Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Banting dalam dendam


__ADS_3

Di alam ini, banyak hal ghaib tidak ketahui keadaan menguras energi mengambil hawa murni dan jiwa manusia. Kejahatan masih tetap berlangsung sekalipun pagar pembatas pelindung diri di ikat kencang, bisikan dan gangguan terus menerus menghadang mengganggu ketenangan kehidupan manusia. Tapi di sisi lain, ada juga manusia yang memanfaatkan hal mistis sehingga menyesatkan, menenggelamkan dirinya semakin terperosok ke dalam lubang kejahatan. Satu persatu kan binasa, abu kan menerbangkan bakaran penghuni neraka.


Pada mulanya semua hal yang berbau mistis sempat di tutupi cahaya sinar rembulan berlapis bintang. Di saat era lalu mereka menjalankan puasa mutih bersama keterbatasan kekurangan hidup kepahitan. Penyakit menggerogoti badan akibat bahan pangan dan papan gubuk reok tinggal rubuh di terpa angin. Pilihan hidup, cara mengukir kisah sendiri merubah langit kelabu membubarkan harapan keindahan malam yang tidak bisa terulang lagi.


Pada tahun rumit ini, para dukun berlomba-lomba memenangkan ilmu tertinggi. Di balik selipan waktu, kita rahasia di dalam bumi sampai saat ini masih belum ada yang menemukannya. Kitab iblis yang berisi mantra setan dan segala ilmu kanuragan kepuasan seumur hidup.


Tidak bisa di pungkiri, setiap ilmu pasti ada memiliki sifat pewaris yang harus di terima secara sadar maupun tidak sadar di waktu yang di tentukan. Qodam, pendamping ghaib atau para makhluk peliharaan. Di dalam ruang persemedian, Tolu membaca mantra, dia memandikan jin merah kecil peliharaannya untuk menjadi penjaga Sadam. Dia memilih makhluk itu karena setengah darah iblis mengalir darahnya sendiri.


Ale ho parsidohot hu


Paolooloi sude salaga parhataon hu


(Wahai kau pengikut ku, turuti semua perkataan ku)


Tolu memandikan jin merah dengan bunga mantra, daun jeruk purut dan darah ayam cemani hitam yang dia patahkan sendiri lehernya sebanyak tujuh ekor. Tidak lupa si jin kecil di minta memakan sebuah kertas yang tertulis nama Sadam. Dia menundukkan kepala bersujud di depan Tolu, mata Tolu melotot menarik hidungnya yang sedikit berlendir dan keras.


“Awas saja kau mempunyai niat jahat pada Sadam, maka aku akan menelan mu hidup-hidup! Ingat, jangan pernah perlihatkan wujud mu di hadapannya” perintah Tolu.


Si jin merah ketakutan, dia mengusapkan kepala di kaki Tolu. Mulai hari ini dia adalah pengikut setia seumur hidup bagi Sadam. Keputusan langkah ini tidak di sadari Tolu menjadikan anaknya memiliki pendamping ghaib. Setelah selesai, dia menginang kembali meneruskan ritual memanggil sang kakak untuk pulang.


“Kak Ani, Mulak do (pulang lah).”


Tolu menaburkan bunga pada foto yang sudah berada di dalam gelas bening. Beberapa menit berlalu suara teriakan dari luar memekik keras. Sambungan suara pukulan pintu yang berkali-kali memanggil namanya.

__ADS_1


“Tolu! Kak Ani sudah di temukan!” teriak Togar dari luar.


Tolu membuka pintu kamar rahasianya lalu berlari melalui Togar begitu saja. Wanita itu sampai lupa menutup kembali pintu. Togar perlahan menoleh ke dalam, saat dia akan menutup pintu terlihat sosok yang mirip dengan istrinya sedang berdiri di dekat meja panjang taplak meja merah lengkap dengan seluruh sesajian.


Hal paling mencengangkan melihat sebuah tengkorak di ke rumuni belatung dan hewan kecil. Tampak beberapa foto yang di taburi bunga, di letakkan di dalam gelas dan di gantung pada tali dengan sebuah boneka jerami di dekatnya. Semua itu foto Ani, sampai pada tangan Togar di sentuh sosok mengerikan dengan wajah yang menyeringai. Kemudian dia menghilang meninggalkan beberapa untai jerami di tangan berlapis lendir.


“Kakak!” teriak Tolu.


Keadaan wanita itu kumal, wajah sedikit berbeda, kulit gosong kering terkelupas mengeluarkan nanah. Tidak ada satu pun pekerja yang berani mengangkat hingga Togar datang meraih tangan Ani lalu mengendong ke dalam rumah.


“Sebentar, biar kakak di letakkan di ruang tengah saja. Mbok, persiapkan tikar dan lapisi dengan kain putih” ucap Tolu.


Di dapur, tubuh Tina tidak berhenti bergetar karena ketakutannya melihat keadaan Ani. Bi Tuti memberikannya segelas air, perlahan dia meneguk sesekali pandangan mata masih berjaga.


“Bi, aku tidak tahan tinggal disini. Aku mau pulang ke kampung saja” ucap Tina.


“Hush!! tuan besar Parman sudah memberi amanah. Kau jangan kurang ajar” kesalnya.


“Bi Tuti, tolong ambil kan air hangat di dalam baskom” teriak si mbok.


“Baik mbok.”


Tina membantu si mbok menyediakan air sementara si mbok mencari handuk kering. Kondisi tubuh Tina yang sudah normal membantu bi Tuti menggotong membawa baskom yang berisi air hangat itu ke ruang tengah. Mata Ani terbuka saat Tolu menyentuh bagian dahinya, Tina bersembunyi di balik bi Tuti ketakutan melihat perubahan Ani yang tidak henti menatapnya.

__ADS_1


“Darah! Aku minta darah!” ucap Ani bersuara parau.


“Tidak ada darah untuk mu! Pergi!” ucap Tolu bernada keras.


Tolu menyemburkan kunyahan nginang di tubuh Ani, wanita itu kejang-kejang berteriak sebanyak tujuh kali lalu tidak sadarkan diri kembali.


“Semua sudah selesai, ayo seka tubuh kak Ani” perintah Tolu.


Togar dan semua pekerja pria keluar ruangan, suara tangis Sadam membuat Toar bergegas berlari menuju kamarnya. Anak laki-laki kesayangan dia timang hingga mengecup tanpa henti, Togar menuju ruang tamu sambil menunggu Tolu keluar. Si mbok mendengar suara tangis si bayi, gerakan langkah ke dapur mempersiapkan susu hangat untuk si bayi.


“Ini botol dotnya tuan” ucap si mbok menyodorkan ke Togar.


“Terimakasih mbok.


Bayi kecil itu sangat lahap meneguk susu hangat di dalam dot lalu tertidur kembali. Togar menimang sambil membawanya berjalan-jalan kecil di depan teras. Tiga langkah keluar dari rumah, angin kencang membanting jendela. Serpihan daun kering menggulung, burung gagak tiba-tiba muncul dari balik pepohonan. Bukan hanya itu, terdengar suara mengerang dari salah satu pohon yang terdapat di pekarangan halaman rumah.


“Siapa disana?” teriak Togar.


Langit berubah mendung, awan menggulung menghitam menutupi cahaya mentari di siang bolong. Dukun Siria menampakkan kepala bergelantungan organ tubuh menetes darah hitam. Togar berjalan masuk ke dalam akan tetapi pintu terbanting menutup rapat. Togar terkejut merasakan rasa panas pada tubuh bayinya mengeluarkan asap putih mengepul menuju ke arah si kepala putung menampakkan wujud jin berwarna merah.


Dia menyerang hingga pada titik penghabisan, gigi taring berhasil mencabik ujung lengan jin merah mengeluarkan darah merah kehitaman.


Dubrak (Suara bantingan pintu).

__ADS_1


Kedatangan Tolu melihat serangan pada keluarga menimbulkan amarah besar. Dia mengerahkan seribu setan untuk menghabisi sosok si kepala putung. Penampakan itu pun menghilang meninggalkan suara jeritan di udara. Tolu meminta Togar masuk membawa bayi Sadam. Urusannya belum selesai dengan Qodam maupun arwah dukun Siria. Dia menjelma menjadi sosok mengerikan berlari mengejar si kepala putung hingga memasuki area telaga terlarang.


__ADS_2