Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Sadam terkena dampak ilmu Tolu


__ADS_3

“Kakak aku datang” ucap Tolu.


Lampu kini menyala sesampainya mereka ke dalam ruangan. Suster itu segera berpamitan pergi sambil mengulang pesan agar batas waktu menjenguk hanya sepuluh menit karena tanpa sepengetahuan kepala Rumah Sakit. Tolu pun segera meletakkan Sadam di tepi ranjang, bayi itu terlihat tenang masih tertidur di balik balutan selimutnya.


Dia menyadari ada sosok lain yang mengganggu Ani. Kiriman setan dari para dukun yang ingin menyerang melalui orang terdekatnya. Tolu menjambak rambut Ani, dia memberi mantra menyembur bisa yang terdapat di mulutnya ke kepalanya. Tolu mengusap kepala Ani mencabut paksa pecahan kaca yang terdapat di sela-sela rambut. Mantra setengah berhenti ketika Sadam mulai rewel dan menangis.


“Ucok, unang Peleng dohot mangangguk jadi ma anak na denggan ina andorang repot nuaeng!” ucap Tolu pada Sadam.


(Anak laki-laki jangan manja dan menangis. jadilah anak yang baik, ibu sedang sibuk sekarang).


Tolu memerintahkan para perewangan dan jin merah menjaga Sadam agar bayi itu tenang kembali sementara dia melanjutkan mantra yang terputus. Aksi Tolu di intip oleh suster yang membawanya tadi, suster itu melotot sambil menutup mulut ketakutan melihat dari balik pintu.


...----------------...


“Kenapa engkau pucat sekali sus?”


“Tidak apa-apa”


Tolu meletakkan beberapa lembar uang berwarna merah di atas meja, dia mengucapkan banyak terimakasih kepada keduanya. Sementara di sisi lain, Togar mondar-mandir di depan rumah setelah mengetahui bahwa tidak ada anak dan istrinya tidak ada.


Pintu garasi dan gerbang depan rumah masih terbuka lebar, seolah istrinya itu pergi tergesa-gesa. Togar lupa untuk mencari penjaga rumah dan petugas kebersihan yang baru. Dari depan Toni berlari lalu menunduk mendekat ke Togar, menunjukkan sebuah bungkusan kotor.


“Apa ini Ton?” tanya Togar menerimanya.


“Saya tidak berani membukanya tuan, saya temukan ini di dekat pos saat terdengar suara berisik” jawab Toni.


Togar berjalan di bawah pohon di ikuti oleh Toni, dia meminta Toni mengambilkan pematik dan mendekatkan tong sampah di sisi pohon. Perlahan Togar membuka isi bungkusan, di dalam dugaan sudah mengetahui itu adalah benda mistis kiriman para dukun. Dia membakar benda yang berisi pisau silet, jarum dan sebuah boneka jerami. Melihat benda itu, Toni refleks menjerit ketakutan.

__ADS_1


“Argghh!” jeritnya.


Bakaran asap mengeluarkan sosok mengerikan menyeringai menatap mereka. Togar menarik Toni menjauh berlari memasuki rumah. Beberapa menit kemudian terdengar suara klakson mobil berhenti memasuki pekarangan rumah. Togar berlari membuka pintu, dia meraih Sadam dari gendongan Tolu menggiringnya agar cepat masuk.


“Sayang, dari mana saja engkau? Kenapa pergi tidak memberitahuku?” tanya Togar.


“Aku mengunjungi kak Ani, bukan kah engkau akan pulang lusa?”


“Semua meeting tertunda, tapi bagus bukan? Aku bisa cepat pulang dan bisa menemani kalian” ucap Togar.


“Jangan senang dulu, kau harus mengurus perusahaan ayah dan mencarikan pekerja baru di rumah kita.”


“Ya, aku sudah memikirkannya. Bagaimana keadaan kak Ani?”


“Aku ingin mengeluarkannya dari Rumah sakit jiwa.”


Dia tidak ingin menambah beban pikiran sang istri mengenai penemuan benda aneh yang di temukan oleh Toni. Tapi tidak dengan pria yang selalu mencari keributan itu, Toni menemui Tina menceritakan hal yang terjadi. Bahkan sampai di hari berikutnya, dia menceritakan kepada para pekerja baru dengan gerakan yang panik. Kelakuan nakalnya itu di ketahui oleh Tuti, dia pun menjewer telinga si anak.


Setelah mengurus segala administrasi dan keperluan, Ani di bawa pulang kembali ke rumah. Kamarnya masih tetap seperti biasanya, Ani merebahkan tubuh di kasur menoleh sebuah bingkai foto usang. Perlahan air mata mengalir, dia menangis selama berjam-jam sampai tertidur. Hati wanita itu remuk redam, Dunia Ani semakin terasa gelap mengingat kepergian kedua orang tua, saudara, usia pernikahannya yang seumur jagung, tragedi kematian Tohfa dan gangguan ghaib yang tiada henti dia rasakan setiap hari.


“Aku kuat” gumam Ani.


Tujuh belas tahun kemudian


Tidak terasa waktu sudah berganti, tahun-tahun ini dia berbahagia pada seseorang yang selalu dia cinta, sayangi dan menjadi penyemangat diri. Togar melangsungkan acara ulang tahun pernikahannya bersama ulang tahun Sadam. Pemuda tampan itu kini berdiri di sisi kedua orang tuanya sambil memeluk erat penuh senyuman. Menggelar acara mewah nan meriah, banyak tamu undangan hadir memberikan ucapan.


Dekorasi indah di tabor bunga-bunga hidup membuat kesan alami. DI balik dedaunan dan bunga di selipkan oleh Tolu beberapa lembar daun sirih yang sudah dia beri mantra sebagai benda mistis menghindari gangguan serangan sihir para dukun yang sering menyerang.

__ADS_1


“Terimakasih ayah, ibu” ucapnya.


Anak yang penurut dan sangat berbakti kepada mereka. Tidak setelah melewati pukul kosong-kosong tengah malam. Bayi merah yang sudah bersembunyi di dalam tubuhnya sebagai penjaga lambat laun meminta hal lebih yang ada pada diri Sadam. Dia ingin merasakan hangat aliran darah manusia di sisi lain tubuhnya yang dingin.


Melihat kebahagiaan oleh sang majikan, sosok penjaga dari dia bayi itu merubah Sadam menjadi sosok yang berdarah ganas. Semua ini akibat penyatuan sebagai penjaga, Tolu melupakan sifat alamiah setan yang tidak pernah puas atas keinginan dan hasrat kehendak hitam mereka.


Krek, krek, Rughh (Suara patahan tulang)


Togar mematahkan tulangnya sendiri lalu di sambung kembali di dalam kekuatan jin merah. Pada malam itu mereka bersatu di iringi suara petir yang menggelegar. Ibunya seperti kecolongan tidak mengetahui hal yang terjadi pada Sadam. Seluruh energinya sedang terkuras setelah menjaga dan mengerahkan seluruh perewangannya menggunakan kekuatan setannya sepanjang pesta berlangsung.


“Inang!” panggil suara raja setan.


“Aku mendengar dan merasakan kehadiran mu. Apa yang kau ingin kan?” tanya Tolu di dalam alam bawah sadarnya.


“Berikan aku sesajian besar setiap tahun, seperti biasa kau sendiri yang mengantarnya pada ku. Ahahahah.”


Tolu terbangun lalu menyipitkan mata melihat sinar mentari terik yang masuk dari sela jendela. Dahinya penuh dengan keringat , dia menyeka dengan jarinya sendiri lalu berjalan menuruni tangga. Tampak para pekerja sibuk melakukan tugas mereka masing-masing. Bi Tuti menghampiri membawa nampan dengan segelas teh untuknya.


“Silahkan di minum non” ucapnya.


“Terimakasih bi, letakkan saja di atas meja. Oh ya apakah Sadam sudah pergi kuliah?” tanya Tolu.


“Den Sadam baru saja pergi non, dia di jemput oleh teman-temannya membawa beberapa tas” jawab bi Tuti.


“Yasudah kalau begitu bi. Hari ini saya akan pulang sore, kalau Sadam dan tuan pulang jangan lupa siapkan makan malam.”


“Baik non.”

__ADS_1


Di dalam ruangan pribadi miliknya, Tolu tidak merasakan ada serangan dari dukun untuk Sadam. Namun dia berpikir tidak biasanya anaknya itu pergi tanpa seijin darinya. Tolu mencoba melakukan panggilan berulang kali ke nomor Sadam namun panggilan itu terputus. Pikirannya tidak tenang di sela tanggung jawabnya yang harus memberikan sesajian pada si raja setan.


__ADS_2