Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Santet dari Afif


__ADS_3

Patah-patahan arang ini akan menjadi debu. Semua luka akibat jalan hitam berkelok sesat di tempuh. Gangguan, rantai ikatan ghaib dan aliran darah denyut nadi sudah menyatu dengan sosok yang di anut Tolu di dalam gua kaki bukit. Pesta pernikahan yang di langsungkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.


Kedua orang tua Mira masih seperti dalam sekejab mata menikahkan anak gadis kesayangannya. Limpahan harta yang di serahkan bagai air yang mengalir untuk keluarga Mira dan Mira secara pribadi menimbulkan berjuta pertanyaan akan kekayaan dari pihak si besan.


“Pak, jangan-jangan uang mereka di dapat dari pesugihan.”


“Astagfirullah bu jangan berbicara seperti itu. Besan perempuan kita kabarnya seorang dukun sakti mandraguna.”


“Ha! Ibu pikir itu Cuma gossip para tetangga saja. Hati-hati kita pak jangan mengusik atau menyakiti hatinya, bisa-bisa kita kena santetnya!”


“Pelan kan suara ibu nanti ada yang mendengar.”


Selesai acara pesta meriah, kedua orang tua Mira berpamitan melepaskan sang anak agar di jaga baik-baik, pernikahan yang samawa dan berharap dia menjadi imam yang baik untuk Mira. Wanita yang kini menyandang sebagai menantu Tolu masih memeluk kedua orang tuanya erat. Tolu mengusap punggungnya, dia tidak mau menggunakan mantra penunduk atau lainnya.

__ADS_1


“Biarlah semua takdir dan nasib anak cucuku sesuai kehendak yang di atas” gumamnya.


......................


Beberapa jam yang lalu.


Surat undangan yang di terima Afif benar-benar mengoyak perasaannya. Dendamnya merajai menemui salah satu dukun di perkampungan untuk menyantet pria itu. Sore ini dia buru-buru pulang dari kampus. Toyo menghadang jalannya melihat gerak-geriknya yang mencurigakan.


“Nggak, aku ada urusan lain”


“Sudah ikhlasin dia bro. Mungkin saja si Mira lebih bahagia dengan Sadam. Aku dengar pesta itu sangat meriah meski di selenggarakan hanya satu hari."


Hati Afif semakin memanas, dia menjalankan mesin sepeda motor mendatangi dukun sambil membawa foto Mira.

__ADS_1


......................


Di tengah malam pertama pengantin wajah Mira berubah sangat pucat, suhu tubuh panas dingin, tubuhnya hanya bisa telentang dan bola mata menatap ke atas. Togar panik memanggil kedua orang tuanya. Mira kerasukan, dia dihantam benda ghaib kiriman salah satu dukun. Tolu menekan jempol bagian kanan, Mira menyeringai hampir menggigit pundaknya.


Peperangan kekuatan ilmu hitam di mulai, Tolu menyembur wajah sang menantu dengan darah miliknya sendiri. Lima ujung jemari yang sengaja dia iris untuk menyembuhkan dan mengirim balik santet kepada si pengirim. Seketika wajah si dukun dan Afif gosong bagai di bakar api, mereka memuntahkan cacing, lintah dan belatung hingga kematian datang menarik nyawa mereka.


Wajah Mira tidak di ijinkan di seka hingga sepenggal sinar matahari. Tangannya dan kakinya masih di ikat. Untuk mengeluarkan semua kiriman secara bersih, Tolu meneruskan ritual pengobatan ghaib di ruangan khusus miliknya. Darah ayam cemani hitam mengelilingi rumah mereka, Sadam mengikuti petunjuk dari ibunya selesai menyiram darah berlanjut melumuri pintu kamarnya dengan sisa darah ayam itu.


Para pekerja terutama si mbok yang sudah terbiasa akan kebiasan sang majikan hanya memperhatikan. Mereka mematuhi pesan Togar: “Mbok tolong katakana pada semua pekerja di rumah agar jangan membuka pintu sampai melewati waktu pertengahan hari.”


“Ya akan segera si mbok sampaikan den. Si mbok turut prihatin atas kejadian yang menimpa mbak Mira.”


“Terimakasih mbok.”

__ADS_1


__ADS_2