
Togar menghela nafas, berpikir akan menyembunyikan rahasia sekecilpun. Mengigat istrinya memiliki kekuatan supernatural hal mistis. Dia menceritakan semua alur kejadian dari awal hingga akhir. Mengajak Tolu untuk keluar melihat letak dimana darah ular yang sudah menghilang itu berada pada bagian bodi mobil. Tapi Tolu menahan gerakan menarik tangannya, dia meminta Togar untuk tetap tinggal menikmati hidangan sampai habis.
“Tolu, sejujurnya aku sangat khawatir” ucap Togar.
“Simpan kekhawatiran mu. Kita harus tetap menghormati tamu“ bisik Tolu menyenggol lengannya.
Dirta merasakan kakinya terlilit erat, sangat sakit hingga wajahnya membiru. Semi terkejut menjatuhkan celemek dan beberapa gelas. Dia menjauh dari Dirta, sekilas bayangan pocong melompat di dekatnya.
“Arghh!” jeritnya.
“Jangan bergerak!” bentak Tolu.
Semi mendengarkan ucapannya, tapi Dirta tetap menggeliat menjerit kesakitan. Tolu memukul kedua kaki Dirta menyemburkan mantra. Sedetik rasa sakit itu reda, Dirta berhenti mengerang. Peperangan di udara dengan dukun Siria yang sudah tiada masih berlangsung menuntut balas. Dia tidak terima akan sosok Tolu yang bisa melawannya terlebih lagi setelah pengobatan ghaib yang di berikan Tolu kepada sepasang suami istri yang mengalami teluh dari kiriman dukun Siria telah sembuh.
Dia lupa akan usia dan kekuatan yang tidak semua bisa tertanding atau di lawan walau sudah bergelar sebagai dukun hebat penjaga perbatasan perkampungan. Penampakan arwah dukun Siria menghilang, dia menjerit di udara kepada Tolu dalam sumpahnya menuntut balas.
__ADS_1
“Apakah masih sakit?” tanya Tolu pada Dirta.
“Masih sedikit tapi tidak sesakit tadi.
"Terimakasih bu Tolu” ucap Dirta mengusap kakinya.
Dirta dan Semi memutuskan untuk berpamitan. Togar dan Semi membantu Dirta untuk naik terlebih dahulu memasuki mobil kemudian Semi ikut masuk di lepas dengan kepalan tangan pada Togar.
" Kini aku mengetahui siapa sebenarnya istri dari sahabat ku ini" gumam Dirta tidak henti melepaskan pandangan melihat Tolu.
Tolu meraih ponsel, dia mencoba menghubungi Ani namun nomornya tidak aktif. Rasa khawatir melanda, dia pergi ke ruang pribadinya menerbar mantra merasakan apakah Ani sedang di dalam bahaya. Seluruh kemampuan dan ilmu dia gunakan, dia tidak mau jika sampai terjadi sesuatu.
“Tolu, aku menunggu mu di kamar kita” ucap Togar dari balik pintu tapi Tolu tidak menjawab perkataanya.
Malam semakin larut, perasaan Tolu semakin gusar, di dalam ruang persemedian dia mengucapkan mantra tanpa berhenti.
__ADS_1
“Tolu!” suara Ani dari luar.
“Kakak? Apakah dia sudah pulang?” gumam Tolu.
Tolu keluar memeluk Ani, dia sangat lega melihat sang kakak masih dalam keadaan utuh. Tapi ada hal mengganjal di penglihatannya ketika melihat Ani berpakaian sedikit lebih mini dan seksi.
“Kakak, dari mana kau sampai pulang larut malam begini?” tanya Tolu.
“Aku baru dari acara perjamuan kantor. Aku pulang di antar oleh Sandro” kata Ani memasang senyuman lebar.
“Siapa Sandro, kakak katakan apakah kau sekarang dekat dengannya?” tanya Tolu menggenggam tangannya.
“Kenapa kalau aku dekat dengannya? Usia ku sudah tidak muda lagi, dia juga ingin menjalani hubungan lebih serius dengan ku” ucap Ani.
Tolu merasakan aura kegelapan melekat pada tubuh Sandro sebagai cucu dari dukun Siria. Hal ini sudah terbilang tidak termaksud kebetulan. Tapi, Ani tidak mudah menerima kata yang di anggap sepele karena dia yakin Sandro sangat mencintainya. Mata yang sudah terkena sihir itu sedikit berwarna hitam pekat
__ADS_1
“kakak ku sudah terkena pelet Sandro, aku harus segera menyadarkannya!” gumam Tolu.