam ruang persemedian, tirai hitam tertutup rapat tanpa celah cahaya matahari masuk dari celahnya. Kepala tengkorak di atas meja di mandikan dengan darah ayam cemani hitam. Tolu membakar Sembilan dupa di sertai pemanggilan jin merah yang dia ciptakan dari darahnya sendiri. Seluruh penjaga dan makhluk ghaib dia panggil mencari dimana keberadaan Ani.


Foto besar Ani di letakkan di atas meja ritual, jin merah itu menyentuh perut Tolu sambil tersenyum menyeringai. Tolu melotot menaikkan tanduk setan dan kuku cakarannya mencabik setengah tubuh makhluk tersebut. Setengah tubuh makhluk itu berasal dari darahnya, cabikan sendiri menyakiti kulitnya ikut terluka.


“Jangan sesekali kau ulangi lagi atau aku akan melenyapkan mu! Cepat cari Ani!” bentak Tolu.


Makhluk itu ketakutan bersembunyi di balik salah satu patung bermata besar. Dia menghilang meninggalkan sulur asap putih mengepul.


...----------------...


“Bu, bolehkah aku pulang saja? Aku tidak tahan bekerja disini. Baru terhitung satu hari seperti satu tahun di rumah hantu” ucap Tono.

__ADS_1


“Kau harus membantu mereka sekalipun banyak kekurangan di rumah ini. Ibu sudah mengabdi selama bertahun-tahun lamanya. Mereka sudah ibu anggap sebagai keluarga” ucap mbok Heni.


“Tapi bu, bagaiman jika para hantu itu membunuh ku?” tanyanya memandang mata berjaga.


“Tidak mungkin, non Tolu selalu menjaga penghuni rumah. Cepat pergi dan selesaikan tugas mu” usir si mbok.


Pihak kepolisian memeriksa kamar Ani bersama salah satu detektif yang di sewa Tolu untuk mencari kakaknya. Dari jalur nyata maupun ghaib, dia harus menemukan sang kakak secepatnya. Setelah beberapa jam memeriksa, mereka berpamitan dan mengatakan akan segara memberikan segala informasi yang di dapat.


Tolu menekan perutnya, anak yang di dalam kandungan seolah sedang menuntut agar dia memberikan makan. Dia masih berpuasa mutih dari kemarin, menunggu angka jarum jam dua belas tepat dalam hitungan satu jam lagi dia pun mempersiapkan bukaan.


Sepiring nasi putih, sekeranjang bahan menginang dan segelas air putih. Tolu berbuka puasa mutih untuk kedua kalinya setelah masa ritual ilmu hitam. Dia meminta niat akan keselamatan anaknya, setengah jiwa murni yang dia miliki di berikan melalui ilmu kejawen agar bisa tersadar jika sewaktu-waktu dia tidak bisa mengendalikan iblis yang masuk ke tubuhnya.


Dia sedang dilemma, menghentikan mantra ilmu putar giling memanggil nama Ani agar berjalan berputar Kembali pulang ke rumah. Memberi sihir pada sang kakak sama saja menanam serpihan mantra hitam yang akan membuat tubuh si penerima kesakitan. Dia yakin bahwa jika Ani memang ingin Kembali pasti lambat laun akan pulang dengan sendirinya.


Di sisi lain hatinya bertolak belakang, tidak ingin kehilangan sang kakak dan bersedih berlarut. Khawatir bagaimana nasibnya di luar sana, Tolu menghentikan persemedian setelah mendengar suara ketukan pintu si mbok.


“Ya mbok, pergilah ke pasar. Setelah itu belilah bahan yang ada di dalam kertas catatan ini.”


...----------------...


Berjalan kaki bagai orang ling-lung, sebelum melakukan perjalanan jauh Wanita itu menyambangi kuburan togar membawa setangkai bunga mawar yang dia petik dari halaman rumah. Dia meminta ijin di dalam hati mengenai keputusannya yang sudah bulat meninggalkan adik dan rumah yang di penuhi makhluk halus itu. Berat baginya memilih jalan ini tapi dia sudah membulatkan pikiran dan menetapkan hati demi ketenangan batinnya menjalani hari.


“Mas, aku pamit” batinnya.


Pergi berjalan sejuh mungkin, menuju ke sebuah dusun yang di penuhi dengan pohon cemara. Kaki Ani berhenti di sebuah surau melihat orang-orang hilir mudik mengaji membawa kitab suci Al qur’an. Dia duduk di tepi pinggiran, seorang Wanita memakai cadar menepuknya.

__ADS_1


“Mbak Ani?” ucapnya tersenyum.


Wanita yang pernah dia temui itu seperti garis pertemuan Kembali. Mata Ani berkaca-kaca memeluknya lalu menangis. Perlahan dia menceritakan semua hal yang dia alami. Wanita itu menyarankan agar Ani mulai berhijrah dan memakai kerudungnya Kembali. Belajar untuk Kembali fitri nan suci memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ani di tuntun untuk berdomisili di sebuah padepokan yang jarak nya beberapa mil dari surau itu.


Hal yang wajar baginya Kembali merasakan rasa panas Ketika kulitnya terkena air wudhu. Sekuat mungkin dia menahan rasa sakit dan berusaha mendirikan sholat walau banyak gangguan makhluk halus mendekatinya. Ani di tempatkan di sebuah kamar berukuran kecil hanya cukup untuk sebuah Kasur Panjang dan rak lemari kecil. Terkadang Ani merasakan ada sosok yang merasuki dirinya, dia kejang-kejang di tengah malam hingga tersadar sendiri.


Tok, tok (Suara ketukan pintu)


“Mbak, perkumpulan di ruangan inti sekitar setengah jam lagi” ucap Khadijah.


“Baik bu, saya akan segera kesana” sahut Ani.


“Jika mbak masih sakit sebaiknya mbak istirahat saja.”


“Kalau saya baikan, saya akan segera datang mbak. Terimakasih.”


Wanita bercadar itu sedikit kaget melihat bayangan di balik tubuh Ani. Penampakan makhluk hitam besar bermata merah, berbulu tebal menatap matanya.


“Astaghfirullah, astagfirullah al’adzim” batinnya.


Ani mengetahui manik mata Wanita itu menatap lain saat melihatnya. Setelah menutup pintu, penampakan itu benar-benar memperlihatkan wujud aslinya. Dia mencekik Ani dengan kuku panjangnya, Ani mengucapkan surah pendek di dalam hati sekuat tenaga melawannya. Beberapa saat berlalu, gangguan makhluk menghilang.


“Bagaimana bisa aku hidup tenang setelah berusaha Kembali ke jalan yang benar?” gumam Ani memakai kerudungnya.


......................

__ADS_1


Jangan lupa tekan favorit ❤rate ⭐⭐⭐⭐⭐ serpihan bunga mawar 🌹 like sebanyak-banyaknya. Terimakasih berkah ya salam persahabatan selalu~


__ADS_2