
Mendengar kabar mengenai Tolu merupakan si dukun sakti mandraguna. Bob menjatuhkan putung rokok yang masih menyala dari sudut bibirnya. Dia teringat hal lalu akan kegilaannya di sorot orang-orang setelah melihat penampakan sosok mengerikan yang mirip dengan wanita itu. Mengaitkan pikiran tentang kematian Tohfa, geram matanya memerah. Keponakannya seolah menjadi tumbal untuk ilmunya, tersirat segala macam pikiran kotor pada pria itu hingga dia memutuskan pergi ke suatu tempat.
“Mau kemana pak?” tanya Sema.
“Aku akan ke rumah seorang dukun Omas. Keponakan ku meninggal karena wanita dukun itu.”
“Jangan kau belas kejahatan dengan kejahatan pak.”
“Aku sudah terlalu sakit hati dengan keluarga itu. Jika saja_” Bob menghentikan perkataan.
Dia tetap bertekad pergi, di tengah perjalanan terdengar suara teriakan memekik telinga. Ada penampakan kuntilanak terbang melewati sepeda motornya. Bob mempercepat laju kendaraan tidak kuat menahan ketakutan. Di tengah perkampungan yang sepi dan jauh dari para tetangga, sebuah gubuk kecil yang di hanya di terangi sebuah cahaya obor sebagai penerangan. Ada bawang putih mengelilingi rumah. Bob memarkirkan kendaraan tepat berjalan mengetuk pintu. Matanya sedikit membelalak melihat tumpukan sate bakaran yang baru saja di sajikan di bagian sisi halaman.
“Masuk!” ucap suara dari dalam.
“Malam begini kau ke tempat ku memberanikan diri ke wilayah ini, apakah kau sedang mencari mati?” ucap lelaki tua berjanggut putih panjang.
“Pak, aku sedang kalap mata. Aku ingin menanyakan hal tentang wanita ini” ucap Bob.
Dia memberikan sebuah foto kecil, gambar Tolu di terima di tangan sang dukun. Pria tua itu mencelupkan ke dalam air yang di penuhi dengan bunga. Sebuah asap hitam mengepul keluar dari permukaan air mengeluarkan suara mengerikan begitu kuat.
“Apa tadi yang ku lihat itu pak?” tanya Bob ketakutan.
“Jangan panggil aku pak. Panggil saja aku mbah Omas. Itu adalah tanda kegelapan,” jawabnya mengusap janggut.
__ADS_1
Sesepuh yang paling di takuti di dalam sebuah perkampungan desa telaga mati. Di sana banyak orang luar tidak berani masuk ke tempat itu kecuali ada keperluan yang sangat mendesak. Sudah satu jam dia melihat mbah Omas, tapi tetap saja mata dan mulut berkomat-kamit tidak henti. Lilin yang di atas meja padam, Bob kerasukan membungkuk menggigikkan bahu. Suara meringik aneh keluar dari pita suara, Omas menyemburkan air yang berada di dalam mulutnya. Dia kembali sadar membelalak memasang wajah ketakutan.
“Kau jangan cari masalah dengan wanita itu” ucap si dukun.
“Dia sudah membunuh keponakanku mbah,” jawabnya menunduk.
“Dia tidak membunuhnya!” bentak Omas.
“Setidaknya setelah keponakan ku bertemu dengan keluarga itu, hidupnya berakhir secara tragis.”
“Kalau kau ingin melawannya, kau harus mempunyai ilmu yang tinggi. Apakah kau siap?” tanya mbah Omas.
“Ya, bantu aku mbah.”
Bob tidak sadar, siapa sosok dukun sesepuh itu, dia penganut ilmu aliran hitam yang menciptakan Kuyang. Bob di minta untuk datang kembali di hari berikutnya hanya berjalan kaki tanpa membawa bekal apapun.
“Kemana perginya mas Bob?” gumam Sema.
Dia sudah tergelincir sebanyak dua kali, lengan dan kaki lecet dan rambut terkena lumpur. DI tengah perjalanan mengikuti Bob, dia kehilangan jejak suaminya itu. Sema tersesat berputar-putar hingga hari mulai malam. Malam mencekam di tempat asing, dia berlari sekencang-kencangnya melihat sosok kepala putung yang terbang dari kejauhan. Bersembunyi di semak belukar dan membenamkan wajahnya. Menggigil tubuhnya menahan rasa takut dengan menutup kuat mulutnya sendiri.
Desa Telaga Mati adalah Kampung siluman kuyang telah melegenda, penerus ikatan sesepuh penjaga perbatasan dukun yang telah pergi. Qodam dan qorin Siria masih tetap hidup dan menjadi salah satu musuh bebuyutan Tolu. Malam ini, kuyang di lihat oleh Sema sudah makan besar dari hidangan bayi yang baru lahir di perkampungan seberang. Dia mengabaikan Sema sehingga malam itu merupakan malam keberuntungan wanita itu.
Setelah memastikan makhluk yang di lihatnya tadi pergi. Sema melanjutkan langkah hingga dia berhenti melihat cahaya api dari kejauhan. Ada Bob dan seorang lelaki tua berjalan membungkuk memakai tongkat.
__ADS_1
“Mas Bob!” teriak Sema. Mata Bob menunjukkan raut tidak senang, dia mendorong sang istri hingga terjatuh.
“Kenapa kau kesini? Pulang!” bentak Bob sangat kasar.
“Hiks, ayo pulang mas. Anak kita menunggu di rumah,” ucap Sema menangis menarik lengannya.
“Hei, apakah kau masih ingin melanjutkan ritual ini?” tanya mbah Omas.
“Apa maksud perkataannya mas?” tanya Sema.
Jeritan suara mengerikan menggema, Sema menarik paksa tangan Bob bersembunyi di salah satu pohon. Dia bergetar, memasang wajah waspada karena takut akan penampakan yang tadi dia temui.
“Mas dengarkan aku. Disini ada kepala putung, aku melihat dengan mata ku sendiri! Ayo pulang mas!” bisik Sema.
Suara retakan, jeritan, hawa panas dan kabut tebal di sela rintik hujan. Pria tua itu berdiri di depan mereka melepaskan kepalanya sendiri. Sema dan Bob sangat terkejut, ternyata pria itu adalah kuyang yang ingin mengajak menjadi pengikutnya. Mereka menjerit, berlari berbalik arah. Tapi kaki Bob berhasil di gigit oleh sosok dukun si kepala putung dan di seret masuk ke dalam rumahnya.
“Mas Bob!” teriak Sema.
Berencana menjadi pengikut aliran setan, semula sosok dukun Omas berniat menurunkan ilmu untuk Bob. Tapi setelah Bob memutuskan perjanjian dengannya, maka organ tubuh pria itu menjadi incaran sosok si kepala putung. Di dalam gubuk, gigi taring si kepala putung mencabik tubuh Bob, dia mengunyah isi organ Bob menikmati isi di dalamnya. Sema berlari meninggalkan tempat itu, sekuat tenaga mencari jalan pulang.
Di pinggiran jalan, dia bertemu sosok wanita memakai kebaya dan kain tenun songket berwarna emas. Wajah pucat, berjalan kaku sedang mengunyah sirih di mulutnya. Sema berlutut meminta pertolongan, dia menyatukan tangan di depan dada berkali-kali meminta pertolongan.
“Tolong selamatkan aku! Aku mohon. Anak ku masih bayi dan dia sedang menunggu ku” ucap Sema.
__ADS_1
Sosok lain dari peliharaan Tolu dengan wujud setengah setan, dia hampir mencekik wanita itu. Akan tetapi, setengah hati yang berwujud manusia itu membuat dia mengurungkan niat membunuhnya. Dia membawa Sem menghilang di sela sosok kepala putung terbang mendekati mereka. Tubuh Sema di bawa sampai di depan rumahnya, sosok ghaib itu pun menghilang membawa sisa suara aneh yang memekik telinga.
“Terimakasih banyak Tolu!” ucapnya berkali-kali.