
Ani menarik tangan Tolu, dia menunjukkan keadaan mbok Heni. Tolu tidak menyentuh tubuh wanita itu, dia beralih pandang ke arah pak Midi. Dia melotot menyiram kepalanya dengan segelas air yang berada di atas meja.
“Maaf kan saya non!” ucap pak Midi ketakutan.
Dia berpikir Tolu sedang marah kepadanya, terlebih lagi melihat tangan kanan Tolu mengepal mengayun. Pak Midi pasrah memejamkan mata jika harus menerima pukulan tersebut. Dia keliru ternyata setelah membuka mata, Tolu memukul dinding yang berada di sisi kanan. Tangan Tolu bengkak dia gerakkan lagi melempar gelas ke arah pintu masuk rumah. Hanya dia yang bisa melihat sosok mengerikan bergentayangan.
“Pergi!” bentak Tolu.
Beberapa saat kemudian si mbok membuka mata, dia mencari pegangan batang kursi untuk mendudukkan tubuh. Ani memberikannya segelas air lalu mengusap punggung pekerja rumah tangga yang sudah dia anggap sebagai keluarga itu.
“Terimakasih banyak non” ucapnya pelan.
__ADS_1
“Apa yang terjadi mbok?” tanya Ani.
Semua kejadian beruntun dari pagi hari di ceritakan olehnya, begitupun pak Midi ikut menimpali menyampaikan semua keluhan. Tolu tidak mengijinkan dia untuk berganti pakaian, meskipun aroma telur busuk menyengat. Dia di minta untuk tetap berdiri di depan pintu gerbang sampai Tolu keluar dari ruangan pribadinya di lantai atas. Menyadari ada arwah dukun bergentayangan di rumah. Tolu melakukan ritual ghaib pengusir arwah nenek Siria yang begitu ganas menuntut darah.
“Unang lola hami ompung boru. Mulakma dohot Menak au ndada marsangkap Manggosa mi molo ho ndada Marrat hajahaton tu jolma ndada marsala” ucap Tolu menyemburkan bekas nginang di atas sebutir telur.
Kejahatan dukun penjaga perbatasan perkampungan semasa hidup pernah mengirim teluh ke sepasang suami istri sihir penyakit busuk mengisap darah di manfaatkan untuk memberi makan penunggu jin dan makhluk peliharaannya. Seumur hidup belum ada yang menandingi kekuatan nenek Siria si sesepu dukun sakti, sampai Tolu hadir mengirim sihir itu kembali mengenai jantungnya.
“Terkutuklah kau Tolu!” suara menggema di ruangan.
“Tolu! Hentikan! Kau bisa membunuhnya!” teriak Ani menahan tangan Tolu.
__ADS_1
“Santet itu berpindah ke pak Midi kak. Bukan kah ada lelaki yang melemparkan telur busuk ke rumah ini sampai tanpa mengenainya?” ucap Tolu.
“Si Bangsal lah pelakunya non” ucap si mbok.
Karena tidak tahan melihat Nanang kesakitan, Ani berlari masuk ke dalam meninggalkan mereka. Angin bertiup kencang, langit menghitam sesekali terdengar bunyi Guntur walau hujan tidak kunjung datang. Teriakan terakhir Midi melepaskan serpihan asap hitam menggulung pergi dari rumah dan tubuhnya.
“Apakah pak Midi meninggal non? Hiks” isak tangis si mbok.
Tubuh kaku pria itu mengeluarkan lidah menjulur, wajah menghitam dan bola mata yang masih menyala. Si mbok sudah berkali-kali mengucapkan dua kalimat syahadat berharap mayat mata Midi bisa tertutup. Tapi tetap saja, bola matanya berkali-kali terbuka lebar bersama rahang mulut mengeluarkan hewan-hewan hitam kecil.
...----------------...
__ADS_1
🌿unang lola hami ompung boru Mulakma dohot Menak au ndada marsangkap Manggosa mi molo ho ndada Marrarat hajahaton tu jolma ndada marsala
🌿Jangan ganggu kami nenek. Kembalilah dengan tenang, aku tidak berniat menyakiti mu jika kau tidak menyebar kejahatan ke orang tidak bersalah.