
“Tolu! Maafkan aku!” teriak Togar.
Memahami hati sang istri sangat dingin, cara yang salah meminta hal yang seharusnya di benamkan kata menunggu. Togar mengacak-ngacak rambut menyesali semua perbuatannya. Menjelang bulan suro, hal ghaib terutama ilmu hitam sangat kuat di alam dunia. Sinar rembulan menyengat memberi hawa keburukan bagi siapa saja yang melewati malamnya. Total bulan suro ini harus di lewati dalam satu bulan lamanya.
Hanya segelintir orang yang mengetahui malam bulan ganas tersebut. Kepercayaan para warga kampung setiap tahun menghadapi bulan tersebut dengan menyalakan obor dan penerangan sebanyak-banyaknya lalu berdiam diri tanpa keluar rumah dari petang hingga terbit fajar.
“Non, si mbok mau menyalakan obor di halaman. Hari ini si mbok kesorean pulang karena di pasar sedang menunggu antrian para pembeli untuk menghadapi bulan Suro” ucap mbok Heni.
“Sini biar aku temenin mbok” ucap Ani membantu membawakan kayu obor.
Tidak ada angin menggoyang daun, tapi suara patahan ranting tanpa henti berjatuhan di tanah. Si mbok menyalakan api tapi tidak hidup juga. Cahaya rembulan ghaib menyengat menyinari mereka, angin malam di bulan Suro mengenai tubuh mengakibatkan keburukan.
“Panas sekali, mbok kenapa apinya belum hidup juga?” kata Ani.
__ADS_1
“Tidak tau non, api tidak bisa menyala” jawab si mbok.
Kaki Ani tertarik tangan panjang dari arah semak belukar. Dia tertarik hingga hampir masuk ke dalamnya, tangan Ani memegang pohon menahan tubuh.
“Non Ani!” teriak si mbok menjatuhkan obor.
Si mbok menjerit meminta tolong, suara jeritan terdengar Togar sampai dia ikut membantu Ani yang mengulurkan tangan.
“Kakak, hentakkan tubuh mu!” ucap Togar menariknya.
Si mbok terhempas terbanting, kepala terbentur hingga tidak sadarkan diri. Togar panik menahan tangan Ani yang hampir terlepas, dia ikut terbanting ke pohon hampir saja jantungnya tertusuk dahan lancip.
“Tolu!” teriak Ani.
__ADS_1
Wanita itu tiba-tiba saja hadir di belakangnya. Tolu melotot menepuk punggung Ani, seketika kaki Ani terlepas dari tarikan makhluk halus. Menyadari ketiga bagian keluarganya terkena dampak cahaya malam bulan Suro, dia melempar merica dan melepehkan bekas nginang di telapak kaki mereka masing-masing.
“kakak, cepat masuk ke dalam rumah” kata Tolu.
Dia membantu Togar berdiri dan mengangkat si mbok ke dalam. Pintu rumah di tutup rapat, Tolu menguncinya dari luar. Meski Ani dan Togar sudah memanggilnya tetap saja Tolu menutup pintu dengan kekuatan hitamnya.
Dia menjalankan aksi ritual pembatas pagar rumah, seharusnya dia menyadari bulan ini adalah bulan penting bagi para penyelenggara imu hitam.
Dia memusatkan pikiran, mengerahkan seluruh makhluk peliharaan dan penjaga dirinya untuk memperkuat posisi pertahanan dari serangan segala arah. Melindungi diri sendiri dan keluarga, saat hampir selesai terlihat gumpalan bola api dari langit menyerang dirinya. Arwah dukun Siria hadir mengganggunya lagi, kekuatan besar yang terdapat di dalam dirinya di habiskan untuk membunuh Tolu. Setengah hangus tangan kiri Tolu yang terdapat bekas tanda api dari raja iblis gua di kaki bukit pertengahan hutan.
“Mati lah kau!” ucap arwah dukun Siria.
Tolu memejamkan mata, dia mengeluarkan gigi taringnya untuk menggigit pergelangan tangan kirinya sendiri hingga darah menetes ke tanah. Aroma darah si dukun sakti menyebar di udara, seakan Tolu memberikan santapan untuk di lahap oleh para makhluk penjaga dan peliharaannya. Darah penyihir sakti yang kuat di malam keramat. Tolu tersenyum menyeringai melihat kekuatan dukun Siria perlahan meredup.
__ADS_1
“Apakah kau masih mau melawan ku? Kau sudah menjadi abu. Aku lah yang terkuat karena nyawa ku masih di kandung badan, ada banyak kuku setan yang akan mencabik mu dan mengirim mu ke neraka. Malam ini adalah malam kesempurnaan untuk membinasakan mu! Hahaha” ucap Tolu dengan lantang.