Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Ramuan halus


__ADS_3

Banyak masalah yang timbul dari kedua keluarga besar. Tolu hanya butuh waktu untuk memberitahu mengenai Ani. Dia tidak mau Ani mendapatkan pandangan lain dari para keluarga. Angin membanting jendela, lampu berkedip dan lilin yang padam. Tolu merasa bahwa Ani sedang dalam bahaya, dia menghembuskan mantra ke arah makhluk jin merah.


Di padepokan, kehadiran Ani menjadi perbincangan para santriwati. Mereka sering mendengar suara jeritan Ani di tengah malam, gerakan membungkuk dan sering kesurupan di tengah melaksanakan ibadah. Khadijah memberitahukan informasi mengenai Ani kepada kepala padepokan. Di tengah pertemuan rapat, salah seorang wanita berdiri dengan mengangkat tangan.


“Pak ustadz, saya selaku bendahara padepokan melacak siapa saja para anggota santri baru yang masuk. Hal ini bukan tentang biaya atau hal yang menyangkut materi. Tapi, sesuatu yang bersifat magis sebab wanita yang bernama Ani merupakan seorang kakak dari dukun di perkampungan sebrang. Kehadirannya membuat ketakutan para santriwati. Wanita yang bernama Ani itu sering menjerit, menghabiskan stok telur ayam mentah setiap hari dan sering melakukan kegiatan aneh lainnya ” ucap bu Kasma.


“Harap tenang dan kita bicarakan hal ini dengan sabar. Dari Abu ra, Nabi SAW bersabda: Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya itu suka menolong saudaranya."


Kasma kembali duduk tidak melanjutkan kembali unek-unek di hatinya. Mereka melanjutkan pertemuan di ruang rapat bersama pengurus. Selesai rapat dengan para pengurus, ustadz Nurdin meminta Khadijah memanggil Ani. Secepatnya langkah wanita bercadar itu menuju bilik Ani yang masih tertutup sejak tadi pagi.


Tok, tok. “Dik Ani, kamu di panggil ustadz Nurdin. Beliau sekarang sedang di masjid” ucap Khadijah.


Tidak ada jawaban dalam, perlahan pintu kamar terbuka memperlihatkan Ani sedang menyisir rambut posisi tubuh membelakanginya. Khadijah menyentuh pundaknya, saat wanita itu menolehkan wajah menyeramkan. Mulut tanpa rahang, badan di bungkus tulang dengan kulit saja. Khadijah beristighfar, dia mengucapkan lafazh tanpa henti. Hawa makhluk di hadapannya terasa sangat panas, Dia tidak sadarkan diri, cadarnya terbuka dan bajunya berlumpur.


“Arggh!” teriakan keempat santriwati melihat Khadijah dari depan pintu.


Dia di bawa ke biliknya, sejak sore hingga pukul 20:30 WIB dia masih belum sadar. Tika berlari mencari Ani, dia tidak terlihat di sekitar padepokan. Di depan pintu masuk, Tika melihat sorot cahaya senter mengarah mendekatinya.


“Ani, dari mana kau? Kenapa keluar tidak meminta ijin pada kepala pengurus?” tanya Tika.

__ADS_1


Dia terus berjalan masuk, Tika mengikutinya dari belakang memperhatikan wanita itu berjalan tanpa alas kaki. Jejak lumpur berwarna hijau berlendir, ada bekas cacing yang tertinggal di atas lantai. Mata Tika melotot terus mengikuti kemana dia pergi.


Ani menuju dapur, mengais-ngais bekas keranjang sampah. Setelah tempat itu berserakan, Ani membuka tempat penyimpanan telu. Dia menelan telur-telur mentah itu dengan lahan, Tika menahan gerakannya terhempas menjatuhkan gelas dan piring kaca. Suara keributan di dapur di lihat oleh keempat santriwati yang berdekatan dengan kamar mereka.


“Wanita ini selalu saja mencari masalah, dari awal kedatangannya membuat huru-hara saja” ucap Vasel.


“Ayo kita biarkan saja dia” ajak Ofi.


Zeze mengikuti mereka bertiga, hanya tinggal Serpani yang membantu Ani berdiri dalam keadaan kesurupan berjalan ke ruangan Khadijah. Wanita bercadar itu sedang melaksanakan sholat isya. Matanya sembab mengingat buah hatinya yang telah pergi. Anak laki-laki yang awalnya di katakana orang akan penyakit ain. Banyak yang menyarankan agar anaknya segera di sembuhkan dengan berobat ke seorang dukun besar di perkampungan seberang. Tapi di enggan mendengarkan perkataan tersebut. Sampailah penyakit menyerang semakin parah sehingga sang anak tiada.


“Aku percaya semua ini sudah suratan dari ya Rabb” gumam Khadijah.


Tok, tok, tok (suara ketukan).


Khadijah belum sempat melepaskan mukenah, dia membantu memegangi Ani. Wanita yang telah kerasukan itu menghempaskan tubuh mereka bertiga hingga terbentur dinding. Pelipis Tika terluka begitupun Khadijah dan Serpani. Para santriwati yang keluar dari kamarnya terkejut menyaksikan keanehan Ani. Mata iblis menatap salah satu santri lain, salah satu sosok makhluk ghaib masuk ke dalam tubuhnya. Kesurupan beruntun terjadi, ustadz dan ustadzah kewalahan menyadarkan dengan menjalankan ruqiyah masalah.


Kegelisahan, ketakutan dan kemarahan bercampur aduk. Banyak yang tidak menginginkan keberadaan Ani.


Ketika suasana sudah tenang, para santri tersadar satu persatu lalu menatap ke sekeliling sambil menangis. Mereka masih melihat keberadaan makhluk halus mirip dengan wajah Ani. Kesurupan masal kedua tidak terelakkan. Ofi, Zeze dan Vasel tidak ikut di dalam kerumunan itu, mereka menggeledah kamar Ani menemukan sebuah gunting berwarna hitam yang tampak mencurigakan. Di bawah bantal juga terdapat sebuah serpihan jerami berlendir beraroma anyir.

__ADS_1


“Arghh!”


Pintu terkunci dari dalam, histeris mereka menggedor pintu kuat. Setelah pintu terbuka, ketika santriwati berjilbab putih itu berlari ke arah pepohonan pinus di belakang padepokan. Gemetar mereka berjongkok saling mendekat. Jiwa yang tidak tenang, setengah hati sudah di kuasai setan sehingga memikirkan sebuah cara untuk menyingkirkan beban di pikiran dan hati dengan perbuatan yang buruk.


“Kita harus segera mengusir wanita setan itu!” seru Ofi bergetar memeluk kedua lututnya.


“Sebaiknya kita bakar saja dia! Dia ternyata seorang dukun. Gunting hitam ini menjadi bukti siapa dia sebenarnya” kata Vasel.


Tanpa terasa telapak tangannya berwarna merah seperti terkena api. Vasel mencampakkan gunting itu, dia meniup tangannya karena tidak tahan merasakan panas.


“Kau kenapa?” tanya Zeze.


“Gunting ini panas sekali,” jawab Vasel.


“Coba kita kasih alas kain dan segera kita berikan kepada kepala pengurus agar dia langsung di keluarkan,” saran Ofi.


“Ide yang bagus!” jawab Zeze.


Mereka memutuskan memberikan benda mistis itu dan meminta kepala sang kepala pengurus agar memberikan ijin mereka untuk istirahat selama satu hari. Mereka di beri ijin olehnya, tapi dengan catatan selama beristirahat tidak boleh meninggalkan padepokan tanpa seijinnya. Di tengah malam, para santri yang kelelahan setelah kerasukan berulang kali merasa sekujur tulang begitu sakit sepeti akan di patahkan.

__ADS_1


“Sakit sekali!” keluh mereka.


Cahaya lampu di setiap bilik kamar masih menyala, mereka tidak bisa memejamkan mata menahan sakit yang tidak tertahankan. Di sisi bilik ruangan kamar Ani beserta teman lainnya, terdengar suara tangisan anak kecil yang memekik.


__ADS_2