
Tolu melihat keadaan mbok Heni dia sedikit khawatir akan pekerja satu-satunya itu. Seringnya si mbok mengatakan mendapatkan hal ghaib terutama gangguan arwah dukun Siria. Tapi, sepertinya Tolu keliru, terkadang para makhluk penjaga dan pengikutnya suka jahil bahkan mengganggu penghuni rumah. Tidak semua makhluk yang bisa di perintah dari tangan sang dukun bisa menjaga atau menyelamatkan majikan atau orang sekitarnya.
Hawa dingin mencekam, tepat di malam berselimut hal mistis, keanehan terjadi pada togar. Dia sedang tidak stabil akibat mendengarkan ucapan Dirta dan Semi. Semula mereka hanya berniat makan malam bersama di salah satu kafe langganan mereka. Akan tetapi, Dirta memesan beberapa botol anggur merah lalu meminta Togar dan Semi ikut meminumnya.
“Tidak, aku tidak terbiasa minum-minuman keras,” ucap Togar menolak.
Dirta tidak memperdulikan perkataan Togar, di menuang minuman di dalam gelas dan memaksa Togar untuk meminumnya.
“Minum lah! Malam ini kita bertiga harus melepaskan segala rasa ketakutan gangguan dedemit!” ucap Semi menimpali.
Mereka bertiga seolah frustasi dengan semua kejadian dan gangguan yang terjadi. Melampiaskan dengan mabuk semalam hanya membuat kondisi dan suasana hati semakin rancu.
Gluk, gluk (Suara tegukan panjang).
__ADS_1
Mabuk minuman, salah satunya adalah Togar yang seperti orang gila berjalan setengah melayang berkali-kali sambil memanggil nama Tolu.
“Tolu! Aku sangat menginginkannya!” teriak Togar.
“Hei, bukankah kau sangat menginginkannya? Wanita dukun misterius itu. Tolu! Hahahh” ucap Dirta di tengah mabuk tertawa terbahak-bahak.
“Ayo sini aku akan mengantar mu pulang. Supir ku di depan sudah menunggu” kata Semi berjalan sempoyongan tanpa arah.
Pak supir kewalahan mondar mandi mengantar mereka bertiga, dia juga harus mengantar mobil Togar dan Dirta lalu bergantian bersama salah satu pekerja yang berada di rumah Semi.
“Pak Kuma, jemput saya kira-kira pukul 01;00 WIB, saya masih dalam perjalanan mengantar mobil pak Togar” ucap Binyo.
“Ya pak, saya akan kesana beberapa menit lagi” sahut Kuma mempersiapkan kendaraan.
__ADS_1
Ketika Binyo memasuki area perkampungan kedua kalinya, dia melihat sosok kuntilanak terbang melewati atas mobil. Rem mendadak, kejutan jantung yang berpacu sangat ketakutan bergetar tangannya kaku sulit menggerakkan stir. Dia mencoba tenang, mengucapkan lafazh surah pendek kemudian melajukan kembali kendaraan. Sesampainya di rumah Togar, kunci mobil di berikan pada Tolu yang sudah berdiri menunggunya.
“Maaf non kalau saya sedikit lama tiba” ucap Binyo.
Merinding bulu kuduk saat tangannya sedikit tersentuh tangan Tolu ketika memindahkan kunci di tangannya.
“Terimakasih pak, masuk saja” ucap Tolu bernada datar.
Pandangan yang dingin, dia bergetar tidak sanggup membalas tatapannya. Setelah melihat Togar sudah mabuk, dia meninggalkan Togar di kamar dengan posisi tubuh tengkurap. Rasa kesal masih berusaha di tutupi, malam larut sangat di pantangkan baginya membuka pintu rumah berlama-kama. Tolu meninggalkan Binyo tanpa menghidangkan secangkir teh atau bertegur sapa. Dia menunggu Binyo pergi dengan memperhatikan gerakannya dari balik ruangan lain.
“Non, bapak pamit dahulu ya pak Kuma sudah datang menjemput” ucap Binyo bersuara sedikit keras.
Tidak ada jawaban darinya, Binyo pun pergi menutup pintu sesekali menoleh melihat suasana rumah seperti sebuah bangunan kuburan raksasa.
__ADS_1
“Apakah aku salah lihat?” gumam Binyo. Dia mengusap mata sampai dua kali memastikan bentuk rumah berubah-ubah.