
Banyak yang melihat penampakan sosok Tolu yang lain memakai baju kebaya dan kain songket tenun emas itu berada di berbagai tempat. Tolu memasang kodam, jin dan penunggu makhluk gaib menjaga kelangsungan pesta dan menahan serangan dari sihir dan teluh.
Pihak keluarga opung Parman hadir membawa tuppak dan hadiah di bungkus dengan tempat berukuran sangat besar. Kedua keluarga itu bersatu dalam kebahagiaan, resepsi foto bersama pun tidak di lewatkan. Meski Tolu tampak lesu kelelahan karena darah dan tenaganya terkuras habis, Togar melihat tangannya yang di balut perban. Dia meminta Tolu untuk mengikuti langkahnya masuk ke dalam kamar.
“Ada apa?” tanya Tolu.
“Sayang, kenapa tangan mu? sini biar aku lihat” ucap Togar.
Dia membuka perban di tangan Tolu, bekas luka baru yang sangat lebar menghitam mengeluarkan asap putih.
“Kenapa dengan luka mu sayang? Apa yang terjadi?” tanya Togar menyiram tangannya dengan segelas air.
Dia berlari mencari kotak P3K dan kotak obat. Perlahan memberikan obat betadine, membalut kembali luka. Togar meminta Tolu minum sekapsul obat pengering dan sebutir vitamin penambah darah. Pria itu meminta Tolu untuk tetap di kamar sampai dia kembali. Sedikit remang-remang penglihatan Tolu, menahan serangan ghaib lain dan memaksakan diri untuk tetap kuat menjadi sebuah batu pondasi penjaga secara ghaib.
Togar masuk ke dalam kamar membawa sepiring nasi di tangan. Ada ayam masih di rebus setengah matang, dia meminta si mbok mengambilkan untuknya dan sepotong paha ayam goreng dengan salad di pinggirannya.
“Ayo kita makan dulu. Dari pagi kita sangat sibuk sampai tidak menjaga kesehatan. Terlebih lagi anak ku yang di dalam perut jangan sampai kelaparan” ucap Togar.
Tolu mematuhi perkataannya, dia hanya mau menelan semua ayam rebus setengah matang itu dan mengunyah nasi yang di suap oleh Togar. Sangat sabar dia mengurus sang istri, selesai makan dia memijat pelan punggungnya yang terasa sangat kaku.
“Sudah cukup, kita harus segera menerima tamu,” ucap Tolu.
...----------------...
Sosok mahkluk menyerupai Tolu berdiri melewati pihak keluarga Sekar. Paman Bob menyapanya, raut senyum memperkenalkan diri mengulurkan tangan. Dia tidak menyadari siapa sosok yang di hadapan, makhluk itu membalas jabatan tangannya. Rasa dingin, kasar dan berlendir menatap tajam raut datar. Bob merasa merinding, buku kuduk berdiri di tambah wanita di hadapannya tidak membalas perkataannya.
“Kenalkan nama ku Bob, saya adalah paman Tohfa. Apakah anda kak Tolu?”
__ADS_1
“Hei paman, engkau di panggil opung tuh!” ucap Enjelika.
“Paman!” panggilnya lagi.
“Sini, ayo sapa tante mu” ajak Bob.
“Paman, tidak ada seorangpun disana.”
Ketika Bob menoleh melihat Tolu, wanita di hadapannya telah menghilang. Kejadian langka seumur hidup yang tidak penah dia alami membuat Bob seketika jatuh pingsan.
“Paman!” teriak Enjelika.
Keringat bercucuran di dahi, di seka menghabiskan sebungkus tisu di tangan. Tolu melihat pihak keluarga Tofha tampak panik hingga salah satu dari mereka menghampiri Togar.
“Sayang, aku tinggal sebentar. Paman Bob pingsan di dekat halaman belakang,” kata Togar.
Tolu tidak bisa mengikuti karena para tamu undangan semakin berdatangan berdesak-desakan. Langit senja di iringi kepakan sayap burung gagak ramai mengelilingi rumah. Orang yang memberanikan diri mengusir melempari batu.
“Ton, aku pulang saja. Aku tidak bisa menemani mu disini hingga larut malam. Nyali ku tidak kuat dan aku pasti akan mati ketakutan” ucap temannya.
“Yasudah, aku sarankan agar kau tidak ikut mengusir gagak itu” ucap Tono.
Dia mengabaikan perkataan Tono, seekor burung gagak yang hinggap di bangku sepeda motornya. Gerakan perlahan mengambil batu melempar hewan itu hingga mati.
“Kena kau!” ucapnya.
Bangkai hewan itu di tendang ke tengah jalan di gilas oleh roda kendaraan tamu yang lain. Darah hewan setengah setan itu membius setiap pengunjung mengakibatkan rasa mual karena bau anyir yang menyengat. Tiada henti masalah di pesta pernikahan Ani, masalah lain belum selesai kini di tambah masalah lain.
__ADS_1
Orang-orang menghentikan makanan mereka, ada yang langsung berpamitan pulang bahkan setelah sampai di depan pintu masuk hanya bersalaman secara terburu-buru. Tolu menggelengkan kepala, dia mengirim jin menyapu aroma anyir yang di ganti aroma melati. Tolu mencari dimana Bob, dia memberikan segelas air minum untuknya. Bob memasang wajah ketakutan melihatnya, dia menunjuk rahang mulut terbata.
“A_a_aku melihat mu tadi” ucapnya terbata.
“Paman tenangkan diri mu. Tante Tolu sepanjang dari di samping ku” kata Enjelika.
Musik bertabu, tari-tarian rakyat di persembahkan sebagai hiburan. Makanan fresh di sajikan secara berlimpah ruah, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB. Tohfa mengajak Ani masuk ke ruangan pengantin. Tangannya yang lembut meraih wanita itu dengan sangat sopan. Tempat tidur pengantin di hias sedemikian indah nan rupawan. Bagai sebuah tempat tidur bernuansa raja dan ratu keduanya melabuhkan rasa di malam pertama. Sebelumnya Tohfa melaksanakan sholat sunnah, ada hal yang mengganggu pikiran Ani akan perkataan suaminya itu sebelum tertidur.
“Nanti jika suatu saat mas pergi di jemput illahi. Mas sudah merasa sangat bahagia bisa menikahi mu dan membimbing mu ke jalan yang lurus. Mas akan menunggu mu disana dik.”
Ani hanya membalas dengan senyuman kecut di depan kaca hias sambil menyisir rambut. Dia telah melanggar janjinya.
“Maafkan aku,” gumam Ani.
...----------------...
Semalam suntuk keluarga, kerabat terdekat dan para pekerja berjaga. Ada yang menunggu pagi dengan membuat teh bandrek dan wedang jahe. Ada juga yang sibuk memainkan permainan play station dan kartu sebagai pengganti keheningan malam yang mencekam. Mereka banyak melihat penampakan makhluk halus, Orang yang ketakutan memilih mendekati kerumunan yang lebih ramai, Bob masih trauma meminta ijin untuk meninggalkan tempat itu.
Pekerja menjaga peralatan masak di halaman belakang, duduk di tenda tiba-tiba menjerit histeris. Di sampingnya terlihat makhluk kecil berwarna merah menempelkan tubuhnya yang dingin di pahanya.
“Lepas! Arggh!” teriak wanita itu.
Si mbok melotot melempar garam sebanyak tiga kali, dia memberikan sebotol air kepadanya. Air itu sengaja di titipkan oleh Tolu agar dia memberikan kepada siapapun yang mengalami gangguan makhluk halus.
“Cepat minum air ini,” ucap si mbok.
“Air apa ini mbok, aku tidak mau meminum air dari dukun Tolu,” bantahnya seolah mengetahui dari mana asal air itu.
__ADS_1
“Ya sudah kalau kau tidak mau. Jangan menjerit dan buat kebisingan di tengah malam begini.”
🌿Tumpak/tuppak: santunan, sumbangan dan sejenisnya diberikan pada saudara atau kerabat yang sedang mengalami sukacita maupun dukacita.